Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Penulis Wanna Be!

Suatu hari di tahun 2020, di salah satu tempat kopi ternama di Jakarta,

Bagaimana anda bisa menulis buku yang begitu keren ini?
Ya, memulai untuk menulis. Buku itu tidak akan selesai jika saya tidak pernah memulainya. Ketika sudah memulai menulis, maka langkah selanjutnya, selesaikan. Saya ingat nasihat kakek, ya meskipun saya gak pernah ketemu  kakek, cuma ibu selalu bilang bahwa kakek selalu mengatakan jika kamu melangkah dengan kaki kanan, maka ikuti dengan kaki kiri. pelan tapi pasti, kamu akan sampai pada tujuan kamu melangkah. Jadi, menurut saya memang gak ada cara lain selain dua kata itu. Mulai dan selesaikan.

Sejak kapan anda menulis?
Saya menulis sejak kelas satu SD. Dulu, zaman saya SD untuk dapat naik kelas dua harus bisa membaca dan menulis. Jadi, sejak dari kelas satu SD itu saya sudah menulis. Alhamdulillah sampai sekarang. Saya yakin, bahwa teman-teman yang membaca tulisan saya, juga masih menulis sampai sekarang. paling tidak menulis laporan tugas kuliah atau kerjaan. Yang jelas, kita semua penulis. Toh, ternyata penulis itu adalah orang yang menulis. Jadi selama kita masih menulis sebait kalimat, maka kita adalah penulis.

Sejak SD saya sangat suka membaca dan menulis di depan kelas. Keren aja kalau  kita bisa lebih unggul dari teman-teman lain. Terus, hobi menulis berlanjut. Sebenernya saya itu korban sinetron juga. Dulu, sinetron yang saya tonton ada seorang anak perempuan yang sering menulis di buku diary tentang apa saja. dan menurut saya itu keren. Akhirnya saya mengikuti jejak si anak itu. Menulis diary a la anak remaja yang labil. Hobi menulis diary itu saya lakukan sampai SMA, menginjak kuliah mulai nulis di blog, tipe isinya masih sama, tentang apa saja yang saya alami. Agak-agak lebay sih kalau dibaca sekarang. Ternyata zaman dulu saya juga pernah labil parah seperti itu. hehe!

Wah, benar juga ya. selama kita menulis, maka kita adalah penulis. Alasan apa yang membuat anda bertahan menulis sampai sekarang? Bahkan saat ini anda sudah menghasilkan buku. 
Untuk menjadi bagian sejarah yang tidak terlupakan. Menurut saya, dengan tulisan maka sejarah akan abadi. Kamu tau Einstein? Newton? atau Soekarno? Yak! kita bisa tau kehidupan kecil mereka sampai dewasa, kita bisa tau apa saja yang mereka lakukan selama mereka hidup, karena apa? Tulisan. Jadi, meskipun mereka sudah tidak ada, tapi mereka akan tetap abadi. Bahkan bisa jadi sampai puluhan tahun nanti. Ehm, apakah kamu mengenal kehidupan kakekmu dengan benar? Jarang! bisa jadi kita tau sejarah kakek kita, tapi tidak kekal. Paling mentok sampai generasi cucunya sejarah kakek kita terkenal. Dan nanti, di generasi anak-anak kita, cerita hebat kakek kita akan hilang karena lupa. Manusia itu makhluk pelupa. Jadi, jika tidak menulis, maka kejadian yang sudah terjadi akan hilang. Hanya akan menjadi sejarah yang dilupakan. Dan saya ingin menjadi bagian sejarah yang abadi itu. Alhasil, saya bertahan menulis. Dan alhamdulillah menghasilkan buku ini di tahun 2018. Ehehe!

Buku ini cukup unik. Sains tapi bahasanya sangat mudah dimengerti. Darimana ide anda untuk menulis buku  ini, buku tentang Biologi Tanaman?
Dari anak-anak. Tahun 2009, saya mulai berkecimpung dalam dunia belajar mengajar tingkat SD sampai SMP. Dari sana sebenernya saya yang banyak belajar. ternyata anak-anak di semua zaman masih sama, masih penuh rasa ingin tahu. Jadi, ketika belajar biologi banyak pertanyaan-pertanyaan sederhana mereka yang di luar dugaan yang kadang membuat saya harus memutar otak, menyusun kalimat untuk menyederhanakan penjelasan dari pertanyaan itu. 

Contoh pertanyaan sederhananya seperti bagaimana lumut bisa berkembang biak? atau mengapa daun warna merah? apakah daun merah juga bisa fotosintesis?. Nah, sejak itu saya mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan unik yang saya temui, lalu menuliskan penjelasannya dengan bahasa sederhana yang bisa di mengerti anak-anak. Saya ingin membantu mamah-mamah muda untuk membantu mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan gokil dari anak-anak. Awalnya saya hanya menuliskannya di blog, setelah mikir lagi dan berteman dengan teman-teman yang luar biasa, akhirnya dengan perjalanan panjang melawan rasa malas dan minder, maka saya bisa menyelesaikan buku ini. hehe

Ada rasa malas dan minder juga ya ternyata. Bagaimana anda bisa menghadapinya? 
Hm, malas itu gak ada obatnya sih. Jadi, pasti selalu ada, ada dan ada lagi. Banyak alasan yang bisa kita buat demi si malas itu. Tapi, balik lagi sih, mau malas terus apa mau gimana? Jadi yang bisa ngelawan malas ya diri sendiri.  Gak bisa dibantu orang lain.

Kalau menghadapi rasa minder, bertemanlah pada teman-teman yang membantu membangun mimpi. Mereka akan mengkritik tapi tidak menjatuhkan dan yang pasti mereka akan mendorong dan memberi semangat kepada kita untuk terus belajar dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpi kita. lambat laun, minder akan pergi dengan sendirinya asalkan gak pernah berhenti menulis dan mencoba. Namanya juga belajar. Salah dan kritik mah wajar. Yang gak wajar itu minder sebelum mencoba.

Selama menulis, pasti anda mengalami kebuntuan ide. Apa yang anda lakukan saat itu?
Mengalami kebuntuan ide? Sering banget. Haha! kadang itu tuh yang buat kita malas lanjut nulis. Tapi, kalau saya mengalami stuck dalam menulis, ya berhenti. mau dipaksa juga gak bisa. Tutup laptop, terus tidur. hehe! Habis itu baca ulang lagi. Masih buntu? tutup lagi, main game dulu, nonton film, atau baca buku. kalau gak mempan juga berarti saya butuh jalan-jalan. haha! jadi, ya jalan-jalan ketemu orang baru, atau sekedar nongkrong di warung kopi  juga bisa. Bagi saya, kebuntuan ide itu berarti saya membutuhkan waktu untuk kembali berdiskusi dengan hati. Mengingat lagi ini saya sedang ngapain sih. Biasanya, kalau udah nemu jawabannya, bakal lancar lagi nulisnya. 

Apa makna menulis dan menjadi penulis bagi anda?
Hm, apa ya? Menulis ya menulis. menulis apa saja yang ingin ditulis. Bisa fiksi atau non fiksi. Terserah. Yang penting menulis. Bagi saya, satu buku bermula dari satu bab, satu bab bermula dari satu paragraf, satu paragraf bermula dari satu kalimat, dan satu kalimat bermula dari satu kata. Sederhanakan? hanya mulai dari satu kata!

Bagi saya menulis itu adalah dunia tanpa batas, tapi sayangnya sering dibatasi. Begitulah, dengan adanya batasan itulah banyak yang gagal menjadi penulis. Bisa jadi dulu saya termasuk dalam barisan itu, ingin menjadi penulis, tapi membatasi dunia tulis menulis itu. Maksudnya, saya sendiri yang membangun tembok sehingga menjadi penulis seperti hanya sebuah mimpi. 

Begini, ketika mendengar penulis maka bayangan sebagian dari kita adalah seseorang yang sudah banyak memiliki karya, baik buku, puisi, novel, atau setidaknya mereka yang telah memiliki jejak tulisan di media ternama di penjuru negeri. Jadi, kita membatasi diri bahwa kita yang menulis di blog atau buku diary gak layak mendapat titel penulis. Padahal kan kita masih menulis. Maka seharusnya kita adalah penulis. hanya saja tulisan kita tidak dibaca oleh orang banyak. Saya bersyukur bertemu teman-teman hebat, sehingga saya bisa meruntuhkan tembok pembatas itu. Sejak dari itu, cara pandang saya tentang menulis dan penulis menjadi sesederhana itu. Ambil pena dan kertasmu, lalu tulis apa saja yang ingin kita tulis dan kita temui. Maka kita akan menjadi penulis. 

Menurut saya, itu adalah langkah awal menjadi penulis yang bermanfaat untuk semesta. Tidak hanya menjejak sejarah diri sendiri, tapi bisa menjadi bagian sejarah dunia. Intinya, mulailah menulis, biasakan, kemudian belajar disiplin dalam menulis, selanjutnya temukan jati diri dan kembalikan pada niat awal. Iya, niat pertama menulis itu apa? Saya sendiri menulis itu ya menjelajahi dunia imajinasi dan dunia nyata sekaligus dan untuk memberikan manfaat untuk semesta. Masalah dapat uang atau tidak? itu hanya bonus. Hehe! Saya masih percaya bahwa ketika kita memberikan yang terbaik maka kita akan mendapatkan yang terbaik. So? berikan saja dulu yang terbaik. Apa yang kita peroleh nanti, sudah ada yang mengatur. Jadi tidak perlu khawatir. Kejar pencapain niatnya, bukan bonusnya.
Apa rencana anda selanjutnya? 
Tetap menulis, tetap berkarya dan tetap menjadi baik.

***
Kemudian saya terbangun. ternyata masih mimpi.

Penulis Wanna Be? Siapa takut. Bisa jadi semesta sedang mengumpulkan kekuatan untuk mewujudkan percakapan ini menjadi nyata. Huhehe..!!
Dimana saja kita bisa menjadi penulis!
Selamat malam, selamat menyongsong tahun baru!
Salam revolusi!

Pekanbaru,
30 Desember 2016

Serdadu Kumbang

terbang tinggi ke awan, mungkin ada yang bisa kutemukan,
menyebrangi ilalang walapun jauh yang harus ku tempuh, 
 
Nak, kau tau? kau adalah makhluk tanpa sayap yang selalu bisa terbang kapan saja kau mau. Kau tidak perlu takut untuk terbang. Diatas sana, kau akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Kau akan melihat dunia yang luas, kau akan mengenal siapa dirimu, dan kau akan tau siapa Tuhanmu. Tidak masalah ketika kau harus berjalan melewati ilalang yang menjulang, tak masalah berapa jarak yang kau tempuh, karena hidupmu memang untuk berjalan. Kau adalah seorang musafir. 

