Tampilkan postingan dengan label adventure. Tampilkan semua postingan

Riau Indah Wak! : PLTA Koto Panjang dan Air Terjun Arau Besar

Tahun lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2016, saya ikut kegiatan kenduri puisi yang dimotori oleh Komunitas Rumah Sunting. FYI, kegiatan Kenduri Puisi itu sendiri adalah kegiatan "Kenduri" yang dalam kamus KBBI artinya adalah perjamuan, dan Puisi. Jadi selama kegiatan ini kita benar-benar dijamu dengan berbagai macam puisi yang dibacakan oleh siapa saja yang menjadi pesertanya. Dari seniman dan budayawan yang sudah malang melintang di dunia per-puisi-an sampai ke peserta yang cuma manggut-manggut aja dengan puisi, seperti saya, yang nulis puisi gak bisa, apalagi bacanya. Eh, kalau ngebaca bisa deh, tapi baca datar. Huehehe!

Uniknya kegiatan kenduri puisi ini adalah akan selalu ada yang namanya wisata puisi. Katanya, salah satu cara puisi itu terlahir adalah dengan keindahan, makanya kita membutuhkan tempat-tempat yang indah untuk melahirkan puisi-puisi baru. Nah, meskipun saya gak bisa nulis dan baca puisi, tapi nekat aja ikut bergabung dengan para penyair-penyair hebat ini. Selain buat nambah ilmu dan teman, hal yang paling saya cari adalah tempat wisatanya. Muohoho!. Karena penasaran aja, di Riau ada apa sih?

Ehm, berbeda dengan tempat wisata di pulau Jawa yang hampir semua akses transportasi umumnya ada (kalau gak ada, masih ada "ojek" yang bisa nganterin, wkwkwkkk), di Riau transportasi umum seperti itu sulit ditemukan. Jadilah, salah satu untuk mengeksplorasi Riau ini dengan mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas seperti ini. Nah, kali ini Wisata Puisinya jatuh pada PLTA Koto Panjang dan Air Terjun Arau Besar.
ini bukan lukisan. Ini asli pemandangan danau PLTA Koto Panjang
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Danau PLTA Koto Panjang ini sebenarnya adalah waduk penampungan untuk sumber pembangkit listrik yang membentang di kecamatan XIII Koto Kampar. Untuk membangun waduk ini harus mengorbankan 8 desa di kecamatan XIII Koto Kampar, Riau dan dua desa di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, kabupaten 50 Kota Sumatera Barat dan sekitar 4.886 kepala keluarga "terusir" dari desa yang telah bertahun-tahun mereka tempati. Delapan desa di kecamatan Koto XIII itu adalah desa Pulau Gadang, Muara Mahat, Tanjung Alai, Batu Bersurat, Koto Tuo,  Pongkai, Gunung Bungsu sampai Muara Takus.

Naik bus
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Lokasi danau PLTA hanya berjarak 30 km dari ibukota Kabupaten Kampar, atau sekitar 84 km dari Pekanbaru. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat dengan estimasi lama perjalanan 2-3 jam perjalanan. Jalannya beraspal mulus dan berkelok-kelok. Berangkat dari Pekanbaru jam 9 pagi, akhirnya saya dan rombongan wisata puisi tiba di lokasi PLTA sekitar jam 11.00 siang. Oia, dari pemberhentian bis, kita harus treking dulu menyusuri hutan karet sekitar 15 menit menuju danau. Seru kok!
Treking melewati hutan karet menuju danau PLTA
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Danau PLTA Koto Panjang memiliki luas yang mencapai 12.400 ha dengan kedalaman 73.5-85.5 m dan tinggi bendungan 96 m. Ternyata, danau PLTA Koto Panjang mempunyai sejarah yang panjang dan rumit sejak tahun 1979 dimana PLN merencakanan pembangunan DAM skala kecil di Tanjung Pauh untuk memanfaatkan potensi sungai Batang Mahat, anak sungai Kampar Kanan.
Ngaso dulu, sebelum cus susur danau
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Sejak tahun 1979 itu, maka perusahaan konsultan Jepang TEPSCO (Tokyo Electric Power Service Co.Ltd) melakukan survey ini itu untuk pembangunan waduk. Ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama sampai pembangunan waduk ini di ACC oleh pemerintah kabupaten Kampar dan masyarakatnya. Tepatnya, Januari 1993 barulah pembangunan waduk ini benar-benar dimulai dan selesai pada Maret 1996. Setelah melakukan uji coba penggenangan, maka Jumat 28 Februari 1997 danau PLTA diresmikan sebagai sumber tenaga listrik.

Selain 10 desa dan 4.886 kepala keluarga yang menerima dampak "penggusuran" dari wilayahnya demi PLTA ini, banyak juga fauna dan flora yang dikorbankan. Fauna yang turut mendiami hutan-hutan disekitar danau harus rela untuk dipindahkan ke tempat penampungan satwa, dan hutan-hutan juga harus dengan rela ditebang, demi kelangsungan hidup yang "berkelanjutan", demi adanya listrik untuk kehidupan masyarakat di Riau. Positif dan negatif selalu bersisian. Dampak-dampak negatif yang ternyata secara tidak sengaja saya temukan dalam beberapa artikel ternyata besisian dengan dampak positif kepada masyarakat yang ada disekitarnya. Salah satunya adalah pertambakan dan wisata.

Danau PLTA Koto Panjang menjadi lokasi memancing favorit bagi wisatawan yang hobi memancing. Di danau ini masih banyak ikan-ikan yang dapat ditemukan, seperti Ikan Toman, Baung, Geso, Balido, Barau, Tapa, dan Patin. Dari beberapa artikel yang saya baca, ikan toman dan ikan patin masih menjadi ikan andalan di danau ini, maksudnya masih banyak ditemukan. Tidak jauh dari danau ini, ada sebuah kampung yang terkenal dengan ikan patinnya, terletak di desa Koto Mesjid. Di kampung ini, setiap rumah memiliki minimal satu kolam ikan patin. Makanya jadi disebut dengan kampung ikan patin. Sayang, wisata puisi kali ini belum sempat berkunjung ke kampung tersebut.

Di tengah-tengah danau akan banyak kita temui tambak-tambak ikan. Tambak ini sebagai mata pencarian masyarakat disekitar danau. Jadi kalau malam, di atas danau ini seolah-olah ada kota, karena adanya lampu-lampu kecil dari tambak.Di sekitar danau juga banyak saung-saung lepas yang bisa digunakan untuk melepas penat, rehat dan makan siang bersama teman-teman perjalanan sambil menikmati kolaborasi air danau yang hijau, langit biru, dan awan putih yang berarak riang.

