Tampilkan postingan dengan label Opinion. Tampilkan semua postingan

Memaknai Hari Ibu!

Selamat Hari Ibu!

22 Desember menjadi tanggal sakral bagi hampir seluruh anak-anak Indonesia. Iya, tanggal itu adalah tanggal untuk mengungkapkan perasaan sayangnya pada ibu. Media sosial juga bakal rame dengan kalimat-kalimat romantis yang bikin melting, yang buat anak rantau jauh dari ibu seketika kangen masakan ibu. Hiks!

Ada satu meme yang membuat gue tertohok, tertusuk dan tercekik. Meme itu adalah..tadaaa...!
ampun mak!
sumber gambar : Gugel
Gimana? kamu juga merasa tertohok? tertusuk dan tercekik dengan kalimat sederhana itu? Kalimatnya memang sederhana tapi pedas dan berhasil merusak kalimat-kalimat romantis yang kita rangkai khusus untuk ibu di hari ibu pada tanggal 22 Desember. Sadar atau tidak, tapi kalimat itu nyata kan ya? Sering banget kita (gue:red) lakukan. Ngomong manis dan sayang pada ibu kerasa gampang banget, apalagi bilang di media sosial dengan foto dan quote-quote manisnya, tapi ketika ibu nyuruh cuci piring gak jarang kita menggerutu, menolak, atau mencari-cari alasan. Ah, entahlah. Gue jadi bingung. Jadi, hari ibu ini maksudnya apa?

Gue juga gak bakal memungkiri bahwa ibu emang superhero diatas superhero. Gak sedikit juga yang setuju bahwa hari ibu itu gak cuma tanggal 22 Desember, tapi sepanjang minggu, sepanjang bulan, bahkan sepanjang tahun adalah hari ibu. Karena mau percaya atau gak, kebersihan rumah, dapur, keuangan, ngurus anak, bahkan suami adalah milik ibu. Iyes! hampir di semua rumah, hal-hal yang seperti itu yang ngurusin adalah ibu, gak ada yang lain. Ehm, maaf kalau kamu ada pembantu. Tapi, yakinlah, apa yang dikerjakan pembantu itu karena ada titah sang ibu. Bener kan? Dan sekali saja ibu absen, maka seisi rumah akan kalang kabut. Iya gak sih? Mau anak atau suami, ibu adalah orang pertama yang akan dicari bagaimanapun kondisi hatinya saat itu. Mau senang, sedih, kesal, kecewa, marah, ibu selalu dicari. Dan suka masa bodoh dengan keadaan ibu, dan hebatnya sang ibu juga iya-iya aja ketika mendengar anak-anak dan suaminya berceloteh. bener gak sih gue?

Hm, begitulah kira-kira gambaran ke-luarbiasa-an ibu, dan itu hanya dimiliki oleh kaum ibu!yang setuju acung tangan! *acung

Tapi boy, ternyata tanggal 22 Desember itu gak hanya sebatas mengingatkan kita pada tugas ibu yang berhubungan dengan rumah, suami dan anak-anaknya. Banyak hal luar biasa yang dilakukan kaum ibu, tidak hanya untuk anak-anaknya di rumah, tapi demi anak-anaknya dimasa depan! Ini demi kebaikan anak-anak perempuannya dimasa depan!

Iye, gue baru tau, ternyata tanggal 22 Desember yang selalu kita peringati itu mempunyai sejarah yang panjang. Dan memiliki makna yang super dalam dari sekedar mengatakan 'Selamat hari ibu mom, I Love You'.

Pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta, untuk pertama kalinya diadakan kongres perempuan Indonesia. Kongres itu dilakukan semasa zaman kolonial Belanda, dimana budaya patriarkis sangat dijunjung tinggi. FYI, budaya patriarkis itu adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial, dan perempuan berperan 'gue mah apa atuh'. Perempuan? Urusannya cuma dapur dan kasur! Selain dari itu? gak boleh. Bahkan anak-anak yang 'ngurus' juga bapak dengan keotoriterannya. Maka dari itu, mulai muncullah organisasi perempuan yang memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan dan sebagai ibu. 