Serius dalam mencipta #KI4PKU [pict by ipeh]
jalan masihlah panjang, banyak keinginan yang dilupakan, 
masih harus berjuang, percayalah masih ada banyak harapan,

Nak, dalam perjalanan panjangmu, kau akan menemukan titik dimana kau harus bertaruh pada mimpimu. kadangkala kau harus melepaskan keinginanmu untuk oranglain. kau tidak pernah hidup sendiri, banyak orang-orang yang mengelilingimu. melepas mimpimu bukan berarti kau harus menyerah. kau hanya perlu terus berjuang, dan percaya bahwa mimpimu tidak benar-benar pergi meninggalkanmu meski kau melepaskannya. 

merasakan menjadi wisudawan dan rektor! #KI4PKU [pict by ipeh]
maju serdadu kumbang, jangan menyerah rintangan menghalang, 
tenang jalani semua, percayalah harapan itu masih ada

Nak, selama kau berjalan, tidak mungkin kau tidak menemukan rintangan. tidak mungkin jalan yang kau lalui lurus tanpa cabang. Kau pasti menemukan turunan, sesekali kau perlu mendaki bahkan tersungkur. Tapi nak, yang harus kau lakukan adalah menjalani itu semua. kau harus terus berjalan. Percayalah, di ujung jalanmu kau akan menemukan secercah cahaya, selalu ada harapan setiap kali kau jatuh. Bangkit dan berjalanlah. 

Cita-citaku menjadi pemadam kebakaran, #KI4PKU [pict by ipeh]
terbang lah terbang, raihlah mimpi, jangan berhenti terbang yang tinggi
terbanglah terbang, raihlah mimpi, terbanglah serdadu kumbang
[Serdadu Kumbang-Ipank]
Nak, kepakkan sayapmu. terbanglah! terbang yang tinggi. Pergilah mencari ujung dunia. Mimpimu adalah hakmu. jangan biarkan oranglain mendikte mimpimu bahkan mencabik-cabik mimpimu. jadilah apa yang kau mau untuk memberi manfaat pada orangtuamu, orang-orang disekitarmu, dan pada alam.
 
 Pekanbaru,
3 Desember 2016.

Petani dalam list cita-cita anak-anak

"Pada suatu siang, di ujung pematang, terduduk dengan bimbang, sang caping usang
Datang menghampiri, sesosok bocah kecil, tangan dengan kendi dan juga baki
Wahai nak, sang bocah kecil duduklah dekat kakekmu
Mari makan bersama kakekmu ingin menatap bening cahaya matamu
Jika suatu nanti, kakekmu tlah pergi, siapa yang akan menanam padi
Jika suatu nanti engaku telah dewasa, hijau kah tanah ini?"
[Akar Bambu]

Mendengar penggalan lirik dari akar bambu ini cukup membuat saya bertanya lagi, akankah tanah negeri ini bisa memberikan kita sepiring nasi di masa esok ketika generasi kakek nenek kita telah pergi? Petani? Siapa yang mau jadi petani? Saya pernah nulis disini Sarjana Pertanian Kemana?, ketika menjadi lulusan pertanian itu sebuah dilema yang klasik.


Ternyata memang menjadi petani tidak begitu menarik untuk diperbincangkan. Petani bukan pilihan profesi yang menggiurkan. Bukan cerita lama bahwa profesi ini terancam punah. Selama tahun berganti, selama itu pula  profesi ini akan terus berganti dan mengalami penurunan. Mungkin saja profesi ini akan menjadi sejarah dan hanya tinggal cerita dongeng sebelum tidur untuk anak dan cucu kita dimasa depan. Bisa jadi!

Dari data-data yang saya baca, BPS mencatat bahwa jumlah petani terus menurun. Pada tahun 2013 jumlah petani 39.22 juta, menurun menjadi 38.97 juta pada tahun 2014 dan hanya tinggal 37.75 juta pada tahun 2015. Artinya setiap tahun hampir kita kehilangan sejuta petani entah karena apa. Bisa jadi karena lahan yang alih fungsi, meninggal, atau bangkrut. Mirisnya, data itu mencatat bahwa usia rata-rata petani adalah 50 tahun keatas. Dan parahnya, baru-baru ini saya juga membaca berita, di Bogor dimana kampus pertanian terbaik berdiri justru digarap oleh warga negara asing. [Bisa baca disini: http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2016/11/16/ketika-wn-asing-keruk-hasil-bumi-ke-mana-para-sarjana-pertanian-di-bogor/]. Saya percaya banyak berita-berita yang serupa di daerah-daerah sana, tapi gak muncul dipermukaan.

Dan hari ini saya juga menemukan artikel yang cukup membuat saya bertanya-tanya apakah ini sudah pagi? atau saya masih bermimpi. Iya! gimana gak, ketika ada judul dari berita online yang mengatakan bahwa tidak menjadi masalah jika anak muda sekarang ini meninggalkan dunia pertanian, karena bisa digantikan dengan mesin [Baca : http://kabarkampus.com/2016/11/staf-khusus-mentan-sambut-positif-berkurangnya-jumlah-petani-indonesia/ ]. Jadi, apakah memang profesi petani memang bukan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan?

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa jumlah petani terus menurun setiap tahun?

Banyak faktor, itu pasti. Tapi, dalam tulisan ini saya ingin menyoroti satu hal, kenapa petani tidak begitu menggiurkan. Menjadi petani hampir tidak pernah masuk dalam list cita dan mimpi anak-anak, terutama anak-anak yang tinggal di tengah kota yang cuma bisa melihat beton dimana-mana. Petani identik dengan hidup susah dan serba kekurangan, jadi siapa pula yang  mau hidup susah seperti petani pada umumnya yang terlihat hampir merata di penjuru negeri. Iya kan?

Tapi ternyata, sebanyak petani yang mengenakan pakaian lusuh berumah sederhana dan hidup "susah", masih banyak juga petani-petani yang dapat menginspirasi dan bisa membantu orang-orang disekitarnya. Iya! banyak cerita petani-petani yang kece badai. Seperti petani cabe di Kediri yang mulai bertani dengan pinjaman uang dari bank, ada lagi petani asal Jember karena lelah menjadi TKI, terus masih ada kok anak petani yang kembali menjadi petani, atau lulusan sekolah pertanian yang benar-benar menjadi petani juga ada. Sayangnya ya itu, kisah-kisah petani ini masih belum begitu menarik untuk diulas. Lebih seru mengulas film utaran atau sidang jesica.

Senin lalu, saya mengikuti kegiatan yang menyenangkan dan menginspirasi, Kelas Inspirasi. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk memberikan inspirasi dan gambaran pada anak-anak bahwa banyak profesi-profesi yang bisa dijadikan cita-cita selain dokter, polisi, dan guru. Kegiatan itu keren! Secara anak-anak akan mendapatkan inspirasi dan gambaran secara nyata tentang profesi-profesi yang ada diluar sana, seperti engineer, jaksa, hakim, dosen, translator, orang-orang yang bekerja di kantor pajak, dan menjadi tau bahwa orang-orang yang bekerja di bandara tidak hanya pilot. Tapi, satu hal yang membuat saya sedih, tercenung, dan merenung. Kemana profesi petani pergi? Apakah petani tidak dapat menginspirasi? Jika iya, jangan salahkan anak-anak jika tidak ada yang mau jadi petani. Karena memang, mereka tidak tau siapa petani. Jika terus begitu, bukan hal yang gak mungkin kan petani memang benar-benar punah?

Sebagai lulusan pertanian, sebenarnya saya malu karena sampai saat ini saya belum bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan profesi itu dan belum bisa ikut turun tangan memberikan inspirasi pada anak-anak bahwa petani itu keren. Iya! sesunguhnya petani itu keren!. Hanya saja kekerenan petani itu  tertutupi kabut pesimistis dan dibalut dengan baju lusuh tangan kotor kulit hitam legam.
 
Profesi petani, berbeda dengan profesi lainnya seperti dokter, guru, polisi, pengacara atau pilot yang menjadi idola bagi anak-anak. Pertanyaan selanjutnya, mengapa dokter, guru, polisi, pengacara atau pilot menjadi begitu populer di kalangan anak-anak? jawabannya simpel dan sederhana. Karena mereka menemukan contoh dan tokoh yang keren berada di dekat mereka. Iya, mereka dapat melihat kerja dokter, guru, polisi, pengacara, atau pilot secara "nyata". Melihat dokter dengan seragam putih, membawa stetoskop, memeriksa pasien akan menjadi hal yang luar biasa bagi anak-anak. Melihat laki-laki gagah tegap berdiri dengan seragamnya di jalanan untuk mengatur lalu lintas jalan, bagi anak-anak itu sesuatu hal yang keren. Melihat seorang yang bisa menjawab semua pertanyaan orang lain seperti guru menjadi sesuatu yang mengagumkan bagi anak-anak. Melihat bapak-bapak di depan tv dalam persidangan jesica pun menjadi inspirasi anak-anak. Apalagi melihat pesawat dil langit yang bisa terbang, anak-anak juga ingin menerbangkan pesawat itu. Tetapi jika melihat orang yang kerja panas-panasan di lapangan memegang cangkul, tangan kotor, siapa yang mau? kamu mau? mungkin bisa dikatakan gak ada yang mau.  Karena itu kan gak keren. Dan ketika anak-anak melihat pekerjaan petani seperti itu, capek, panas, hitam, sepertinya mereka juga akan urung diri untuk menulis petani menjadi list cita-cita mereka. Padahal, ada sesuatu yang sangat menarik dalam prosesnya. Melihat tanaman tumbuh sampai panen. Iya, itu keren kan? Sayangnya, anak-anak tidak melihat kekerenan itu, cuma  mentok sampai panas-panasan di lapangan.

Terus, kenapa anak-anak gak dikasih tau aja kekerenan petani itu? Atau kenapa petani-petani gak unjuk gigi aja pas kelas inspirasi? Nah itu, itu dia pertanyaan yang sama dan baru ngeh pas saya gabung di Kelas Inspirasi Pekanbaru kemarin. Kemana petani-petani keren itu? Kok mereka gak ikut berpartisipasi menginspirasi anak-anak negeri ini dengan menjadi petani? dan asumsi saya adalah petani-petani itu belum tau kalau ada kelas inspirasi. huehehe!

Sebenarnya ini menjadi PR besar bagi petani-petani sukses, petani-petani yang sedang melakoni bidangnya, dan bagi saya sebagai orang yang sudah dicap sebagai lulusan pertanian untuk memberikan informasi bahwa petani itu gak cuma sekedar panas-panas dan kotor di lapangan, tetapi lebih dari itu. Petani adalah profesi yang sama pentingnya dengan profesi-profesi lain. Petani adalah masalah hidup mati bangsa. Petani bukan profesi khusus untuk orang-orang yang hidup susah. dan ini benar-benar menjadi PR bagi saya sebagai lulusan pertania dan petani-petani hebat untuk dapat membuktikan pada dunia dan anak-anak bahwa petani adalah profesi yang juga cukup menjanjikan.

Tapi bagaimana kalau faktanya petani itu tidak sekeren yang dijabarkan diatas? Lahan alih fungsi, petani ditangkap, harga jual panen jauh dibawah modal. Dan pada akhirnya, petani memang ditakdirkan untuk hidup susah. So? masih mau jadi petani?