FYI, warna hijau pada air danau PLTA ini berasal dari fitoplanktan yang termasuk dalam golongan alga hijau biru atay Cyanobacteria. Fitoplankton dapat hidup dan berkembang dalam air jika suhu air diatas 25 derajat Celcius. Nah, mengingat Riau termasuk ke golongan dataran rendah yang suhu lingkungannya cukup aduhai jika siang hari berkisar antara 27-30 derajat celcius, maka gak heran kalau air-air penampungan termasuk waduk PLTA ini berwarna hijau. Oia, warna hijau fitoplankton berasal dari klorofil yang aktif jika terkena sinar matahari. Penjelasan lebih lanjut tentang zat hijau daun dapat kamu baca disini : Keajaiban Daun.
Danau yang hijau berkolaborasi dengan birunya langit
dan putihnya awan yang riang berarak
Jepretan : @Kacamata Gober

So, sepanjang danau kita akan melihat warna hijau danau yang merona ditambah dengan hutan-hutan di sekitar danau, langit biru dan awan putih yang berarak. Pas! mantap banget dah!

Hal lain yang membuat danau ini begit memesona adalah sekelompok kayu-kayu mati di tengah-tengah danau. Penebangan hutan akibat relokasi desa menyisakan kayu-kayu mati yang membuat danau ini menjadi lebih eksotis dan indah. Terasa memiliki kekuatan "magis" ketika matahari menuju peraduannya. Seakan-akan sang kayu tidak memiliki kesempatan lagi untuk menemui sang matahari besok pagi. Begitu sendu. Dan pemandangan itu, wajib kamu nikmati ketika kamu mengunjungi danau, sekalipun hanya numpang lewat-singgah sabanta- untuk menikmatai bekal yang dibawa dari rumah.

Mampir ke danau, selain memancing bagi yang hobi mancing, kita juga dapat susur danau loh. Kita dapat membuktikan betapa luasnya danau PLTA yang tetap "tumbuh" bersama kayu-kayu mati itu. Kita dapat menyewa kapal yang dikelola oleh pemuda setempat. Masih cukup terjangakau. Pasarannya sekitar 1jutaan untuk pulang pergi yang dapat menampung antara 25-30 orang. Jadi, bayarnya dapat patungan sama teman-teman perjalanan agar harganya jadi lebih murah. Kalau dihitung-hitung, kisaran 30-40ribu per kepala, dan itu udah pulang pergi. Menyusri luasnya danau, mampir di Pulau Tonga, dan diantar sampai ke "pintu" masuk air terjun dengan lamap perjalanan sekitar 1-1.5jam, apalagi kata yang bisa keluar selain "itu kapal cukup murah loh!".
Menyusuri danau dengan kapal dan payung. Puanase pol!
It's amazing!
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Iya, setelah tiba di danau dan makan siang di gubuk-gubuk yang ada, saya dan tim melanjutkan perjalanan menyusuri danau dan ke air terjun, Arau besar. tepatnya jam 12.00 kami cus meninggalkan gubuk mampir ke Pulau Tonga untuk shalat dan menikmati semilir angin yang melambai-lambai. Hanya butuh lebih kurang 30-45 menit perjalanan menuju Pulau Tonga ini.
Baca puisi di pulau Tonga
Jepretan Bang @Kacamata Gober
Eh, sebentar. Ternyata di tengah danau itu ada Pulau Tonga. Pulau yang tercipta dari gundukan daratan yang tidak tenggelam ketika penggenangan danau. Ternyata oh ternyata, kita dapat menikmati malam di pulau itu!. yak, kita bisa kemping menikmati hotel sejuta bintang bersama teman-teman. So awesome gak sih?.
Gaya sikit lah kami ya di Pulau Tonga
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Jangan khawatir, namanya sih memang kemping, tapi fasilitas MCKnya ada kok. jadi kita gak perlu khawatir mau buang air kemana dan gimana mau mandi. Hehe! Terus disana juga tersedia warung yang menyediakan makanan kalau kelaparan pas malam hari.

Jam 13.30 siang, kami cus lagi dari Pulau Tonga menuju air terjun Arau Besar. Nah, petualangan bak bocah petualang dimulai dari sini!

Menempuh 45 menit perjalanan menggunakan kapal, dengan kondisi danau hijau dan semakin lama jalurnya semakin sempit, artinya kayu-kayu matinya semakin banyak. Kalau, gak hati-hati kapal bisa kandas kepentok sama kayu mati di dalam danau. Disini juga nih, mata harus jeli, gak boleh asal-asalan menurunkan tangan atau kaki ke dalam danau. Karena itu sih, taku kepentok sama kayu-kayu mati yang tidak terlihat padahal dekat itu.
Ini leadernya sedang manggil kapal. So beautiful!
Jepretan Bang @Kacamata Gober
Semakin mendekati lokasi "pintu" air terjun, danau semakin dangkal. Tadaa! hal yang memandakan kita sudah samapi di "pintu" air terjun adalah ketika kapal sudah tidak bisa berlayar lagi. hehe! Artinya kita harus berjalan kaki menyusuri sungai menuju air terjun. Sungai ini adalah limpahan dari air terjun Arau Besar yang menuju danau. Berbeda dengan danau yang warna hijau, air di sungai ini justru bening, jernih, bersih yang berhasil buat saya mupeng ingin nyemplung. Loh kok bisa? Iya, karena airnya mengalir jadi fitoplanktonnya gak berkembang. Kira-kira begitulah alasannya.
Menyusuri sungai yang bening
Jepretan : bang @Kacamata Gober
Kira-kira satu jam berjalan kaki menyusuri sungai yang dimanjakan dengan ilalang-ilalang yang cocok banget buat foto-foto selfi, akhirnya sampai juga di air terjuan Arau Besar. Yattttaa! lelah perjalanan panjang terbayar sudah dengan pemandangan air terjun yang tinggi dan kolam ditengahnya yang manggil-mangil buat berenang. FYI, ketinggian air terjun Arau Besar ternyata mencapai 15-20 m. Tepatnya berapa, saya gak ngerti karena informasi yang saya peroleh dari berbagai sumber dan menghasilkan angka yang berbeda. Huahaha! jadi kira-kira segitulah tingginya.
Yatta! Ini setetes surga yang terjatuh di bumi lancang kuning
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Ternyata, air terjun Arau Besar ini punya tiga tingkatan. Tingat pertama atau yang paling bawah adalah air terjun yang paling tinggi yang mencapai 15-20 m itu, nah tingkat dua ketinggiannya cuma 6 m, dan tingkat tiga mencapai 4 m. Dan yang bisa dinikmati hanya air terjun yang ditingkat pertama. Konon katanya sih, yang tingkat dua dan tiga juga bisa dinikmati, cuma jalurnya curam dan licin. Resikonya terlalu tinggi dan butuh persiapan yang maksimal jika benar-benar ingin mencapai tingkat air terjun itu,
Air Terjun Arau Besar
Jepretan : Bang @ Kacamata Gober
Puas menikmati keindahan dan sapaan air terjun, saya dan kawan-kawan wisata puisi kembali menuju kapal yang akan membawa kami pulang ke kota.
Matahari di balik Pulau Tonga
Jepretan : Bang @Kacamata Gober
Selama perjalanan pulang, cuaca mulai mendung. Tapi, siluet matahari masih mencoba menampakkan diri pada kami, sebagai ucapan perpisahan. Dan itu adalah pemandangan yang cihuy!
Mendung dengan senja yang berusaha menyapa
Jepretan : @Kacamata Gober
Hari mulai gelap ketika kami sampai di gubuk. Penerangan disini hanya mengandalkan bulan dan bintang. Jadi, kami langsung cus kembali ke tempat pemberhentian bus. Dan bus mulai bergerak tepat pukul 19.30 langsung pulang ke Pekanbaru.