Salah seorang penggagas kongres itu adalah Ibu Sujatin Kartowijono dari Poetri Indonesia. Ibu Sujatin itu mengatakan bahwa kongres perempuan ini bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan perbaikan hak serta nasib perempuan. Banyak masalah yang dibicarakan dalam kongres itu, mulai dari pendidikan kaum perempuan, anak yatim piatu dan janda, pernikahan anak-anak, kawin paksa, sampai harga diri kaum perempuan itu sendiri. Tanggal 22 Desember 1928 menjadi tonggak sejarah bagi perempuan-perempuan tangguh yang berjuang untuk menyelamatkan kaumnya dan anak-anak agar mendapatkan posisi yang lebih adil di dalam masyarakat. Kaum ibu, adalah seorang manusia yang memang memiliki jiwa pejuang yang sangat luar biasa. Bahkan di zaman penjajah sekalipun. Zaman dimana perempuan tidak punya ruang untuk bergerak.

Melihat perjuangan itu, maka Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu di Indonesia. Bukan karena melihat bagaimana perjuangan ibu dalam mengurus anak dan rumah tangga, tetapi karena perjuangan kaum ibu untuk memerdekakan haknya sebagai ibu dan perempuan demi anak-anaknya, tidak hanya anak-anak di rumah, tetapi juga anak laki-laki dan anak perempuannya di masa depan!

Tahun ini, tahun 2016. Gue menyaksikan dimana kaum ibu mulai sibuk dengan karir yang terus melejit demi kesetaraan gender, [yang gue rasa udah jauh melenceng dari tujuan perjuangan kaum ibu dizaman dulu], masih ada sekelompok kaum ibu yang masih memperjuangkan haknya sebagai ibu, untuk anak-anaknya di masa depan. Kaum ibu itu ingin menyelamatkan anak-anaknya dari kelaparan di masa depan. Karena ibu yang mengerti apa yang akan terjadi jika 'dapur'nya dirusak. Artinya, anak-anak tidak akan bisa makan! anak-anak akan kelaparan. Maka dari itu, ibu-ibu ini melakukan perlawanan dan perjuangan hanya untuk menjaga 'dapur' mereka tetap 'ngebul'. Iya, hanya ibu yang mengerti. dan ibu-ibu ini adalah ibu-ibu petani dari tanah Kendeng! So proud of them!
Long March yang dilakukan ibu-ibu Kendeng demi keadilan!
sumber gambar : gugel
Bagi gue saat ini, hari ibu adalah hari dimana gue harus merenungi bahwa menjadi seorang perempuan dan ibu itu adalah perjuangan yang tidak pernah berakhir. Karena Ibu adalah sekolah pertama anak-anaknya. Karena ibu adalah penyelamat bangsa! Selanjutnya, jadilah ibu tangguh seperti ibu-ibu dizaman kolonial Belanda yang memperjuangkan keadilan. Jadilah ibu super seperti ibu-ibu Kendeng yang berusaha menyelamatkan anak-anaknya dari kelaparan masa depan.Jadilah ibu yang yang keren seperti ibumu! 

Memaknai hari ibu dengan berusaha untuk menjadi anak yang lebih baik dan bertanggungjawab atas apa yang telah diperjuangkan ibu!

Selamat hari ibu untuk seluruh kaum perempuan tanah air!

Pekanbaru, 22 Desember 2016
Ipehthepooh

Keajaiban Daun : Fotosintesis pada daun berwarna merah

Setelah membaca Keajaiban Daun : Fotosintesis, kamu juga mempunyai pertanyaan yang sama gak sih? Jika fotosintesis itu terjadi karena ada pigmen yang namanya klorofil, yang menyebabkan si daun warna hijau, terus bagaimana kalau si daun warna merah yang mengandung banyak pigmen anthocyanin daripada klorofil? Bagaimana si daun-daun itu seperti bayam merah atau selada merah melakukan fotosintesis? Jadi mikir kan? tos dong kalau gitu. Huehehe!

Mengapa ada warna hijau dan merah?
sumber gambar : Google

Oke, yok kita menyelami dunia daun lagi.

Ehm, flashback bentar ke bagian penting daun ya. Masih ingat? Yak, Binggo! Klorofil.

Klorofil itu apa? Pinter! pigmen yang menyebabkan si daun hijau. Pertanyaan berlanjut, bagaimana caranya klorofil memberikan warna hijau pada daun? apakah si klorofil itu pewarna hijau daun? Hm, mari kita telusuri sambil ngemut coki-coki.