Gaes, bukankah itu dia tugas kita generasi muda yang tau, pernah dan tertarik dengan dunia pertanian? Untuk menjadi petani yang cerdas. Petani yang bisa memanfaatkan lahan yang ada, mengurangi laju alih fungsi lahan dengan menanam dan menghasilkan "duit". Petani yang cerdas dan jujur. Bukankah itu cita-cita Soekarno ketika beliau meletakkan batu pertama institut pertanian? menciptakan petani-petani yang tidak hanya mengerti dunia cocok tanam, tetapi sampai hitung-hitungan untung rugi dan pasar. Iya, ini tugas besar saya, kamu dan kita, generasi muda untuk menyelamatkan profesi petani.

Berhenti mengutuk kegelapan. Berhenti menyalahkan profesi petani. Berhenti mengkambinghitamkan faktor-faktor yang antah berantah.

Nyalakan lampu, dan jadilah petani yang setidaknya bisa memberi makan keluarga sendiri. Selanjutnya ceritakan pada adik-adik, keluarga, tetangga, anak dan cucu kita nanti bahwa menjadi petani itu keren karena dapat memberi makan dan membantu orang lain.

Just do it!

Anak-anak butuh inspirasi dan contoh nyata untuk membantu mereka memutuskan bagaimana jalan yang akan mereka pilih. Petani berhak memberikan inspirasi itu dan membuktikan pada anak-anak bahwa menjadi petani bukanlah jalan yang suram.

Semoga Kelas Inspirasi Pekanbaru selanjutnya saya dapat menemukan ada petani yang berdiri di depan anak-anak itu dan dengan bangga menceritak profesinya.

Semoga!

Pekanbaru,
27 November 2016

Rahasia Si Tauge!

Ini kisah tauge. Sayuran yang cuma butuh waktu 3 hari untuk dapat dipanen, sayuran yang hampir tiap sekolah melakukan percobaan untuk menumbuhkan tauge. Tauge, sayuran putih bersih yang memiliki segudang rahasia.

Taraaanngg! mari kita kumpas tuntas tentang tauge. Sejarah awal mula tauge darimana? Siapa sebenarnya tauge, mengapa tauge menjadi sayuran yang banyak dikonsumsi orang, termasuk di Indonesia? Apa sih hebatnya tauge? Penasaran gak sih? kalo aye mah penasaran! huehe.

Berterimaksihlah pada om gugel yang hampir selalu menyediakan jawaban untuk setiap pertanyaan, termasuk tentang tauge. Iya! melalui om gugel ini saya menemukan fakta-fakta unik tentang tauge. Cekibrot!

Fakta pertama, ternyata tauge sudah menjadi bahan obat-obatan sejak 5000 tahun yang lalu. Fakta itu ditulis oleh para dokter jaman dulu di Cina. Tauge termasuk makanan utama untuk diet para orang Amerika keturunan Cina. Beberapa sejarah mengatakan bahwa tauge ini berasal dari Timur Tengah (kawasan Balkan dan Barat Daya Asia) dan dataran mediterania timur, kemudian masuk ke wilayah Cina dan Asia Timur lainnya dan berkembang ke Indonesia.

Sejarah lain mengatakan bahwa penyebaran tauge ke negara-negara lain karena para pelaut. Iya, jadi pada tahun 1700 itu teridentifikasi bahwa banyak pelaut yang terserang penyakit kudis karena kekurangan vitamin karena pasokan sayur dan buah yang terbatas. Secara mereka berlayar berbulan-bulan bahkan sampai tahunan, sedangkan sayuran dan buahan tidak dapat disimpan lama. Nah, pada tahun 1772-1775, kapten James Hook menemukan cara agar tentaranya sehat selama pelayaran. Iyes, mereka mengonsumsi tauge. selama pelayaran mereka hanya membawa kacang-kacangan, kemudian sebelum dimasak disimpan beberapa hari di tempat yang agak lembab, dan voila! jadilah tauge. Penemuan ini ternyata menarik perhatian para ilmuawan, salah satunya Dr. McKay profesor bidang nutrisi dari Universitas Cornell. Dr. McKay melakukan penelitian tentang tauge ini dan menemukan fakta bahwa tauge mengandung vitamn B Kompleks, Vitamin A, vitamin C dan mengubah pati pada biji menjadi zero pati. Setelah diteliti lebih lanjut, tauge yang dimaksud Dr. McKay ini berasal dari kedelai. So, tauge itu apa sih? mari lanjut ke fakta selanjutnya.

Fakta kedua, ternyata tauge itu berasal dari dialek Hokkian dari kata Douya. Douya sendiri berasal dari bahasa mandarin yang artinya kecambah kacang-kacangan, salah satunya adalah kacang hijau. Tetapi, tidak cuma kacang hijau, ada juga kecambah kacang kedelai atau kacang alfalfa. Cuma di Indonesia lebih banyak kecambah dari kacang hijau, makanya tauge identik dengan kecambah kacang hijau.

Beberapa daerah di Indonesia mengenal tauge dengan nama kecambah, bahkan di Jawa Timur tauge dikenal dengan "ganteng". Iya! ganteng pengganti tauge. huehe! Sedangkan di Jepang, tauge lebih dikenal dengan Moyashi sebagai bahan obat-obatan sejak era Heian.

Karena namanya yang berarti kecambah, makanya tauge bisa dipanen cuma dalam waktu 3 hari. Emang sebenarnya kecambah itu apa sih?

Menurut Taiz dan Zeiger (1998) kecambah dapat diartikan sebagai dimulainya pertumbuhan embrio dari benih yang sudah matang. Yuhuu! kecambah itu merupakan tahap awal dari pertumbuhan dan perkembangan. Nah, tauge berasal dari itu. Ketika kacang hijau yang kita tanam sudah mulai berkecambah (tumbuh) maka udah bisa dipanen. Makanya gak butuh waktu yang lama untuk menghasilkan tauge.

FYI, kacang hijau yang biasa kita lihat itu dalam bahasa agronominya adalah benih. Benih suatu tanaman pada umumnya terdiri dari embrio (bakal tanaman), endosperm (cadangan makanan) dan kulit biji (pembungkus bijinya). Dalam embrio itu ada yang namanya plumula (pucuk lembaga yang akan menjadi pucuk tanaman), radikula (akar lembaga yang akan menjadi akar tanaman) dan kotiledon (daun lembaga yang membedakan biji itu dikotil atau monokotil. Tanaman monokotil terdiri dari satu helai daun lembaga kayak jagung, sedangkan dikotil memiliki dua helai daun lembaga kayak kacang hijau). Terjadinya perkecambahan itu karena adanya proses imbibisi (absorbsi air) yang kemudian mengaktifkan semua bagian-bagain yang ada pada biji dan pada akhirnya berkecambah. Kemudian jadilah tauge. Keren ya! Biji yang kecil itu ternyata punya segudang rahasia untuk menghasilkan tauge.
poto dari klinik fotografi kompas

Oia, fakta menarik lainnya mengenai si tauge ini. Dr. McKay pernah bertanya menulis "Dicari! sayuran yang dapat tumbuh dengan kondisi iklim bagaimanapun, yang mengandung nutrisi hampir sama dengan daging, mengandung vitamin C melebihi tomat, yang bisa dipanen dalam waktu 3-5 hari, bisa ditanam sepanjang tahun, ditanam tanpa tanah dan tanpa matahari, tidak memiliki sisa sampah, dan dapat dimasak dengan bahan bakar terbatas dan bisa masak secepat kilat" (Ini udah saya alihkan ke bahasa ya guys, bahasa aslinya nanti bisa dicari dari catatan referensi yang saya tulis dibawah). dan kamu tau jawabannya? yongkru! cuma Tauge!

Tauge, tanaman yang ditanam gak perlu tanah dan gak perlu matahari. Dan hebatnya lagi, tauge juga tidak memerlukan pupuk apalagi pestisda. Beuh! jarang-jarang kan ada tanaman yang kayak gini nih. iya, soalnya balik lagi ke sejarahnya, karena si tauge ini adalah kecambah, tanaman yang baru akan memulai kehidupannya tapi udah dipanen duluan.

Masih ingatkan, untuk menjadi kecambah biji membutuhkan proses imbibisi yaitu penyerapan air. Iya! jdi biji cuma butuh air untuk memulai kehidupannya. Ketika air masuk kedalam biji, maka bagian-bagian yang ada didalam biji tersebut akan aktif. Ketika makhluk hidup aktif, pasti butuh makanan dong ya? terus darimana asal makanannya kalau bukan tanah yang punya nutrisi? Apa iya cuma pakai air aja cukup? jawabannya cukup!. Yoi, untuk perkecambahan itu, biji cuma butuh air karena biji masih menyimpan cadangan makanan (endoseperm). jadi, ketika bagian-bagian tanaman aktif, dan butuh makanan maka diambil dari cadangan makanan itu sampai muncul plumula dan radikula ke permukaan. setelah itu, tauge siap panen.

Satu lagi, si tauge juga gak butuh matahari. Loh kok? padahal semua tanaman butuh matahari untuk fotosintesis. kenapa tauge gak pakai matahari? karena tauge gak butuh fotosintesis. kalau tauge kena matahari, maka yang tumbuh adalah tanaman kacang hijau bukan tauge. huehehe! Dalam tanaman, ada yang namanya hormon. Salah satunya adalah hormon auksin. Hormon ini akan aktif tanpa matahari dan berfungsi untuk  perpanjangan sel-sel (baik akar atau pucuk). So, jika kacang hijau sama-sama ditanam tapi yang satu diberi matahari yang satu lagi gak, maka bisa dipastikan kecambah yang lebih baik dan layak dipanen adalah kecambah yang ditanam tanpa matahari. Hal ini karena hormon auksin yang aktif, sehingga kecambah menjadi lebih panjang dan putih bersih, sedangkan kecambah yang kena matahari menjadi lebih pendek dan berwarna hijau, karena klorofilnya (zat hijau daun) akan aktif. Kalau untuk tauge, itu gak berlaku, gak bakal laku dijual dipasaran dengan warna kecambah hijau. makanya, untuk menghasilkan tauge yang baik itu adalah tanpa matahari sama sekali. Sesentipun jangan biarkan matahari masuk karena bakal merusak si tauge. Canggih gak tuh si tauge?

Selain rahasia dalam pertumbuhannya, tauge masih punya rahasia dibalik tubuhnya yang mungil. Iyes! tauge memiliki segudang manfaat untuk tubuh. Kandungan gizi pada biji kacang hijau berada dalam bentuk terikat, atau tidak aktif. Setelah perkecambahan, bentuk tersebut diaktifkan sehingga meningkatkan daya cerna bagi manusia. Karena pada saat perkecambahan, terjadi hidrolisis karbohidrat, protein dan lemak menjadi senyawa-senayawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna dan mudah diserap oleh tubuh (Anggrahaini, 2009) dan menurut USDA (2009) tauge juga mengandung banyak vitamin dan mineral.