Seperti biasanya, perjalanan pulang akan menjadi lebih sepi dari perjalanan pergi. Yak! semua penumpang akan terlelap tidur menikmati perjalanan malam yang singkat. Tinggallah pak supir seorang diri yang berusaha membawa bus melaju membelah jalan malam yang berliku-liku menuju kota. Pukul 22.00 akhirnya sampai di titik bertemu awal dan say goodbye daghdagh dengan teman-teman seperjalanan.

Bagi saya, perjalanan selalu menyisakan cerita. Begitu juga dengan wisata puisi ini.
Ternyata, Riau Indah Wak!

Pekanbaru,
4 Januari 2017

Agustusan di Pantai

16 Agustus 2015

Setelah tepar semaleman kerena perjalanan panjang kemarin menuju taman top markotop, akhirnya pagi ini satu per satu mata mulai terjaga. Sempat khawatir juga sih, apakah perjalanan ini akan berakhir disini lalu kembali ke Jakarta atau akan ada cerita lanjutannya. yuhuuu!!. setelah makan semangkok bubur kacang hijau yang dibuatin oleh emaknya si teman yang punya lapak, energi kembali berhimpun untuk melanjutkan perjalanan, ke pantai!! yeye..lala..yeye..lala.. *joget a la anak-anak abege yang sering mucul di TV*

Dari beberapa list pantai yang ada di kota Garut dan setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih pantai Karang Paranje di daerah Cibalong, 8 km dari Pamengpeuk ke arah Sancang atau sejauh 98.2 km dari kota Garut. ya..kira-kira 4 jam perjalanan naik kendaraan umum. Jauh ya? begitulah, ada harga untuk suatu keindahan. wkwkwkwkkk..

Setelah mandi cantik dan energi terisi full, kita memulai perjalanan tepat jam 8 pagi. yosh! angkat  ransel langkahkan kaki.

Dari Garut, kita naik elf menuju Pamengpeuk, kemudian lanjut ke daerah sancang menuju Karang Paranje. Dan bersyukurlah kalau jalan-jalan itu rombongan, jadi bapak supir akan bersedia mengantarkanmu sampai ke tujuan. Tapi, kita kena palak 50ribu. wkwkwkwkkk... entah dengan alasan apa, secara si Bapak ngomong pake bahasa sunda, sedangkan si kawan yang orang Garut sedang terlelap, dan saya cuma bisa angguk geleng-geleng, akhirnya 50ribu melayang ke kantong si Bapak. ah, Pak, semoga memang rejekimu Pak.

Gondok karena kena palak,  terbayar sudah ketika melihat deburan ombak yang memanggil-manggil minta diceburin segera. Tapi itu tidak mungkin. Tidaaaakkk..!! ini masih jam 1-an siang komandan. Matahari sedang bahagia-bahagianya berada pas di atas kepala. Jadi, lebih baik nge-mie ayam dulu di warung sambil menikmati belaian angin laut yang menyuruh kita untuk segera tertidur. haha..

Puas ngisi perut, kami beli cemilan dan air untuk persiapan di pantai. yoi bro, malam ini kami kemping di pantai. dan pantai ini hanya milik kami, cuma milik 6 orang bocah!. karena gak ada tanda-tanda orang yang mau kemping di pantai. sebenarnya, di jejeran sana ada beberapa tempat penginapan, tapi penginapan di pantai dengan sejuta bintang lebih menggiyurkan. hehe.. yuk cus, main air.
Berdiri tegap di karang
 Karang Paranje. Pantai yang masih jarang dikunjungi oleh para wisatawan. belum tersentuh bangunan, hanya ada rumah-rumah warga yang menyediakan warung dan penginapan. Pantai yang bisa melihat sunrise dan sunset secara jelas.

Karang Paranje memiliki cerita yang unik. Konon, pantai ini adalah tempat persembunyian Putri Cantik yang hobi mengadu ayam. Raja membuat sayembara untuk menjadi pendamping Putri, dan dimenangkan oleh ksatria yang buruk rupa. Putri kabur ke pantai karang ini. Suatu pagi, ketika semua pengawal mencari Putri terdengarlah suara kokokan ayam, dan akhirnya Putri ditemukan. Sejak dari itu, pantai ini dikenal dengan Karang Paranje, yang artinya pantai karang yang ada kandang ayam. Kandang ayam dalam bahasa sunda dikenal dengan Paranje.

Membuat secangkir kopi di pantai itu merupakan suatu perjuangan. Angin kencang yang bertiup mengajak api untuk menari bersama sehingga si api lupa akan tugasnya untuk memasak air. Deburan ombak yang menjadi backsound dari konser sore saat itu menjadi lebih perfect ketika matahari berjalan menuju singgsananya. Awan seolah-olah tidak mau membiarkan segerombolan anak manusia ini menikmati mataharinya sendiri, lalu ia menutupinya. Mendung!

Waktu berlalu, bintang mulai muncul satu-satu di kejauhan. ayooo...buat tenda! ehm, pantai Karang Paranje ini penuh dengan karang di sepanjang pantai. Niat awal yang ingin mendirikan tenda di belakang karang pupus sudah. Air laut seakan tidak mau kami menikmati hangatnya pelukan karang. iyes, air laut mulai naik ke permukaan pantai. Memukul mundur segerombolan anak manusia itu. wkwkwkwkwkk!

Memasang tenda di tepi pantai itu juga suatu perjuangan. Hal paling dasar yang perlu diperhatikan adalah pohon!. iyak, butuh pohon atau apa saja yang dapat menghambat terjangan angin ketika ingin mendirikan tenda agar tenda gak roboh sebelum berdiri. Sayangnya, di pantai karang paranje ini miskin pohon, yang ada cuma segerombolan pandan duri yang biasanya digunakan untuk anyaman. Begitulah, pantai ini seperti gurun pasir. Angin bertiup semakin kencang, gelap mulai menyelimuti, tenda belum berdiri, lapar mulai merajai perut. apalagi, tenda yang aneh bin ajaib. secara itu tenda pinjaman yang belum pernah disentuh dan dilihat, menambah daya perjuangan agar bisa lebih sabar untuk memasang tenda agar berdiri dengan benar dan kokoh. cek cok mulai terjadi dalam pemasangan tenda. Beberapa orang mundur memilih untuk memasak. wkwkwkwkkwkkk!