Cahaya, selain sebagai sumber energi juga merupakan sumber yang dapat membatu untuk dapat melihat benda-benda yang ada disekitar kita. Termasuk melihat kamu. Iya, kamu. hehe!

Masih ingat sifat-sifat cahaya?

Loh, kok jadi belajar fisika?

Gak kok, kita sedang menelusuri sumber warna hijau daun, dan ini berkaitan dengan cahaya.

Jadi kamu masih ingat apa saja sifat cahaya?

Cakep! jadi sifat cahaya itu ada tiga. Cahaya dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan. Lalu hubungannya dengan warna hijau daun dan klorofil?

Begini, ada benda-benda yang dapat memancarkan cahayanya sendiri, dan ada benda-benda yang tidak dapat memancarkan cahaya. Jika suatu benda dapat memancarkan cahaya, maka benda tersebut dapat kita lihat sesuai dengan warna gelombang tertentu yang dapat kita tangkap dengan mata. tetapi, jika benda tersebut tidak dapat memancarkan cahaya maka benda tersebut dapat kita lihat sesuai dengan spektrum warna yang dipantulkan oleh benda tersebut. Sedangkan warna yang tidak dipantulkan itu akan diserap oleh atom atau molekul-molekul penyusun benda tersebut.

Jadi gini, misalkan kamu melihat seorang lelaki manis menggunakan baju berwarna merah, sesungguhnya si baju itu tidak berwarna. Hanya saja si baju itu dapat memantulkan kembali warna merah dan menyerap warna lain, maka mata kita dapat melihat lelaki itu manis. Eh, maksudnya kita dapat melihat baju itu berwarna merah. Dan voila! sekarang kita bisa menemukan jawabannya. Kenapa daun yang kita lihat itu hijau, ternyata karena ketika cahaya matahari menyindari daun, si daun akan memantulkan kembali spektrum warna hijau dan menyerap warna lainnya.

Penyerapan cahaya terjadi hanya ketika energi yang datang pada suatu benda cocok dengan energi yang diperlukan untuk memindahkan satu elektron paling luar atom atau molekul dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi. Sederhananya begini, penyerapan cahaya itu terjadi kalau gelombang cahay yang datang itu cocok dan dapat bisa merangsang si atom-atom yang ada didalam benda tersebut untuk menghasilkan energi. Berarti jika spektrum atau gelombang cahaya itu gak cocok, ya di tolak sama atom-atom yang ada pada benda itu, alhasil cahaya itu dipantulkan dan dapat kita lihat.

So, thats why si daun kebanyakan warna hijau. Ternyata karena klorofil tidak menyukai gelombang hijau. Daun lebih suka gelombang biru dan merah. 

Terus gimana dengan daun yang berwarna  kuning atau merah?

Masih ingatkan bahwa pigmen dalam daun itu gak cuma klorofil aja? Iya, masih ada pigmen karetonoids yang memantulkan cahaya kuning hingga oranye dan anthocyanin yang memantulkan cahaya merah sampai ungu. Jadi, kalau si daun itu berwarna merah, maka pigmen yang dominan dan aktif untuk menangkap cahaya adalah si anthocyanin. Tapi bukan berarti dalam daun gak ada karetonoids atau klorofil ya. ketiga pigmen itu ada, cuma bagi-bagi tugas aja. Hehe! Karena ternyata, sebenarnya pigmen itu merupakan molekul yang menyerap cahaya tampak, dan memiliki spektrum absorbsi (daya serap panjang gelombang) yang berbeda. Udah taukan, penyerapan cahaya itu untuk apa? yoi! untuk mengubah energi. Jadi, mau pigmen apa aja yang aktif, maka fotosintesis tetap terjadi. artinya, mau warna apa aja si daun itu, fotosintesis tetap berjalan. Bukankah memang itu tugasnya si daun? Melakukan fotosintesis. hehe!

Jadi udah gak galau kan, gimana caranya si daun warna merah melakukan fotosintesis? He-eh, kita harus mengubah kesimpulan selama ini, fotosintesis tidak terjadi pada daun yang memiliki klorofil. Tetapi pada daun yang masih mempunyai pigmen-pigmen aktif yang dapat menyerap energi cahaya matahari. Jadi, bisa klorofil, karetonoids, atau anthocyanin. Dan warna daun yang terlihat tergantung pada pigmen mana yang mendominasi.  Hm, Begitulah kira-kira ceritanya.