Pernah dengar mitos bahwa tauge salah satu sayuran yang bisa buat awet muda? Ternyata itu bukan mitos. tapi fakta! karena tauge juga mengandung banyak vitamin E (Astawan, 2005). FYI, vitamin E adalah salah satu fitonutrien yang bekerja sebagai antioksidan yang dapat mempertahankan integritas membaran sel dan penangkal radikal bebas didalam tubuh. Menurut Winarsi (2007), kandungan vitamin E dalam kecambah kacang hijau adalah 1.53 mg per 10 gr, termasuk cukup tinggi untuk sayuran. So? ternyata untuk awet muda gak mahal, cukup rutin mengonsumsi tauge, minimal 3 kali seminggu deh biar kebutuhan vitamin E dalam tubuh terpenuhi. huehehe!

Galau karena kadang malas ke pasar cuma buat beli tauge? atau kadang lupa udah ke pasar buat beli tauge? atau bingung karena tauge yang dibeli mudah busuk dan gak bagus? sekarang gak perlu bimbang, gak perlu ragu dan gak perlu bingung. Tanam dan panen sendiri aja taugenya. Murah, simpel dan kebersihannya terjamin, karena menanam sendiri. Iya kan?

Caranya? Gampang banget! beli kacang hijau di pasar, trus cuci bersih, rendam paling lama satu malam. besok paginya, biji yang udah mulai gendut karena proses imbibisi (penyerapan air) dimulai langsung pindah ke tempat lain, bisa nampan, bisa kotak kue, bisa apa aja deh buat naro si biji gendut itu. sebelumnya, lapisi dulu sama kapas, gak ada kapas bisa ganti dengan kain flanel, kalau kemahalan bisa ganti dengan kain yang ada, kalau gak ada juga yaudah deh pake kertas koran atau kertas bekas juga boleh asalkan bisa menyimpan air untuk sehari. Kenapa? karena untuk proses perkecambahan itu kita hanya perlu menyediakan air untuk si biji. nah, kapas dkk itu berfungsi untuk penyediaan air itu. jangan kelebihan air ya apalagi bijinya sampai kerendam. nanti bukan jadi tauge, tapi jadi bubur kacang hijau. hehe! Setelah semua redi, simpan ditempat yang gelap, dimana cahaya matahari gak bisa masuk. biasanya ditutupi sama kain hitam. kalau gak ada kain hitam bisa pake kresek hitam, tapi ya itu, usahakan semuanya tertutup jangan kasih celah matahari untuk masuk. and then? dua hari selanjutnya, selamat panen! oia, selama menunggu, sesekali dicek ya, mana tau airnya habis, jadi diisi lagi. kan kasihan kalau calon kecambah kekeringan, nanti dia kehausan dan bisa jadi mati. Simpel kan? iya dong, anak kosan wajib coba deh. Murah bersih dan sehat. pas udah dipanen, bisa dicampur ke mie rebus atau nasi goreng. huehehe!

Setelah mengupas cerita dan rahasi si tauge ini, saya mendapat kesimpulan bahwa sekecil apapun kita, sesederhana apapun kita berasal pastikan bahwa kita dapat memberikan manfaat dan kebaikan untuk orang lain. Iya, seperti si tauge ini. Tauge sayuran yang paling kecil, umurnya paling singkat, sayuran paling sederhana dan kadang banyak orang yang menyepelekan dan melupakan tauge berasal darimana, tapi tauge tetap memberikan manfaat untuk siapa saja manusia dan hewan yang memakannya. [hewan makan tauge? gitu deh, ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa tauge juga jadi bahan pakan mamalia]. Dan hebatnya lagi, tauge tetap tumbuh tanpa tanah, tanpa nutrisi dan ditempat yang gelap. Hm, kalau kita berada di kondisi yang seperti itu, apakah kita masih mampu untuk memberikan manfaat untuk orang lain seperti tauge? *selfreminder*


Salam petani!

Pekanbaru,
13 Oktober 2016

Catatan Referensi :
1. Vegetable factory in the 21st Century; http://www.ueharaen.co.jp/english/history.html
2. Sprout History, International Sprout Growers Association (ISGA); http://www.isga-sprouts.org/about-sprouts/sprout-history/
3. Anggrahini S. 2009. Pengaruh Lama Pengecambahan terhadap Kandungan α-Tokoferol dan Senyawa Proksimat Kecambah Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.).
4. Astawan M. 2005. Kacang Hijau, Antioksidan yang Membantu Kesuburan Pria
5. USDA. 2009. Proteins and Nutrients from Other Beneficial Legumes (Beans): Mung Beans, Mature Seeds, Raw. http://www.nal.usda.gov/fnic/foodcomp/cgi-bin/list_nut_edit.pl.
6. Taiz and Zeiger. 1999. Plant Physiology.

Alay!

Alay. Kata itu terlontar dari salah seorang teman di grup whatsapp yang membuat saya kembali bertanya, Alay, emang alay itu apa sih sebenarnya?

Alay, kata itu rasa-rasanya sudah mengIndonesia. Hampir semua remaja, dewasa bahkan anak-anak usia SD tahu apa itu alay. Meskipun menurut saya kata "tahu" disini masih dipertanyakan, apakah benar-benar tahu apa itu alay, atau hanya ikut-ikutan menggunakan kata alay untuk menggambarkan tingkah seseorang atau tahu bulat yang digoreng dadakan cuma lima ratusan.

Iya, karena sesungguhnya saya masih gagal paham dengan alay itu apa. Mengapa banyak orang yang menggunakan kata alay untuk menggambarkan tingkah orang lain yang mungkin biasa saja tapi sedikit berlebihan. Malah, seorang teman itu memberikan gambaran bahwa tumbuh kembang manusia itu sekarang menjadi bayi-anak-remaja-(alay)-dewasa muda-(alay)-dewasa. Baca? ada kata alay disana. kok bisa ya? Katanya, alay sudah itu termasuk perkembangan psikologi yang dipengaruhi oleh lingkungan. Bukankah semua tingkah laku kita memang dipengaruhi lingkungan?

Kok saya jadi serius gini ya menanggapi kata alay? padahal bisa dibilang gak penting. wkwkwkwkk!

Hm, gitu deh. Menurut saya menarik aja membahas alay ini. Karena itu tadi, apakah kita menilai ke-alay-an seseorang karena memang tahu apa itu alay, atau hanya sekedar ikut-ikutan biar gak dibilang alay karena gak tahu apa itu kata alay.

Setelah berlayar di beberapa artikel dan penelitian orang lain tentang ke-alay-an, maka ternyata sejarah alay ini muncul pada era 80-an akhir. Selanjutnya anak-anak 90-an lah yang menjadi penerus ke-alay-an dan semakin berkembang sekarang. Jadi, wahai anak 90-an, alay ini muncul di generasi kamu! Mengakulah. wkwkwkwkk!


Alay itu singkatan dari kata Anak Layangan, Anak Lebay, Anak Layu, Anak Kelayapan. Sebenarnya saya jadi bingung sendiri apa itu anak layangan, anak lebay, anak layu. Kalau anak kelayapan saya ngerti, anak yang suka main kesana kemari jarang pulang ke rumah. Katanya anak layangan itu anak kampungan, meskipun saya juga bingung lagi emang anak kampungan itu yang gimana. apakah anak dari kampung, anak yang tinggal di kampung atau anak yang bertingkah kampung, atau anak yang emang gak tau apa-apa terus cengok dengan hal-hal baru. Sedangkan anak lebay itu identik dengan tingkah laku yang super berlebihan. Nah, kalau anak layu itu apa? *serius nanya. Oke, lupakan sejenak tentang anak-anak itu, kita kembali ke alay.

Jadi alay ini dikategorikan dalam suatu komunitas yang memiliki bahasa dan gayanya sendiri. Sama seperti komunitas-komunitas lain, yang memiliki ciri khas tersendiri. Nah, Alay ini lebih berfokus pada bahasa, fashion dan tingkah laku. Kerennya, komunitas alay ini merupakan komunitas yang tidak pernah hadir dan menampilkan diri secara terang-terangan di dunia nyata. Alay memiliki eksistensi di dunia maya. Menurut Anderson dalamm tulisan Hadi yang berjudul Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis MARK SLOUKA Terhadap Jagat Maya (2005) alay merupakan sebuah komunitas bayangan tentang kebersamaan yang terdeteksi lewat generalisasi perilaku yang berkaitan dengan pola bahasa alay itu sendiri. Entah bagaimana caranya dan apa batasannya, kita bisa tau bahwa itu adalah bahasa alay atau bukan. Iyalah, bahasa aneh yang bukan bahasa Indonesia dengan sendirinya menjadi bahasa alay, seperti ciyus miapah? boljug nih blog.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, ke-alay-an ini muncul pada tahun 80-an akhir dengan bahasa gaulnya. Kalau zaman dulu bahasa gaul itu istilahnya prokem. Silahkan tanya emak bapak. Mereka bakal gak ngerti apa itu bahasa gaul tapi kalau prokem mereka bakal ngerti. Alay mulai berkembang di zaman 90-an karena telepon genggam sudah mulai banyak meskipun belum seperti kayak kacang goreng seperti sekarang, tapi bisa dipukul rata untuk anak-anak yang tinggal di kota hampir memiliki telepon genggam, setidaknya mereka tau dan pernah megang meskipun kadang telepon genggam itu punya emak, babe, kakak, atau teman. Melalui segenggam telepon itulah bahasa ke-alay-an itu muncul. Iyes! bahasa alay muncul melalui pesan singkat. Mungkin gak sengaja kali ya, masih grogi nulis jadinya s3p3rt1 1ni. d4n j4d1 tReN di z4maNnya s4mpa1 S3kar4ng. Eh, kok tulisan saya jadi alay. Maklum, saya anak 90-an. wkwkwkwkkk!

Dan zaman sekarang alay menjadi begitu terkenal bahkan bisa jadi sebagai trend hidup anak muda karena ke-alay-an itu menyebar bagai virus yang terus tumbuh dan berkembang karena kecanggihan tekonologi. Yoi, selain telepon genggam udah kayak kacang goreng karena seorang pemulung juga punya telepon genggam, ditambah media sosial yang seabrek-abrek plus sinetron-sinetron aneh bin ajaib yang menunjukkan ke-alay-an. Gimana gak jadi tren coba. Karena bagi anak muda alay itu adalah keren!.

kok bisa?

Alay itu keren! karena dengan alay anak muda merasa terakui. Eksistensi. Iya, sebagai remaja yang dianggap masih kecil padahal udah merasa dewasa membutuhkan eksistensi. Keakuan diri. Pengakuan bahwa mereka ada. Dan alay salah satu caranya. Karena alay itu gaul. Gaul itu keren. Remaja butuh keren untuk diakui keberadaannya. Jadi, banyak remaja yang memilih alay. Karena alay adalah ekspresi pengungkapan diri. Menurut Subandy (2007) penguasaan bahasa gaul dianggap sebagai modal utama untuk bisa masuk dalam dunia yang diyakini membutuhkan orang-orang yang gaul. So? mau jadi anak gaul? mari bergabung dalam komunitas alay. huehehe!