Setelah terjadi perdebatan sengit di kubu pendirian tenda, akhirnya berdiri juga. *berikan applause buat yang masang tenda*. haha! dan vioilaaa! makan malam pun selesai. selamat menikmati makan malam dibawah langit mendung. Bintang masih enggan keluar menampaki diri lebih jelas.

Malam yang panjang kami habisi dengan berbagi cerita.  Dan cerita yang paling menarik gak ada lagi selain soal cinta. huahaha! Ah, cinta memang begitu. Cinta bisa membuat kami abai bahwa malam ini sudah sangat larut. Dan dua tenda yang berdiri dengan susah payah, diabaikan. Iya! ternyata awan mendung pergi. Bintang gemintang mulai memenuhi langit. Kami memilih tidur di hotel sejuta bintang beralaskan matras, berselimutkan angin. Star geezing! dan duar..duar..duar....!!!! bunyi bom bertubi-tubi memecah keributan kami yang sumringah menghitung bintang jatuh. kami diam tak berkutik. kami hanya memikirkan orang tersayang di rumah. dan apa yang akan terjadi. doorr...doorrr...doooorrrr...!! tembakan senjata api semakin dekat. kami hanya bisa berpegang tangan saling menguatkan, bahwa kami akan baik-baik saja. apakah ini pemberontakan? Mengingat malam ini adalah malam 17 Agustus. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Diam. Doorrr...doorr...doorr..! tembakan itu terasa dibalik daun pandan itu. apakah kami? dan tidak ada yang tau apa yang terjadi malam itu. Kami tertidur, suara tembakan berhenti.

17 Agustus 2015

Fajar di hari kemerdekaan menyapa. Ternyata keadaan lingkungan sekitar tenda masih aman. lalu? kejadian apa tadi malam? apakah kami hanya berhalusinasi? atau teguran karena kami yang lupa akan sikap yang terlalu tidak sopan, tengah malam masih berhaha hihi. Masih misteri.

Suara ombak adalah musik paling merdu saat itu. Lambaian kain merah putih di tiang tertinggi seolah mengatakan "MERDEKA!. Segera temukan arti kemerdekaan sesungguhnya!".

Saya tercenung. Merdeka? apakah merdeka hanya seremonial basa basi? mengibarkan bendera di tempat tertinggi, di tempat-tempat indah dan hanya khidmat di hari itu. Selanjutnya lupa. Merdeka? apa itu?

Dengan pasti, matahari benar-benar menyibak gelap. Memberikan harapan bahwa ini hari baru. Kami semua terbangun, dan baik-baik saja. Setelah ditelusuri, tembakan-tembakan tadi malam adalah latihan para tentara di desa sebelah. seketika, kami tertawa terbahak-bahak dengan pikiran lebay bahwa malam itu adalah malam pemberontakan. Wkwkwkwkkk!

Pernah melihat anak kecil yang selalu tertawa riang? Iya, karena bagi mereka bahagia itu sederhana. Sesederhana kejar-kejaran di pantai atau main lempar pasir, atau berteriak sekencang-kencangnya menantang angin. kami ingin bahagia. jadi kami kembali menjadi anak kecil itu. berlarian, lempar pasir dan berteriak. tidak peduli dengan mata-mata yang melihat agak aneh dengan segerombolan anak manusia dewasa berlaku seperti anak-anak. huehehe!

17 Agustus tahun 45
itulah hari kemerdekaan kita!
Matahari semakin gagah di langit. Suara habis karena kalah melawan angin dan ombak. Baju kotor karena pasir. Besok harus kembali bekerja. Mari packing!. Kami harus melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Ibukota.
biru laut dan langit, putih bersih buih ombak
Tidak banyak yang kami lakukan sesampai di Garut, rumah seorang teman selain mandi dan merepacking barang bawaan. malam ini kami harus pulang ke jakarta. Jam 7 malam, dengan diantar orangtua si kawan, kami sampai di terminal Guntur. dan cuuusss..! bis membawa kami ke alam mimpi. Dan tiba-tiba sudah sampai di Jakarta. Di Jakarta, kami berpisah, karena besok kami memiliki kegiatan masing-masing di tempat yang berbeda. Saya? kembali ke Bogor.

Selalu ada cerita dan cinta di setiap perjalanan.

"Everyday is Holiday" adalah mantra yang membentuk suatu ikatan bersama teman-teman baru.

*Ceritanya selesai.

Bogor,
10 September 2015

Bloom and Grow Forever!

Lihatlah bunga disana bersemi
Mekar, meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari, badai menghampiri
Kau cari kemana, dia masih disana
Walau tak semua tanya datang beserta jawaban
Dan tak semua harapan terpenuhi
Ketika bicara sesulit diam,
Utarakan, utarakan, utarakan!
[Banda Neira-Utarakan]

Penggalan lirik ini mengingatkan gue pada serumpun bunga yang tumbuh di atas ketinggian sana. Meski hujan badai, dia masih disana. Tetap tumbuh dan memberikan keindahan. Bunga apalagi selain bunga abadi, Edelweis!
Edelweis di tegal alun, papandayan 2014
Eh, udah ada belum ya yang meneliti tentang budidaya bunga ini, secara bunga edelweis ini sudah masuk kategori terancam dalam data Red List IUCN (IUCN RedList, 2008). *IUCN [International Union for Conservation of Nature] atau biasa dikenal World Conservation Union merupakan lembaga konservasi sumber daya alam dunia yang berdidiri pada tahun 1948 dan berpusat di Switzerland.

Ya iyalah bunga ini masuk dalam kategori terancam, pada tahun 1990 aja udah tercatat 636 tangkai dicuri setiap tahun di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Pada tahun 2012 dilakukan pengukuran ulang oleh Pengendali Ekosistem Hutan TNGP, ternyata terjadi degradasi luas areal edelweis di alun-alun kencana yang tadinya 51 ha menjadi 30 ha.

Penasaran gak sih siapa yang pertama kali menemukan bunga edelweis. Kenapa edelweis itu disebut bunga abadi? Emang bedanya dengan bunga-bunga yang lain apa? Bisa gak ya edelweis ini di tanam di halaman rumah? Kan kalau bisa, gak perlu harus mendaki gunung lewati lembah dulu biar bisa menikmati mekarnya si bunga, tinggal nongkrong aja di halaman rumah sambil minum segelas kopi susu dan ngemil pisang goreng. Huehehe!