Kalau dari sejarahnya, pada zaman 80-an bahasa gaul atau prokem atau bahasa alay ini muncul untuk mengakrabkan diri sesama teman agar suasana gak terlalu canggung dan tidak melulu serius. Bisa jadi sih, mengingat aturan zaman dulu yang begitu ketat dimana ada aturan-aturan tertentu yang melarang ini dan itu, kaku. Ada gap antara atasan dan bawahan, ada batasan antara orang berada dan kurang, ada spasi antara wanita dan laki-laki. Muncullah geng alay itu yang mengeluarkan bahasa-bahasa gaul agar diantara mereka menjadi lebih dekat, meleburkan pembatas. Tapi ternyata kebablasan, karena alay yang berkembang sekarang terlalu lebay, berlebihan dan bebas tersebar disemua kalangan. Anak-anak yang polos yang butuh inspirasi dan panutan akan melihat pola tingkah laku dan bahasa kakak pendahulunya maka secara sadar atau tidak, anak-anak polos itu jadi ikut-ikutan, karena  bagi mereka kakak-kakak pendahulunya itu adalah inspirasi dan keren. Sedangkan orang tua sebangsa nenek-kakek cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku cucunya dengan ke-alay-an ini sembari berkomentar zaman sekarang udah beda dengan zaman dulu. He-eh! Tujuan awal dari bahasa alay yang hanya untuk menghibur serta lawakan semata, kini mulai berubah arah haluannya menjadi sebuah trend atau gaya tersendiri.

Tapi ternyata yang awalnya alay itu hanya seputar bahasa, menjadi berkembang sampai pada gaya berpakaian dan kenarsisan. Kalau gaya anak 80-an saya kurang tau gimana, mungkin celana jubray, rok selutut kaos dan rambut a la demimore mungkin ya, *emang demimore anak 80-an ya?*, style anak 90-an beda lagi. Masih ingat film kuch-kuch hota hei atau film india lainnya dizaman itu atau film amigos? atau film bidadari, jin dan jun? atau film sejenisnya? Maka anak-anak akan dikatakan gaul dengan style yang seperti itu, pakai jaket dipinggang kayak rahul dan anjali atau gaya rambutnya kayak rahul atau tina, atau gayanya pedro dan ana di film amigos. ya, kira-kira seperti itulah ya. Sedangkan era 2000-an? hm, saya juga bingung gaya sekarang berasal darimana? tapi gak bisa dipungkiri bahwa film dan media sosial sangat mempengaruhi perkembangan ke-alay-an ini. Semakin berbeda dan menemukan gaya baru maka akan semakin alay. Semakin alay maka semakin keren *menurut orang alay, bukan kata saya ya. eh, jangan-janga saya termasuk alay?*. wkwkwkwk!.
 
Ke-alay-an sekarang lebih dikenal dengan istilah kekinian yang entahlah, yang jelas bagi saya semakin gak masuk akal, seperti setiap mau makan di sebuah tempat makan, foto dulu, mau apa aja foto dulu, update status dulu atau apalah, yang penting melapor dulu ke media sosial. Masalah buat lu? Gak juga sih, tapi rada terganggu aja. Dan ternyata dalam tulisan Fenomena Bahasa Alay : Simbol Generasi Muda Masa Kini menyebutkan bahwa tingkah laku (gaya dan cara berpakaian) yang membuat mata risih melihatnya dan bahasa yang tidak enak didengar dan tidak biasa bagi masyarakat adalah salah satu ciri ke-alay-an.

Pola tingkah laku alay terlahir dari bahasa alay yang membentuk komunitas bayangan yang melahirkan pola pikir komunitas itu menjadi aneh bin lebay, menemukan gaya baru atau menjadi pengikut orang-orang terkenal dengan gaya dan pola tingkah laku yang berlebihan itu keren. Tapi kalau dipikir-pikir, alasannya simpel sih, eksistensi!. Ingin pengakuan diri. Iya gak sih? Makanya jadi alay biar semua mata tertuju padamu.

Sedikit cerita kekinian atau ke-alay-an yang sudah menyimpang itu yang pernah saya temui adalah ketika para pejantan tangguh dengan bangganya berfoto a la wanita cantik. Entah apa maksudnya. Kalau dibilang transgender juga bukan sih. Atau sedang berteater ria juga gak. Iseng saya nanyain alasannya berfoto dan mengunggah pose foto-foto itu, dan alasannya sederhana. mereka bilang "ih, kakak gak gaul. biar kekinian atuh kak". seketika saya cuma bisa tersenyum miris garuk-garuk kepala.

Alay, seperti menjadi identitas remaja saat ini. Karena ya begitu, ketika mereka mencari jati diri, yang mereka temukan adalah panutan-panutan alay hampir disemua jaringan yang mereka temui. Acara di televisi, media sosial yang ada, bahkan di lingkungan terdekat semuanya sudah termakan dengan ke-alay-an yang ada. Meskipun alay yang sekarang udah beda banget dengan alay zaman 80-an dan 90-an. ke-alay-an sekarang terlalu berlebihan melewati batas logika saya, menurut saya. Emang sih, gak ada batasan yang kongkrit terhadap ke-alay-an seseorang. karena memang alay memiliki definisi yang tak hingga. Siapapun bisa saja masuk dan sedang berada dalam komunitas ini. atau jangan-jangan saya juga sedang alay? ah, entahlah.

Dari sepanjang tulisan dan beberapa bacaan yang sudah saya baca itu, saya cuma bisa menyimpulkan dan setuju bahwa semua hal yang berlebihan itu tidak baik. karena menurut saya sendiri, jika awalnya bahasa alay itu bertujuan untuk mempereat hubungan antar individu dalam kelompok, maka alay gak masalah. Tapi menjadi masalah adalah ketika bahasa alay yang berlebihan dan berbau negatif yang kemudian ditunjukkan oleh tingkah laku dan gaya berpakaian. Iya, alay yang terlalu alay itu sungguh mengganggu umat manusia lainnya, maka alay itu menjadi tidak baik. jadi harus dimusnahkan! *eh

Yah, apaun itulah. mau alay atau gak, alay yang terlalu alay atau apalah, yang jelas siapapun pernah menjadi alay. Iya! Siapapun pernah bergabung dalam komunitas alay. Karena alay adalah komunitas umum yang selalu terbuka untuk siapa aja yang pernah menghadapi segala sesuata dan bertingkah laku secara lebay. Jadi, misalkan kamu pernah galau secara berlebihan atau menulis tetapi tidak semua orang mengerti, welcome to the Alay Grup. Huehehe!

Semoga alay kembali kepada tujuan awalnya untuk mempererat hubungan antar teman. Bukan alay yang lebay yang membuat "enek" sebagian orang yang mulai kembali normal.

Ipehthepooh
Pekanbaru, 2 Oktober 2016


Catatan referensi:

Ibrahim, Idi Subandy. 2007. Budaya Populer Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Penerbit Jalasutra
Hadi, Astar. (2005). Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis MARK SLOUKA Terhadap Jagat Maya. Yogyakarta, LkiS.
Fenomena Bahasa Alay : Simbol Generasi Muda Masa Kini dalam Jurnal unair.ac.id


Bloom and Grow Forever!

Lihatlah bunga disana bersemi
Mekar, meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari, badai menghampiri
Kau cari kemana, dia masih disana
Walau tak semua tanya datang beserta jawaban
Dan tak semua harapan terpenuhi
Ketika bicara sesulit diam,
Utarakan, utarakan, utarakan!
[Banda Neira-Utarakan]

Penggalan lirik ini mengingatkan gue pada serumpun bunga yang tumbuh di atas ketinggian sana. Meski hujan badai, dia masih disana. Tetap tumbuh dan memberikan keindahan. Bunga apalagi selain bunga abadi, Edelweis!
Edelweis di tegal alun, papandayan 2014
Eh, udah ada belum ya yang meneliti tentang budidaya bunga ini, secara bunga edelweis ini sudah masuk kategori terancam dalam data Red List IUCN (IUCN RedList, 2008). *IUCN [International Union for Conservation of Nature] atau biasa dikenal World Conservation Union merupakan lembaga konservasi sumber daya alam dunia yang berdidiri pada tahun 1948 dan berpusat di Switzerland.

Ya iyalah bunga ini masuk dalam kategori terancam, pada tahun 1990 aja udah tercatat 636 tangkai dicuri setiap tahun di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Pada tahun 2012 dilakukan pengukuran ulang oleh Pengendali Ekosistem Hutan TNGP, ternyata terjadi degradasi luas areal edelweis di alun-alun kencana yang tadinya 51 ha menjadi 30 ha.

Penasaran gak sih siapa yang pertama kali menemukan bunga edelweis. Kenapa edelweis itu disebut bunga abadi? Emang bedanya dengan bunga-bunga yang lain apa? Bisa gak ya edelweis ini di tanam di halaman rumah? Kan kalau bisa, gak perlu harus mendaki gunung lewati lembah dulu biar bisa menikmati mekarnya si bunga, tinggal nongkrong aja di halaman rumah sambil minum segelas kopi susu dan ngemil pisang goreng. Huehehe!

Setelah berguru pada om wiki dan membaca beberapa jurnal orang via om gugel, gue menemukan fakta bahwa di Indonesia orang yang pertama kali menemukan bunga edelweis adalah  Prof. Caspar Georg Karl Reindwart pada tahun 1819 di tebing gunung Gede. Tapi edelweis yang ditemukan itu berbeda dengan edelweis di pegunungan alpen dan wilayah Eropa lainnya. Kok bisa? Ternyata eh ternyata memang ada dua jenis edelweiss yang terkenal yaitu Leontopodium alpin dan Anaphalis javanica. Kedua bunga itu berasal dari keluarga yang sama yaitu Asteraceae tapi genus yang berbeda. Jadi meskipun sama-sama Edelweis, tapi penampakannya berbeda. Nah, edelweis yang sering ditemui di gunung-gunung Indonesia itu ternyata jenis Anaphalis javanica yang berada di ketinggian 2000-3000 mdpl, sedangkan Leontopodium alpin merupakan edelweis yang berjejer rapi di pegunungan Alpen  (Eropa), Asia (Himalaya, Jepang dan China) yadan Amerika Latin yang tingginya lebih dari 3400 mdpl. Kata Edelweis sendiri berasal dari bahasa Jerman, Edel dan Weis. Edel berarti mulia sedangkan Weis berarti putih.