Setelah berguru pada om wiki dan membaca beberapa jurnal orang via om gugel, gue menemukan fakta bahwa di Indonesia orang yang pertama kali menemukan bunga edelweis adalah  Prof. Caspar Georg Karl Reindwart pada tahun 1819 di tebing gunung Gede. Tapi edelweis yang ditemukan itu berbeda dengan edelweis di pegunungan alpen dan wilayah Eropa lainnya. Kok bisa? Ternyata eh ternyata memang ada dua jenis edelweiss yang terkenal yaitu Leontopodium alpin dan Anaphalis javanica. Kedua bunga itu berasal dari keluarga yang sama yaitu Asteraceae tapi genus yang berbeda. Jadi meskipun sama-sama Edelweis, tapi penampakannya berbeda. Nah, edelweis yang sering ditemui di gunung-gunung Indonesia itu ternyata jenis Anaphalis javanica yang berada di ketinggian 2000-3000 mdpl, sedangkan Leontopodium alpin merupakan edelweis yang berjejer rapi di pegunungan Alpen  (Eropa), Asia (Himalaya, Jepang dan China) yadan Amerika Latin yang tingginya lebih dari 3400 mdpl. Kata Edelweis sendiri berasal dari bahasa Jerman, Edel dan Weis. Edel berarti mulia sedangkan Weis berarti putih.

Edelweis sering dibilang sebagai bunga abadi atau yang lebih kece dikit everlasting flower karena konon ceritanya bisa bertahan sampai 100 tahun dalam keadaan kering dan bentuknya gak berubah. Ingat! dalam keadaan kering, bukan dalam keadaan segar.  Berbeda dengan bunga-bunga lain yang juga bisa dikeringkan tetapi masih bisa rontok dalam hitungan bulan atau bentuknya udah jadi dua dimensi.  Itu loh, seni oshibana dari Jepang kan pake bunga kering juga yang dibentuk dalam dua dimensi dan bisa bertahan lebih lama juga. Tau gak, fakta lain yang guet temukan ternyata bunga yang bisa bertahan lama itu cuma kelopaknya aja karena serbuk sari yang berwarna kuning yang berada ditengah-tengah bunga akan rontok tiga hari setelah mekar. Loh kok bisa kelopaknya bisa gak rontok gitu? Usut punya usut, edelweis ini punya hormon etilen yang lebih banyak dari bunga lainnya yang dapat menghambat hormon lain untuk mengugurkan bunga. Edelweis mulai berbunga antara April dan Agustus. Makanya bulan Agustus itu menjadi bulan yang sakral bagi para pendaki, selain untuk mengibarkan kain berwarna merah putih juga sebagai moment untuk dapat menikmati harumnya wangi bunga edelweis yang sedang mekar.

Kenapa harus edelweis yang menjadi primadona? Padahal masih banyak tanaman-tanaman yang gak kalah kece di deretan gunung Indonesia. Kenapa orang-orang melambangkan keabadian cinta pake bunga ini. Kenapa? hayo, kenapa? *hidup gue penuh dengan pertanyaan kenapa ye? wkwkwwkwkkkk!

Ternyata karena edelweis memang bunga yang spesial. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor di tanah vulkanik muda di daerah pegunungan yang tandus, banyak batu, miskin unsur hara, suhu yang ekstrim, dengan kondisi lingkungan yang banyak sulfur, angin badai bahkan ketika hujan es sekalipun edelweis masih bisa bertahan untuk hidup memberikan bunga-bunga yang ciamik yang suka dipetikin sembarangan oleh para yang suka ngaku pecinta alam. Canggih gak tuh, edelweis masih bisa tumbuh di lingkungan yang ekstrim dan mencekam gitu. Menurut Brundrett dan teman-temannya (1996) edelweis ini tumbuh dengan cara bersimbiosis mutualisme dengan mikoriza. Mikoriza itu sejenis jamur non patogen yang berfungsi untuk mengikat nitrogen dan fosfor yang berguna sebagai agen pupuk biologi yang dapat memperbaiki struktur tanah. Mikoriza mendapatkan makanan dari edelweis dan edelweis mendapatkan nutrisi dan hara dari mikoriza. Seperti hubungan aku dan kamu. iya kamu! *kamu yang masih entah dimana. huahahaha!

Edelweis tidak hidup sendiri tapi berumpun, tingginya bisa mencapai 4 m dan punya banyak cabang. Kata Van Leeuwen (1993) batang edelweis sering ditumbuhi lumut karena sifat batang edelweis yang berongga dan ditutupi kulit tebal yang membuat batangnya sedikit lembab. Tujuannya memang untuk menyimpan air pada batang karena kondisi lingkungan yang ekstrim yang cuma mengandalkan air hujan dan kabut.
Alun-alun surya kencana, 2013
Tidak hanya batang yang beradaptasi dengan keadaan ekstrim itu, tapi daun-daun edelweis juga melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan tumbuhnya. Daun edelweis diselimuti oleh bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan dan berbentuk lancip hampir mirip jarum. Fungsi bulu-bulu tersebut untuk menangkap cahaya matahari secara optimal sehingga dapat digunakan untuk kegiatan fotosintesis. Hal ini karena di puncak gunung tersebut sering datang kabut tipis yang turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin *eh, kenapa jadi berpuisi? Plaaakkkk!
Rumpunan edelweis di lembah mandalawangi 2014
Bentuk daun yang lancip berfungsi untuk mengurangi transpirasi atau penguapan air dari daun yang berlebihan sehingga kebutuhan air tetap dapat dipenuhi meskipun ketersediaannya terbatas. Satu lagi, daun yang imut-imut gitu juga berfungsi untuk menahan terjangan angin badai yang sering menyapa gunung sehingga edelweis masih bisa berdiri dengan kokoh dan tak tergoyahkan. Warna daun edelweis hijau muda keabu-abuan dan akan menjadi lebih gelap seiring bertambahnya umur tumbuhan karena adanya degradasi sel mesofil akibat terkena paparan sinar matahari yang lebih lama.

Kenapa edelweis termasuk kedalam kategori tanaman langka yang masuk dalam daftar terancam dan harus di lindungi? Padahal di gunung Gede aja luas lahan yang penuh dengan edelweis ini mencapai 51 ha dan tinggal 30 ha di tahun 2012. 30 ha loh! itu bukan luas yang sedikit untuk kategori kebun bunga. dan itu juga baru satu gunung. Indonesia kan punya banyak gunung. Jadi kenapa edelweis masih temasuk tanaman langka?

Luasnya sih memang masih cukup luas, tapi kemampuannya untuk berbunga dan tumbuh itu loh yang rada lama. Dari data penelitian Van Leeuwen ternyata edelweis membutuhkan waktu paling cepat 5 tahun untuk dapat berbunga dan untuk mencapai ketinggian 20 cm edelweis membutuhkan waktu tidak kurang dari 13 tahun. Edelweis berkembang biak melalui biji yang jatuh dibawa angin. Jika lokasinya pas dengan kebutuhan si biji maka tumbuhan edelweis akan tumbuh, dan 5 tahun kemudian baru akan berbunga dengan ketinggian yang gak bakal lebih dari 20 cm. Biji itu gak bisa tumbuh kalau tempatnya banyak naungan pohon-pohon. Nah, bayangkan gimana ceritanya kalau bunga-bunga itu dipetikin dan dibawa pulang? Ya biji gak bakal terbentuk dong! kan bunganya dibawa turun. Gak ada biji jadi jangan harap edelweis bakal terus ada. Emang sih, sekarang sudah mulai ada yang melakukan penelitian melalui stek batang edelweis. dan hasilnya tetap aja belum ketemu yang pas. Daya tumbuh dari stek batang itu gak lebih dari 40% dalam waktu 16 minggu! Itu baru sampai berakar dan belum stabil. Jadi memang gak ada cara sih untuk melindungi edelweis selain terus mencari cara budidaya yang pas agar edelweis bisa tumbuh dengan baik dan menjaga edelweis yang sudah ada.

Percaya atau gak, edelweis adalah contoh tumbuhan yang baik. Karena edelweis memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem. Edelweis merupakan tanaman pionir untuk suksesi lahan. Ingat kan ya, kalau edelweis ini adalah tumbuhan yang dapat tumbuh di kondisi unsur hara yang miskin banget. Nah, edelweis ini sebagai tumbuhan pembuka di lahan-lahan yang ekstrim itu. Maksudnya setelah edelweis tumbuh, maka tumbuhan lain juga dapat tumbuh karena unsur hara yang sudah tersedia karena kerjasama edelweis dan mikoriza, dan selanjutnya tumbuhan edelweis akan hilang karena perkembangannya terhambat. Edelweis suka dengan paparan matahari yang full, jadi kalau udah banyak pohon, maka edelweis akan mati. Selain sebagai suksesi, edelweis juga sangat membantu dalm mencegah erosi di lereng-lereng gunung karena sifat tanamannya yang perdu sehingga dapat membatu menutupi tanah. Makanya edelweis itu cuma bisa ditemui di tempat-tempat yang udah gak ada tumbuhan lagi selain edelweis, seperti di tebing-tebing jurang atau di hamparan luas sebelum puncak-puncak gunung. FYI, bunga edelweis ini menjadi lambang kesucian di Switzerland karena latar belakangnya.


Jadi, keliatan kan ya kenapa edelweis itu begitu spesial, seperti kamu, *eh, laper!.

Iya! Edelweis itu mengajarkan banyak arti hidup. Kesederhanaan! Edelweis hidup dengan sederhana tanpa harus mengeluh ini dan itu. Edelweis itu gak manja. Edelweis hidup dengan menerima dan terus tumbuh memberikan keindahan. Edelweis  gak pernah ambil pusing dan mengutuk takdir yang menempatkannya pada kondisi yang parah gak menduknung gitu, miskin unsur hara, berbatu, dingin, hujan badai, atau panas terik sekalipun, yang gue tau edelweis tetap disana berbunga. Edelweis gak pernah marah dengan tangan-tangan jail yang ngakunya cinta tapi malah merusak. Edelweis masih tetap kalem, dan lagi-lagi masih terus berbunga.  Edelweis mengajarkan gue untuk melakukan usaha yang sangat keras dan terus beradaptasi untuk dapat bertahan hidup meskipun lingkungan tumbuhnya tidak mendukung. Ah, edelweis! gue malu sebagai manusia hidup kok manja banget. Padahal kalau dipikir-pikir lingkungan hidup gue gak separah lingkungan edelweis. Kalau edelweis bisa ngomong, mungkin edelweis bakal bilang ini kali ya, "Bloom and Grow Forever!".

Cuma itu kok.
"Bloom and Grow Forever!"

Sederhanakan?

Pekanbaru,
31 Agustus 2016


*catatan referensi:
1. Aliadi, A., et al., 1990. Kemungkinan penangkaran edelweis (Anaphalis javanica) dengan stek batang. Media Konservasi. 3(1):37
2. IUCN Red List. 2008
3. Van Leeuwen W.M.D., 1993. Biologyof plants and animals occuring in the higher parts of mount Pangrango-Gede in West Java. Uitgave van de N.V. Noord Hollandsche. Amsterdam
4. Brundrett, M., Bougher, N., Dell, B., Grove, T. and Malajczuk, N., 1996, Working with Mycorrhizas in Forestry and Agriculture. ACIAR, Canberra.

Awkward Moment Di Papandayan

Rindu. yes, gue rindu dengan dunia ngegembel di jalanan. apalagi jalanan yang penuh dengan akar-akar pohon dan becek, nanjak lagi..!! gue juga rindu aroma daun dan tanah yang basah di tengah hutan. terserah penilaian orang, yang jelas gua baper (bawaan laper). wkwkwkwkkk.. beruntunglah gue punya seuprit arsip tentang perjalanan-perjalanan gokil. dan gue mau nulis lagi sambil nyari inspirasi buat tulisan yang lain. huehehe.. mumpung wifi lagi bersahabat. muihihihi...

dan setelah gue bongkar-bongkar blog, ternyata cerita perjalanan itu gak sempet tertulis. jadi, yasudah. gue tulis aja sekarang. mumpung otak gue masih dipenuhi sama cerita awkward moment itu. wkwkwkwkkkk...

Awkward moment itu terjadi pas main ke papandayan pertama kali bulan September 2014. jadi ceritanya gini, gue lagi keblinger sama deadline tugas akhir dan segudang data yang mau diolah. ya, itung-itung cari udara seger ke hutan, maka dengan kekuatan bulan dan bintang, nekatlah gue ngajak si bontot dan seorang teman, sebut saja Iyut untuk berkunjung ke papandayan.