Edelweis sering dibilang sebagai bunga abadi atau yang lebih kece dikit everlasting flower karena konon ceritanya bisa bertahan sampai 100 tahun dalam keadaan kering dan bentuknya gak berubah. Ingat! dalam keadaan kering, bukan dalam keadaan segar.  Berbeda dengan bunga-bunga lain yang juga bisa dikeringkan tetapi masih bisa rontok dalam hitungan bulan atau bentuknya udah jadi dua dimensi.  Itu loh, seni oshibana dari Jepang kan pake bunga kering juga yang dibentuk dalam dua dimensi dan bisa bertahan lebih lama juga. Tau gak, fakta lain yang guet temukan ternyata bunga yang bisa bertahan lama itu cuma kelopaknya aja karena serbuk sari yang berwarna kuning yang berada ditengah-tengah bunga akan rontok tiga hari setelah mekar. Loh kok bisa kelopaknya bisa gak rontok gitu? Usut punya usut, edelweis ini punya hormon etilen yang lebih banyak dari bunga lainnya yang dapat menghambat hormon lain untuk mengugurkan bunga. Edelweis mulai berbunga antara April dan Agustus. Makanya bulan Agustus itu menjadi bulan yang sakral bagi para pendaki, selain untuk mengibarkan kain berwarna merah putih juga sebagai moment untuk dapat menikmati harumnya wangi bunga edelweis yang sedang mekar.

Kenapa harus edelweis yang menjadi primadona? Padahal masih banyak tanaman-tanaman yang gak kalah kece di deretan gunung Indonesia. Kenapa orang-orang melambangkan keabadian cinta pake bunga ini. Kenapa? hayo, kenapa? *hidup gue penuh dengan pertanyaan kenapa ye? wkwkwwkwkkkk!

Ternyata karena edelweis memang bunga yang spesial. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor di tanah vulkanik muda di daerah pegunungan yang tandus, banyak batu, miskin unsur hara, suhu yang ekstrim, dengan kondisi lingkungan yang banyak sulfur, angin badai bahkan ketika hujan es sekalipun edelweis masih bisa bertahan untuk hidup memberikan bunga-bunga yang ciamik yang suka dipetikin sembarangan oleh para yang suka ngaku pecinta alam. Canggih gak tuh, edelweis masih bisa tumbuh di lingkungan yang ekstrim dan mencekam gitu. Menurut Brundrett dan teman-temannya (1996) edelweis ini tumbuh dengan cara bersimbiosis mutualisme dengan mikoriza. Mikoriza itu sejenis jamur non patogen yang berfungsi untuk mengikat nitrogen dan fosfor yang berguna sebagai agen pupuk biologi yang dapat memperbaiki struktur tanah. Mikoriza mendapatkan makanan dari edelweis dan edelweis mendapatkan nutrisi dan hara dari mikoriza. Seperti hubungan aku dan kamu. iya kamu! *kamu yang masih entah dimana. huahahaha!

Edelweis tidak hidup sendiri tapi berumpun, tingginya bisa mencapai 4 m dan punya banyak cabang. Kata Van Leeuwen (1993) batang edelweis sering ditumbuhi lumut karena sifat batang edelweis yang berongga dan ditutupi kulit tebal yang membuat batangnya sedikit lembab. Tujuannya memang untuk menyimpan air pada batang karena kondisi lingkungan yang ekstrim yang cuma mengandalkan air hujan dan kabut.
Alun-alun surya kencana, 2013
Tidak hanya batang yang beradaptasi dengan keadaan ekstrim itu, tapi daun-daun edelweis juga melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan tumbuhnya. Daun edelweis diselimuti oleh bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan dan berbentuk lancip hampir mirip jarum. Fungsi bulu-bulu tersebut untuk menangkap cahaya matahari secara optimal sehingga dapat digunakan untuk kegiatan fotosintesis. Hal ini karena di puncak gunung tersebut sering datang kabut tipis yang turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin *eh, kenapa jadi berpuisi? Plaaakkkk!
Rumpunan edelweis di lembah mandalawangi 2014
Bentuk daun yang lancip berfungsi untuk mengurangi transpirasi atau penguapan air dari daun yang berlebihan sehingga kebutuhan air tetap dapat dipenuhi meskipun ketersediaannya terbatas. Satu lagi, daun yang imut-imut gitu juga berfungsi untuk menahan terjangan angin badai yang sering menyapa gunung sehingga edelweis masih bisa berdiri dengan kokoh dan tak tergoyahkan. Warna daun edelweis hijau muda keabu-abuan dan akan menjadi lebih gelap seiring bertambahnya umur tumbuhan karena adanya degradasi sel mesofil akibat terkena paparan sinar matahari yang lebih lama.

Kenapa edelweis termasuk kedalam kategori tanaman langka yang masuk dalam daftar terancam dan harus di lindungi? Padahal di gunung Gede aja luas lahan yang penuh dengan edelweis ini mencapai 51 ha dan tinggal 30 ha di tahun 2012. 30 ha loh! itu bukan luas yang sedikit untuk kategori kebun bunga. dan itu juga baru satu gunung. Indonesia kan punya banyak gunung. Jadi kenapa edelweis masih temasuk tanaman langka?

Luasnya sih memang masih cukup luas, tapi kemampuannya untuk berbunga dan tumbuh itu loh yang rada lama. Dari data penelitian Van Leeuwen ternyata edelweis membutuhkan waktu paling cepat 5 tahun untuk dapat berbunga dan untuk mencapai ketinggian 20 cm edelweis membutuhkan waktu tidak kurang dari 13 tahun. Edelweis berkembang biak melalui biji yang jatuh dibawa angin. Jika lokasinya pas dengan kebutuhan si biji maka tumbuhan edelweis akan tumbuh, dan 5 tahun kemudian baru akan berbunga dengan ketinggian yang gak bakal lebih dari 20 cm. Biji itu gak bisa tumbuh kalau tempatnya banyak naungan pohon-pohon. Nah, bayangkan gimana ceritanya kalau bunga-bunga itu dipetikin dan dibawa pulang? Ya biji gak bakal terbentuk dong! kan bunganya dibawa turun. Gak ada biji jadi jangan harap edelweis bakal terus ada. Emang sih, sekarang sudah mulai ada yang melakukan penelitian melalui stek batang edelweis. dan hasilnya tetap aja belum ketemu yang pas. Daya tumbuh dari stek batang itu gak lebih dari 40% dalam waktu 16 minggu! Itu baru sampai berakar dan belum stabil. Jadi memang gak ada cara sih untuk melindungi edelweis selain terus mencari cara budidaya yang pas agar edelweis bisa tumbuh dengan baik dan menjaga edelweis yang sudah ada.

Percaya atau gak, edelweis adalah contoh tumbuhan yang baik. Karena edelweis memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem. Edelweis merupakan tanaman pionir untuk suksesi lahan. Ingat kan ya, kalau edelweis ini adalah tumbuhan yang dapat tumbuh di kondisi unsur hara yang miskin banget. Nah, edelweis ini sebagai tumbuhan pembuka di lahan-lahan yang ekstrim itu. Maksudnya setelah edelweis tumbuh, maka tumbuhan lain juga dapat tumbuh karena unsur hara yang sudah tersedia karena kerjasama edelweis dan mikoriza, dan selanjutnya tumbuhan edelweis akan hilang karena perkembangannya terhambat. Edelweis suka dengan paparan matahari yang full, jadi kalau udah banyak pohon, maka edelweis akan mati. Selain sebagai suksesi, edelweis juga sangat membantu dalm mencegah erosi di lereng-lereng gunung karena sifat tanamannya yang perdu sehingga dapat membatu menutupi tanah. Makanya edelweis itu cuma bisa ditemui di tempat-tempat yang udah gak ada tumbuhan lagi selain edelweis, seperti di tebing-tebing jurang atau di hamparan luas sebelum puncak-puncak gunung. FYI, bunga edelweis ini menjadi lambang kesucian di Switzerland karena latar belakangnya.


Jadi, keliatan kan ya kenapa edelweis itu begitu spesial, seperti kamu, *eh, laper!.

Iya! Edelweis itu mengajarkan banyak arti hidup. Kesederhanaan! Edelweis hidup dengan sederhana tanpa harus mengeluh ini dan itu. Edelweis itu gak manja. Edelweis hidup dengan menerima dan terus tumbuh memberikan keindahan. Edelweis  gak pernah ambil pusing dan mengutuk takdir yang menempatkannya pada kondisi yang parah gak menduknung gitu, miskin unsur hara, berbatu, dingin, hujan badai, atau panas terik sekalipun, yang gue tau edelweis tetap disana berbunga. Edelweis gak pernah marah dengan tangan-tangan jail yang ngakunya cinta tapi malah merusak. Edelweis masih tetap kalem, dan lagi-lagi masih terus berbunga.  Edelweis mengajarkan gue untuk melakukan usaha yang sangat keras dan terus beradaptasi untuk dapat bertahan hidup meskipun lingkungan tumbuhnya tidak mendukung. Ah, edelweis! gue malu sebagai manusia hidup kok manja banget. Padahal kalau dipikir-pikir lingkungan hidup gue gak separah lingkungan edelweis. Kalau edelweis bisa ngomong, mungkin edelweis bakal bilang ini kali ya, "Bloom and Grow Forever!".

Cuma itu kok.
"Bloom and Grow Forever!"

Sederhanakan?

Pekanbaru,
31 Agustus 2016


*catatan referensi:
1. Aliadi, A., et al., 1990. Kemungkinan penangkaran edelweis (Anaphalis javanica) dengan stek batang. Media Konservasi. 3(1):37
2. IUCN Red List. 2008
3. Van Leeuwen W.M.D., 1993. Biologyof plants and animals occuring in the higher parts of mount Pangrango-Gede in West Java. Uitgave van de N.V. Noord Hollandsche. Amsterdam
4. Brundrett, M., Bougher, N., Dell, B., Grove, T. and Malajczuk, N., 1996, Working with Mycorrhizas in Forestry and Agriculture. ACIAR, Canberra.

Kongkow Nulis

"Energi positif itu menular. Berkumpul, berdiskusi dan bercengkrama dengan orang-orang yang memiliki energi positif berlebih akan membuat kita tertular energinya".

Sejak pulang kampung awal bulan April lalu, kegiatan saya berubah drastis. Dari yang bebas kesana sini, nongkrong-nongkrong yang serius sampe nongkrong gak jelas cuma buat ngobrol ngalor ngidul menghabiskan malam menjadi anak rumahan yang akses kemana-mana terbatas. Secara angkutan umum menjadi barang langka dan saya masih menjadi manusia jaman dulu yang gak bisa bawa motor. Hiks! Tinggal di Pekanbaru berarti kembali menjadi anak perempuan yang harus patuh pada peraturan rumah. Tidak boleh pulang malam, mau pergi kemana harus ngomong, pulang telat harus ngelapor, bangun harus pagi, jadwal nyuci baju yang rutin dan masih banyak peraturan lainnya. Dan ini berhasil membuat saya mengalami gejala kegalauan akut secara hidup di Bogor hampir 9 tahun tanpa ada aturan yang jelas tiba-tiba kembali menghadapi aturan ini dan itu. Ah, kota hujan bawa saya kembali ke pangkuannmu. wkwkwkwkkk....!

Kegiatan yang mulai monoton menyebabkan saya lebih sering berselancar di dunia maya. Mencari informasi dunia melalui segenggam alat canggih yang pada akhirnya mengantarkan saya pada sebuah IG kece badai ini, @kongkownulis.

Ngepoin IG ini, cukup membuat saya penasaran dengan komunitas ini. Banyak komunitas-komunitas yang saya temui berkegiatan jika ada event ini dan itu, misalnya banjir, asap, atau apalah yang semacamnya. Atau komunitas yang suka membuat event-event untuk berkompetisi ini dan itu atau apalah. Atau komunitas yang suka kumpul tapi sedikit edukasinya yang penting eksis, dan masih banyak komunitas lain yang kadang buat saya bertanya "apa sih nih?".

Dari nama Kongkow Nulis, saya mengambil kesimpulan bahwa komunitas ini adalah sekumpulan dari orang-orang yang suka membaca dan menulis. Karena membaca dan menulis itu satu kesatuan kan ya? Sebelumnya agak-agak mikir juga sih buat gabung ke komunitas ini. Karena bagi saya menulis itu adalah kegiatan untuk membuang bosan, menulis apa yang dipikirkan tanpa harus mikirin EYD, menjadi perekam jejak karena kepala saya memiliki keterbatasan untuk menyimpan memori, atau tempat sampah untuk "caci maki" tanpa bersuara. Jadi ngerasa beda aja sama penulis-penulis lainnya. Setau saya, biasanya komunitas menulis itu ada genre tertentu, apakah fokus di fiksi, puisi, atau karya-karya ilmiah lainnya. Sedangkan tulisan saya? lebih banyak ngelanturnya daripada benarnya. wkwkwkwkkkk...!

Tapi, setelah mikir-mikir, kalau gini terus mah ya gak bakal berkembang. Ya bakal gitu-gitu aja. padahal zaman terus berputar, perubahan itu pasti. Jadi perlu pengetahuan dan wawasan tentang dunia membaca dan kepenulisan. Meskipun gak minat buat dijadiin profesi, setidaknya gak bego-bego amat tentang dunia tulis menulis ini. huehehe. hitung-hitung menambah wawasan dan jaringan teman juga, siapa tau nemu jodoh *yah laper! eh, lemper, eh, maksudnya baper!* Jadilah di detik-detik terakhir bulan Juli lalu, saya mengirimkan biodata untuk ikut seleksi penerimaan anggota Kongkow Nulis.

Dan taraaannggg!! Alhamdulillah yah, sesuatu! Saya menjadi bagian dari komunitas ini. hehe.. jujur, saya sama sekali gak ada gambaran isi komunitas ini apa selain membaca dan menulis, dan berhubung saya juga suka baca dan nulis seenaknya, jadi ya gak masalah lah ya. Yang kepikiran sih mau minjam buku. *lagi fakir buat beli buku* hehe..

Setelah kumpul perdana di kegiatan Kongkow Ngobrolin Minggu lalu, saya mulai manggut-manggut, komunitas ini sepertinya beda. Gak cuma membaca dan menulis aja, tapi ada tambahan wawasan, sharing informasi dan pengalaman juga. Dan yang seru itu ketika berkomunikasi dalam grup whatsappnya. Belum kenal, tapi merasa udah kenal lama. Asal nimbrung aja, padahal ketemu juga belum. huahahaha!

Bagi saya yang baru gabung ke komunitas ini cuma bisa geleng-geleng kepala takjub. Ada ya ternyata sekelompok manusia yang begini *eh*. Kumpulan orang-orang yang memiliki energi positif berlebih dan membuangnya ke kegiatan-kegiatan yang positif juga dan bisa menghasilkan sebuah karya. Keren gak tuh?
Iya! Di sini itu kumpulan penulis-penulis yang ngakunya amatiran, tapi udah punya tulisan seabrek dan udah ada yang meluncurkan buku. Dan yang menjadi luar biasa itu karena disini itu gak ada tuntutan untuk mengubah gaya tulisan harus begini dan begitu. Semua anggotanya punya gaya dan karakter masing-masing.

Pada akhirnya, saya jadi mikir, siapa sih yang punya ide buat komunitas kayak gini? maksudnya apa? Gak ada kerjaan apa ya kok mau buat komunitas menulis yang gak jelas gini arahnya kemana? trus kok bisa kece gini?

Setelah ngulik-ngulik dikit, ternyata sejarah singkat komunitas ini dibentuk, ya emang tujuannya begitu. Komunitas yang dapat menjadi wadah berkumpulnya orang-orang yang hobi baca dan nulis karena memang kesenangannya. Jadi emang gak ada paksaan dan gak ada aturan harus nulis gaya ini atau gaya itu.  Fokus pada "strength"nya aja kata si abang foundernya. Toh  karena memang setiap manusia itu sama, tapi memiliki ciri yang berbeda. Sama halnya dengan menulis. Banyak orang yang suka menulis, tapi dengan cara dan karakter yang berbeda. Jadi kenapa harus disamaratakan dengan satu gaya? saya setuju dengan alasannya bang, *tos

Gak dipungkiri. meskipun zaman udah canggih tapi membaca dan menulis masih menjadi dunia yang rada-rada aneh di dunia anak muda. Membaca masih identik dengan kutu buku yang pake kaca mata tebal mainnya cuma di perpustakaan yang gak punya teman. Sedangkan menulis masih identik dengan anak muda yang galau penyendiri yang punya banyak masalah. Meskipun udah banyak bukti bahwa banyak anak muda sekarang yang bisa menghasilkan karya dari membaca dan menulis, tapi tetep aja kesan pertama buat gagal move on. Makanya para foundernya, sebut saja bang Ebi dan kak Melati membuat Kongkow Nulis. Salah satu alasannya ya itu tadi, biar anak muda sekarang move on dan melihat dunia membaca dan menulis itu adalah dunia yang sangat menyenangkan. Harapannya juga bisa menghasilkan karya. Keren ya? hehe!
Saya jadi ingat di salah satu novel Fahd Djibran yang judulnya Curhat Setan *kalau gak salah ingat* ada kalimat yang keren tentang alasannya menulis. Katanya "Saya menulis agar kelak cucu saya mengenal siapa kakeknya. Karena faktanya banyak orang yang mengenal Einstein tapi tidak mengenal siapa kakeknya. Sederhana sih. Karena Einstein menulis [Redaksinya udah pake bahasa saya]". Dan menurut saya, di komunitas ini menjadi cara agar kita bisa terus belajar menulis yang mudah-mudahan membuat kita dikenal setidaknya oleh anak cucu kita nanti. Kok bisa gitu? iya! Komunitas ini menganjurkan anggotanya untuk menulis tiap minggu. Nah bagi yang menulisnya [saya:red] masih tergantung suasana hati bisa belajar untuk disiplin. Mudah-mudahan tulisannya menjadi lebih baik dan bisa menginspirasi. huehehe!

Satu hal lagi yang menarik dari komunitas ini, tentang keseriusan kali ya. Iya, komunitas ini serius dalam pengembangannya. Untuk penerimaan anggota barunya aja gak main-main, ada seleksinya. saya pikir wawancara itu cuma sekedar formalitas aja, tapi ternyata bener di seleksi. muihihi. Alasannya sederhana, komunitas ini gak mau cuma hanya jadi komunitas, tapi sebuah gerakan yang punya visi dan misi juga. Seperti yang kita tau, gimana mau buat gerakan kalau sistem didalam sebuah organisasi itu masih acak berantakan. Makanya, komunitas ini diisi oleh orang-orang yang mempunyai visi dan misi yang sama terutama di dunia baca dan nulis dan pengembangannya. Kece gak tuh?

Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari komunitas ini. Berharap menjadi tempat belajar untuk mendisiplinkan diri dalam membaca dan menulis, dan tentu aja ingin menjadi bagian dari gerakan tersebut. Karena tanpa membaca dan menulis kita bukan siapa-siapa.

poto perdana nih sama komunitas Kongkow Nulis,
 Warkop Rimbang Baling210816
Mengutip kalimat kakek Pramoedya Ananta Toer "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Selamat menulis!

Pekanbaru,
23 Agustus 2016

Fatherhood

wifi lancar jaya di awal bulan itu melenakan ya. wkwkwkwkk..
niatnya sih ngejar deadline dari editor SayuranKita.com, tapi ya gitu deh.. masih cari bahan buat nulis sambil ngedengerin lagu-lagu Endank Soekamti via aplikasi JOOX. sampai di lagu ini, Fatherhood.

Liriknya sederhana, tapi ngena banget. kayak bokap gue yang nyanyi. huehehehe...
so, markinyi, mari kita nyanyi...!!!

Fatherhood dari Endank Soekamti

Anakku sayang, jangan nakal, jangan ikut ikut Bapakmu
Anakku sayang, jangan cengeng, jangan ikut ikut Ibumu

Ku tak bisa lihat kau sedih, ku tak bisa marah padamu
Ku tak bisa tidak bilang iya

Boleh jadi apa saja, yang penting kamu bahagia
Hanya satu yang ku minta, tetaplah jadi orang baik
(kalimat ini nih, yang selalu terlontar dari mak babe. kata mak babe "up to you dah, mau jadi apa. yang penting kamu senang dan bahagia. tetap jadi orang baik dan tidak merepotkan orang lain". Siap mak, be..!! aye terus berusaha untuk jadi anak baik dan bahagia. hueehehe..)

Dalam doaku, namamu ku sebut
Semoga selalu terjaga
(penjaga paling mantap. doa mak babe tuh ibarat pengawal yang selalu ngejagain anak-anaknya. doa-doa mereka bagai senjata pamungkas. Arigatoo ne, mak, be..!!)

lanjut mang,
mari berbahagia dengan menjadi apa yang kamu senangi dan inginkan, dan tetaplah menjadi baik..!!
pesan sederhana kan? Menjadi orang baik..!!
hehe...

Roger..!!

Timeline dan media sosial bahkan stasiun TV sedang membahas kata itu. dan saya akui, saya juga gak mau ketinggalan untuk mengabadikan cerita yang akan menjadi sejarah di kampus saya. hehe..

Roger..!!

Roger..!!
Ternyata satu kata itu menjadi kata yang melegenda dan menginspirasi hampir seluruh manusia-manusia yang pernah membuat cerita di kampus saya, IPB. Saya tidak tau, sejak kapan Roger hadir didalam kampus, yang jelas sejak saya menginjakkan kaki di kampus itu, kata Roger bukanlah sesuatu yang asing. 

Roger, entah bagaimana sejarahnya, kata itu sudah menjadi identitas seorang Bapak yang hampir setiap hari hampir kau temui di seluruh penjuru kampus. Bukan, bukan berarti Roger itu banyak, atau punya ilmu memperbanyak diri, atau ilmu kungfu lainnya yang membuat keningmu berkerut bagaimana Roger bisa ada di seluruh penjuru kampus. Tapi, Roger memang seorang Bapak pedagang asongan keliling. Dulu si Bapak menjual rokok, tapi tidak dengan sekarang. Ya, perubahan memang selalu terjadi kan? Begitu juga dengan Roger. Sekarang Roger lebih menyediakan kebutuhan mahasiswa yang lebih urgent, apalagi pas ujian gak bawa pulpen. Nah, Roger adalah penyelamatnya. Atau mau beli pulsa tapi malas jalan keluar kampus, maka tunggu saja Roger yang akan lewat dengan lagunya “cek pulsa sebelum jauh”. Atau mau beli permen sebagai bekal kuliah biar gak ngantuk, maka ada Roger yang akan menghampiri kelasmu. Begitulah Roger yang melegenda itu.