Dengan persiapan maksimal (iyelah, kan kite gak mau cari masalah. jalan bertiga tapi gak bisa apa-apa. jadi malam sebelum berangkat, kita training kilat buat baca jalur dan tracknya dari blog-blog orang. masalah tenda, kompor, gas dan peralatan yang lain. ehm, udah di training tahun 2013 lalu pas ngemping di pantai. bisa baca disini, kalau ente-ente penasaran gimana kite trainig kilat buat hidup di hutan) berjalanlah 3 srikandi itu (gue, si bontot, dan Iyut) menyusuri tanjakan-tanjakan penuh cinta itu, berharap semua akan baik-baik saja. berdasarkan blog-blog para backpacker, estimasi perjalanan dari pos awal sampai ke Pondok Salada-tempat ngecamp terakhir itu sekitar 3-4 jam. tapi, eng ing ong, entah dengan kekuatan apa, gue dan 2 srikandi itu bisa menyelesaikan perjalanan hanya dalam waktu 1.5 jam perjalanan. Berangkat jam 6 pagi, nyampe jam setengah 8 pagi. dengan wajah cengok gak percaya, kita bengong. are you sure, This is Pondok Salada? kita gak nyasar kan? wkwkwkwkkk...
Nyampe di Pondok Salada
sampai di Pondok Salada yang masih sepi sepagi itu, kita masih bengong gak percaya. takut nyasar ke tempat lain. kenapa ada WC umum dan ada warmindo-warung makan indomie disini? wkwkwkwkkk....  he-em. papandayan ternyata memang gunung wisata yang relatif lebih mudah dicapai oleh pendaki awam. karena track yang tidak terlalu terjal, dan mulai banyak penjaja makanan. huehehe..
Taraannggg...!! mendirikan tenda selesai

bingung mau ngapain. nyelfie sudah..!!
nyarap-nyarap
 Setelah setengah jam cengok mengenali lingkungan, dan meyakinkan diri bahwa itu memang Pondok Salada. akhirnya kita bangun tenda. set..set..set..!! taraaaanggg..!! tenda jadi gak lebih dari setngah jam. trus kita ngapain? yuklah, kita selfie puas. mumpung sepi. jeprat-jepret..!! sampai mabook..!!
yuk mari, nyelfie terus.
matahari juga mau ikut wefie
udah bingung, mau gaya gimana lagi
anak kota ketemu pohon
liat kelakuan dua srikandi ini
ckckckckkk...
lanjut teruss..
itu tenda kita
entahlah..*garuk-garuk kepala*
just me and you, in here..!!
gayanya gimana lagi dongs?
terbang sajalah..!
Capek nih ye, mulai ngerumpi

hampir setengah jam, ambil posisi, ganti gaya, ini dan itu. ternyata capek juga. dan liat jam, ha???? baru jam 9 pagi? trus ngapain lagi? markidur...!!!!! masuk tenda, dan mari kita tidur.  selamat pagi..!!!
          
Di luar mulai berisik. kirain udah siang. ternyata? masih jam 11 kawan-kawan. lalu? kita goyang hula-hula, untuk menghalau awkward moment ini. haha...
tenda-tenda lain mulai tumbuh
Habis makan siang, dan shalat di Mushalla *yoi mamen, gunung papandayan, udah ada Mushallanya*,  masih jam 1 siang. udah jungkir balik, tapi masih bingung mau ngapain. jadi, jadi? jalan-jalan yuk.

Siapa sangka, "jalan-jalan" itu menghantarkan kita ke taman paling indah. Tegal Alun...!! yang rencananya, besok pagi baru mau kita jelajahi. lagi-algi awkward moment, garuk-garuk kepala. lagi-lagi cuma 1.5 jam perjalanan kita sampai di Tegal Alun. dan bahagia itu, ketika Tegal Alun hanya milikmu. yuhuuu...!! gak ada manusia disana. cuma 3 orang srikandi yang berniat jalan-jalan. wkwkwkwkkk...
jalan-jalan lewat hutan mati

kadang kita butuh melihat ke belakang,
untuk tau, teman gue udah dimane? hehe..
selamat datang di tegal alun

Taman yang paling kece se antero gunung Indonesia
heboh dengan pikiran masing-masing

nyelfie lagi gaes
duduk manis bersama para srikandi manis dan si bunga manis
tetap oke..!!
Tunggu apalagi, gue dan 2 srikandi itu kembali menikmati Tegal Alun dengan gaya masing-masing sampai puas....!!!!!

Puas keliling Tegal Alun, dan bertemu dengan bapak-bapak yang baru habis muncak. si Bapak, menyarankan kita agar segera turu, biar gak nyasar karena jejak yang hilang tertutup kabut. so? markipul. mari kita pulang.

dan Awkward moment selanjutnya adalah ketika nyampe tenda, Pondok Salada yang sepi berubah menjadi pasar malam. Speaker dimana-mana. orang hutan berteriak gak tau waktu, bunyi gitar beradu dengan dangdut. lalu kita? huaaahhh...!! masuk tenda, mari kita tidur. yes, niat menikmati bintang pupus sudah karena manusia-manusia yang lari dari keramaian untuk membentuk keramaian baru di tempat yang seharusnya sepi.

pagi. ritual pagi biasanya gak bisa dinikmati dengan bebas di alam bebas. iyalah, secara ada tempatnya-WC umum. jadilah kita ngantri panjang. karena panjangnya, pada akhirnya kita memutuskan keluar dari antrian, peking tenda, wuuussss...!! kita turun saja. sepertinya WC dibawah jauh lebih sepi. yuk, Lariiii menuju pos awal....!! haha..
mari ngeteh pagi dalam tenda. mencari kehangatan
Syukurlah, sejam kemudian kita nyampe dibawah, dan menikmati air dingin buat mandi sekalian. kece kan perjalanan kali ini? bisa mandi gak pake ngantri. hihihi...

Udah kece badai, gue dan srikandi-srikandi itu melanjutkan perjalanan menuju peradaban untuk bertemu dengan seorang teman, menikmati kota Garut yang mulai ramai. hehe..

Begitulah kira-kira cerita awkward moment saat itu. ah, gue jadi rindu buat ngegembel masuk hutan lagi.  *mutar otak cari cara. gimana ceritanya harus bisa keluar rumah lagi. biar tendanya gak rusak. [cari alesan].* hehe....

Tambora..!!



Mendengar kata Tambora bukan untuk yang pertama kali, tapi jujur saja sebelumnya saya tidak tau letak Tambora itu ada dimana. Tambora lebih dikenal dengan kopinya, meskipun saya juga belum pernah mencicipi nikmatnya kopi Tambora. Tapi bukan berarti Tambora itu hanya sebatas daerah yang terkenal dengan kopinya. 
Hijaunya Tambora

Ternyata, Tambora memiliki hal yang lebih menarik daripada hanya sekedar cerita kopi. he-em, Tambora juga  merupakan salah satu nama gunung di Indonesia. Tapi, gunung Tambora sendiri jauh tenggelam di banding dengan nama gunung-gunung Indonesia yang lain. hm.. ada apa gerangan? yoi, saya sendiri juga baru ngeh dan mulai tertarik dengan Tambora saat seorang teman *yang hampir selalu menjerumuskan saya untuk lebih mengenal jejeran gunung Indonesia* mengatakan bahwa dia akan pergi mengunjungi Tambora. Ingin bersama-sama pendaki dari belahan dunia lain memperingati 200 tahun meletusnya Tambora, katanyan saat itu. hei..!! pendaki belahan dunia lain? iyes..!! Faktanya, ternyata Tambora lebih dikenal oleh orang asing daripada orang Indonesia sendiri.
Oke, mari berkenalan dengan Tambora sebelum nulis ngalor ngidul tentang apa saja yang berhubungan dengan Tambora. 
gunung tambora dari ketinggian

Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa, bagian dari Kepulauan Nusa Tenggara. Gunung ini membentuk rantai selatan kepulauan Indonesia. Tambora membentuk semenanjung yang dikenal dengan semenanjung Sanggar. Di sisi utara semenanjung itu, ada laut Flores, dan di sebelah selatan terdapat teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Pada mulut teluk Saleh, terdapat pulau kecil yang disebut Mojo. Tambora dikelilingi oleh desa Sanggar, Doro Peti, Pesanggrahan dan Calabai.  Dan Kota terdekat yang terletak dikaki gunung ini ada Kota Bima dan Dompu. Tambora terbentang 340 km di sebelah utara sistem palung Jawa dan 180-190 km di atas zona subduksi. Karena Tambora terletak di atas zona subduksi, hal ini mengakibatkan Tambora pernah menduduki peringkat pertama sebagai gunung berapi tertinggi di Nusantara *belum menjadi Indonesia*. Yoi bro, ketinggiannya mencapai 4300 mdpl..!!!  dan setelah meletus sampai saat ini, ketinggian gunung Tambora hanya mencapai 2.850 mdpl.
gambaran Tambora
* Zona Subduksi itu ternyata  merupakan zona yang terdapat pada batas antar lempeng yang bersifat konvergen, karena perbedaan massa jenis antara kedua jenis lempeng. Lempeng yang lebih besar massa jenisnya menunjam kebawah lempeng lainnya. Penunjaman ini  terjadi di batas antar lempeng samudra dan benua atau di antara sesama lempeng samudra. Dan lagi-lagi, ternyata Zona Subduksi adalah salah satu tempat bagi tebentuknya deretan gunung berapi dan gempa bumi.*

Ternyata Tambora itu menarik. Gak cuma seberapa dahsyat letusannya. Tau gak, ternyata sampai sekarang, masih banyak arkeolog asing sana main ke Tambora, Cuma buat menggali apa, mengapa dan bagaimana cerita kisah ini. Wow gak sih? *apakah, arkeolog Indonesia juga melakukan hal yang serupa, cuma gak di ekspose jadi gak terkenal? Saya juga gak tau*. 

Kenapa Tambora bisa terkenal sampai Eropa, Afrika dan Amerika sana. Ternyata 200 tahun lalu, akibat letusan Tambora ini terjadi yang namanya “ the year whitout summer”, Tahun tanpa musim panas. Karena aerosol sulfat yang dikeluarkan oleh letusan Tambora tertahan di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari ke bumi. Sehingga gelap masih menyelimuti Benua Eropa pada musim panas. Makanya peristiwa itu dikenal sebagai 'Tahun tanpa musim panas'.  Kenapa aeroso sulfatnya bisa menghalangi sinar matahari? Karena tinggi letusannya mencapai 43 km, setinggi lapisan udara stratosfer, lebih tinggi dari ketinggian gunung Everest dan ketinggian pesawat terbang..!!

Tambora meletus tahun 1815 pada bulan April tanggal 10. Material vulkanis yang dikeluarkan saat Gunung Tambora meletus mencapai lebih dari 100km kubik atau 100 milliar meter kubik, sedangkan Gunung Merapi 'hanya' memuntahkan 150 juta meter kubik. See? Betapa dahsyatnya letusan itu? Yuhu..!! suara ledakan itu sampa ke Sumatera yang jauhnya 2000 km. Eh, bukan, tapi juga sampai ke Singapura. Asap dan abunya? Yang jelas sampai kemana-mana. Karena sampai pada tahun 1816, hampir seluruh belahan dunia terutama Eropa, Amerika dan tentu saja Indonesia mengalami kelaparan. Tidak adanya matahari menyebabkan tumbuhan sulit tumbuh. Gak ada tumbuhan berarti hewan gak nemu makanan, so? Manusia kelaparan. Laut-laut juga tertutupi abu vulkanik dan manusia-manusia yang terapung akibat ledakan itu. *ngeri sendiri ngebayanginnya*

Selain *mungkin* karena kejadian alam, selalu ada sebab yang menyebabkan akibat kan? Naah, baru-baru ini saya baca sebuah novel yang judulnya Tambora. *yang membuat saya penasaran dengan kisah dan sejarah Tambora*. Ternyata, pada saat itu, keadaan masyarakat di sekitar Tambora juga lagi kacau, terjadi perang saudara antar kesultanan (ada tiga kesultanan yang terkenal, yaitu Kesultanan Tambora, kesultanan Pekat dan Kesultanan Sanggar), Belanda semakin menggila-melakukan apa saja untuk memperkaya negaranya. Belanda melakukan adu domba antar kesultanan, orang-orang pribumi takut untuk hidup di rumahnya sendiri. Tempat-tempat ibadah di bakar. Para pemimpin kesultanan hanya peduli dengan kekayaanyan sendiri, kesombongan merajalela. Dan  konon cerita turun temurunnya, sebelum gunung meletus Raja dari Kesultanan Tambora mengundang Ulama dari Gowa yang saat itu sedang menyiarkan Islam ke kerajaan. Disana, raja menghidangkan daging anjing untuk Ulama itu. Saat tau, maka Ulama itu berdoa, dan langit menjadi gelap, booommm..!!! Gunung Tambora meletus * dari Novel yang saya baca dan referensi dari gugel, Cuma cerita itu hanya legenda yang kebenarannya masih belum jelas*.

Pada tahun 2014, ada tim arkeologi dari Indonesia yang dipimpin oleh Pak Made mulai mencari dan menggali cerita dari Tambora ini. Dan kata Pak Made Geria, mulai ditemukan artefak-artefak yang menunjukkan bahwa sebelum meletus, Tambora memang di kelilingi oleh peradaban yang cukup maju. Penemuan itu menunjukkan warisan budaya Indonesia yang hilang terkubur. Menurut Pak Made, Kerajaan-kerajaan di sekitar Tambora tidak hanya kerajaan agraris di wilayah pegunungannya, tetapi juga memiliki kemampuan berdagang. Apalagi wilayah ini juga strategis terutama karena ada pelabuhan yang selalu ramia yaitu Pelabuhan Kenanga. *hm, pantas saja Belanda saat itu tergila-gila sama tambora* 
salah satu penemuan peradaban

begitulah kira-kira cerita tentang Tambora, belum puas sih..
masih harus banyak baca lagi dan mencari tau, tapi hari ini cukup sampai disini.waktunya mepet sekali. *bentar lagi di usir, jam makan siang katanya*

jadi, kalau kamu juga masih penasaran, silahkan berselancar di gugel. ^^
Mupeng...!!
Sampai jumpa di Tambora *eh*
iya, mungkin saja kamu yang baca berniat mengajak saya bertemu di Tambora,
hehe....