Jujur saja, dulu saya tidak terlalu peduli dengan Roger. Sama dengan penjual-penjual keliling lainnya. Cuma Roger memang sedikit istimewa, sifatnya yang ramah, menyapa siapa saja yang dia temui membuat Roger banyak di kenal dan mengenal mahasiswa. Jadi tidak heran, kalau sedang lewat ke sudut tongkrongan ada Roger disana ikut nimbrung berdiskusi. Atau melihat Roger sedang berbincang dengan mahasiswa-mahasiswa sambil lalu di koridor-koridor fakultas. Atau tiba-tiba kamu dengar suara Roger, “lebih baik mencegah daripada mengobati” dengan logat khas betawinya. Hm, begitulah Roger yang saya kenal.

Roger hanya seorang pedagang asongan keliling. Tapi ternyata Roger memberikan banyak inspirasi. Kesederhanaannya, keramahtamahannya, kebaikannya dan semangat mencari rezeki halal dengan keliling kampus menjadi hal yang istimewa bagi hampir seluruh penghuni kampus. Siapa yang tak kenal Roger?

Hm, entah bagaimana ceritanya beberapa hari terakhir, kampus, dan hampir seluruh sosial media dihebohkan oleh Roger. Bukan Roger sih yang bikin heboh, tapi orang-orang di sekitar Roger. Terlepas dari cerita hebohnya Roger, dari cerita Roger itu saya mendapatkan sesuatu yang luar biasa, menyadari dan melihat bahwa apapun yang kamu lakukan akan memberikan dampak juga padamu. Apapun yang kamu tanam, cepat atau lambat akan kamu tuai.

Mungkin sekarang Roger sedang menuai apa yang dia tanam dan sebarkan. Kebaikan kecil yang sederhana. Ramah dan tersenyum pada setiap orang yang dia temui.
seperti kalimat yang baru saja saya baca pagi ini di timeline seorang teman, 

" Jangan kalian meremehkan suatu kebaikan, meski hanya berupa keceriaan wajah ketika kalian bertemu dengan kawan kalian, (HR. Bukhari)"

Iya, begitulah cara Roger memberikan kebaikan dan mengikat silaturahmi. 
Yoiyoi..!!! Kebaikan dan kesederhanaan Roger ternyata menginspirasi dan memberikan kesan yang mendalam, bukan hanya pada saya, tetapi hampir seluruh manusia-manusia yang pernah ia temui. ^^

Bagaimana dengan kita, kebaikan apa yang sudah kita lakukan?
sudah tersenyum hari ini?
sudah menyapa teman-teman di sekitar kita?
*selfreminder*

2 Maret 2016
Dramaga, IPB.

Tambora..!!



Mendengar kata Tambora bukan untuk yang pertama kali, tapi jujur saja sebelumnya saya tidak tau letak Tambora itu ada dimana. Tambora lebih dikenal dengan kopinya, meskipun saya juga belum pernah mencicipi nikmatnya kopi Tambora. Tapi bukan berarti Tambora itu hanya sebatas daerah yang terkenal dengan kopinya. 
Hijaunya Tambora

Ternyata, Tambora memiliki hal yang lebih menarik daripada hanya sekedar cerita kopi. he-em, Tambora juga  merupakan salah satu nama gunung di Indonesia. Tapi, gunung Tambora sendiri jauh tenggelam di banding dengan nama gunung-gunung Indonesia yang lain. hm.. ada apa gerangan? yoi, saya sendiri juga baru ngeh dan mulai tertarik dengan Tambora saat seorang teman *yang hampir selalu menjerumuskan saya untuk lebih mengenal jejeran gunung Indonesia* mengatakan bahwa dia akan pergi mengunjungi Tambora. Ingin bersama-sama pendaki dari belahan dunia lain memperingati 200 tahun meletusnya Tambora, katanyan saat itu. hei..!! pendaki belahan dunia lain? iyes..!! Faktanya, ternyata Tambora lebih dikenal oleh orang asing daripada orang Indonesia sendiri.
Oke, mari berkenalan dengan Tambora sebelum nulis ngalor ngidul tentang apa saja yang berhubungan dengan Tambora. 
gunung tambora dari ketinggian

Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa, bagian dari Kepulauan Nusa Tenggara. Gunung ini membentuk rantai selatan kepulauan Indonesia. Tambora membentuk semenanjung yang dikenal dengan semenanjung Sanggar. Di sisi utara semenanjung itu, ada laut Flores, dan di sebelah selatan terdapat teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Pada mulut teluk Saleh, terdapat pulau kecil yang disebut Mojo. Tambora dikelilingi oleh desa Sanggar, Doro Peti, Pesanggrahan dan Calabai.  Dan Kota terdekat yang terletak dikaki gunung ini ada Kota Bima dan Dompu. Tambora terbentang 340 km di sebelah utara sistem palung Jawa dan 180-190 km di atas zona subduksi. Karena Tambora terletak di atas zona subduksi, hal ini mengakibatkan Tambora pernah menduduki peringkat pertama sebagai gunung berapi tertinggi di Nusantara *belum menjadi Indonesia*. Yoi bro, ketinggiannya mencapai 4300 mdpl..!!!  dan setelah meletus sampai saat ini, ketinggian gunung Tambora hanya mencapai 2.850 mdpl.
gambaran Tambora
* Zona Subduksi itu ternyata  merupakan zona yang terdapat pada batas antar lempeng yang bersifat konvergen, karena perbedaan massa jenis antara kedua jenis lempeng. Lempeng yang lebih besar massa jenisnya menunjam kebawah lempeng lainnya. Penunjaman ini  terjadi di batas antar lempeng samudra dan benua atau di antara sesama lempeng samudra. Dan lagi-lagi, ternyata Zona Subduksi adalah salah satu tempat bagi tebentuknya deretan gunung berapi dan gempa bumi.*

Ternyata Tambora itu menarik. Gak cuma seberapa dahsyat letusannya. Tau gak, ternyata sampai sekarang, masih banyak arkeolog asing sana main ke Tambora, Cuma buat menggali apa, mengapa dan bagaimana cerita kisah ini. Wow gak sih? *apakah, arkeolog Indonesia juga melakukan hal yang serupa, cuma gak di ekspose jadi gak terkenal? Saya juga gak tau*. 

Kenapa Tambora bisa terkenal sampai Eropa, Afrika dan Amerika sana. Ternyata 200 tahun lalu, akibat letusan Tambora ini terjadi yang namanya “ the year whitout summer”, Tahun tanpa musim panas. Karena aerosol sulfat yang dikeluarkan oleh letusan Tambora tertahan di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari ke bumi. Sehingga gelap masih menyelimuti Benua Eropa pada musim panas. Makanya peristiwa itu dikenal sebagai 'Tahun tanpa musim panas'.  Kenapa aeroso sulfatnya bisa menghalangi sinar matahari? Karena tinggi letusannya mencapai 43 km, setinggi lapisan udara stratosfer, lebih tinggi dari ketinggian gunung Everest dan ketinggian pesawat terbang..!!

Tambora meletus tahun 1815 pada bulan April tanggal 10. Material vulkanis yang dikeluarkan saat Gunung Tambora meletus mencapai lebih dari 100km kubik atau 100 milliar meter kubik, sedangkan Gunung Merapi 'hanya' memuntahkan 150 juta meter kubik. See? Betapa dahsyatnya letusan itu? Yuhu..!! suara ledakan itu sampa ke Sumatera yang jauhnya 2000 km. Eh, bukan, tapi juga sampai ke Singapura. Asap dan abunya? Yang jelas sampai kemana-mana. Karena sampai pada tahun 1816, hampir seluruh belahan dunia terutama Eropa, Amerika dan tentu saja Indonesia mengalami kelaparan. Tidak adanya matahari menyebabkan tumbuhan sulit tumbuh. Gak ada tumbuhan berarti hewan gak nemu makanan, so? Manusia kelaparan. Laut-laut juga tertutupi abu vulkanik dan manusia-manusia yang terapung akibat ledakan itu. *ngeri sendiri ngebayanginnya*

Selain *mungkin* karena kejadian alam, selalu ada sebab yang menyebabkan akibat kan? Naah, baru-baru ini saya baca sebuah novel yang judulnya Tambora. *yang membuat saya penasaran dengan kisah dan sejarah Tambora*. Ternyata, pada saat itu, keadaan masyarakat di sekitar Tambora juga lagi kacau, terjadi perang saudara antar kesultanan (ada tiga kesultanan yang terkenal, yaitu Kesultanan Tambora, kesultanan Pekat dan Kesultanan Sanggar), Belanda semakin menggila-melakukan apa saja untuk memperkaya negaranya. Belanda melakukan adu domba antar kesultanan, orang-orang pribumi takut untuk hidup di rumahnya sendiri. Tempat-tempat ibadah di bakar. Para pemimpin kesultanan hanya peduli dengan kekayaanyan sendiri, kesombongan merajalela. Dan  konon cerita turun temurunnya, sebelum gunung meletus Raja dari Kesultanan Tambora mengundang Ulama dari Gowa yang saat itu sedang menyiarkan Islam ke kerajaan. Disana, raja menghidangkan daging anjing untuk Ulama itu. Saat tau, maka Ulama itu berdoa, dan langit menjadi gelap, booommm..!!! Gunung Tambora meletus * dari Novel yang saya baca dan referensi dari gugel, Cuma cerita itu hanya legenda yang kebenarannya masih belum jelas*.

Pada tahun 2014, ada tim arkeologi dari Indonesia yang dipimpin oleh Pak Made mulai mencari dan menggali cerita dari Tambora ini. Dan kata Pak Made Geria, mulai ditemukan artefak-artefak yang menunjukkan bahwa sebelum meletus, Tambora memang di kelilingi oleh peradaban yang cukup maju. Penemuan itu menunjukkan warisan budaya Indonesia yang hilang terkubur. Menurut Pak Made, Kerajaan-kerajaan di sekitar Tambora tidak hanya kerajaan agraris di wilayah pegunungannya, tetapi juga memiliki kemampuan berdagang. Apalagi wilayah ini juga strategis terutama karena ada pelabuhan yang selalu ramia yaitu Pelabuhan Kenanga. *hm, pantas saja Belanda saat itu tergila-gila sama tambora* 
salah satu penemuan peradaban

begitulah kira-kira cerita tentang Tambora, belum puas sih..
masih harus banyak baca lagi dan mencari tau, tapi hari ini cukup sampai disini.waktunya mepet sekali. *bentar lagi di usir, jam makan siang katanya*

jadi, kalau kamu juga masih penasaran, silahkan berselancar di gugel. ^^
Mupeng...!!
Sampai jumpa di Tambora *eh*
iya, mungkin saja kamu yang baca berniat mengajak saya bertemu di Tambora,
hehe....