Hei, hei! meskipun beton terlihat berwarna hijau atau merah karena pantulan cahaya matahari, tetapi beton gak punya pigmen yang bisa mengubah cahaya matahari jadi glukosa untuk memenuhi kebutuhan makanhewan dan manusia. Masih mau nanam beton warna warni untuk mempercantik kota? Think smart gaes!

Masih ada satu lagi yang seru dari si daun ini untuk ditelesuri, bagaimana si daun bisa berubah warna ketika musim juga berubah? Apa yang terjadi pada daun?

Bersambung!

Ipehthepooh
Pekanbaru, 20 desember 2016

Sejarah Secangkir Kopi

Srupuuut secangkir kopi susu dan mendengar sederet lagu Lindsey Stirling ternyata bisa membuat malam gerimis ini sedikit lebih hangat.
Es kopi dan pisang rebus, ngopi di kebun kopi
Pakse-Laos.
Kopi. Minuman hitam pekat pahit yang bisa membuat mata melek sepanjang malam ini ternyata menarik untuk ditulis. Ternyata kopi tidak hanya sekedar minuman yang bisa dinikmati dengan sepiring gorengan bersama teman nongkrong, tapi kopi mempunyai suatu "magis" yang kuat kepada siapa saja yang pernah menyentuhnya. Iya! ini serius, hampir semua yang pernah bersentuhan dengan kopi menuai sejarah, cerita dan cinta. Dan ternyata, memang begitu. Dibalik hitam pekat pahitnya, kopi memiliki sejarah, cerita dan cinta yang panjang.

Siapa yang mengira kopi, minuman favorit di dunia ini awal ditemukannya dari si kambing yang gak sengaja makan biji buah bery merah yang diprediksi sebagai kopi. Menurut legendanya, si penggembala yang bernama Kaldi ini, gak sengaja melihat si kambing makan buah bery merah yang kemudian bertingkah hiperaktif, melompat kesana kemari. Karena penasaran, Kaldi mencobaya juga, alhasil si Kaldi ini juga menjadi hiperaktif. gak selesai disitu, Kaldi memberitahu biarawati bahwa ada buah yang membuanya hiperaktif. Biarawati penasaran, kemudian mencoba mengolah dengan merebus dan meminum airnya, ternyata biarawati bisa melek sampai pagi. Akhirnya biarawati rutin meminumnya agar dapat berdoa sepanjang malam.

Selain legenda Kaldi dan si kambing, masih ada satu legenda juga yang cukup terkenal gimana asal muasalnya si kopi ini ditemukan.Tersebutlah Ali bin Omar al Sadhili seorang sufi yang taat beribadah  yang juga sebagai tabib. Karena keahlian menyembuhkannya ini, sang sufi dituduh berteman dengan setan dalam membantu kesembuhan-kesembuhan pasiennya, sehingga sang sufi di usir dari kotanya. Selama pelarian tersebut, sang sufi bersembunyi di goa. Sampai suatu saat, sang sufi kelaparan dan akhirnya memakan buah bery merah yang pahit, tetapi memberikan efek tenaga yang luar biasa. Untuk mengantisipasi rasa pahit pada buah itu, sang sufi mengolahnya menjadi minuman dan akhirnya minuman sang sufi terkenal seantero negeri. Kemudian, sang sufi dipanggil algi ke kotanya.

Entahlah, mana yang benar dari legenda itu tentang bagaimana kopi pertama kali ditemukan. Tapi, bisa dikatakan para ahli kopi bersepakat bahwa kopi pertama kali ditemukan di daerah Abyssinia, wilayah di daerah Ethiopia, Afrika.Kalau dilihat di peta, daerah Abyissinia ini dekat ke Yaman dan Sudan, berarti sedikit banyaknya budaya dan bahasa juga dipengaruhi oleh negara-negara Arab. Seperti kata kopi ini. Menurut etimologinyayang pernah dibicarakan oleh Ukers pada tahun 1909 dalam Symposium on The Etymology of The Word Coffee, kata kopi berasal dari kata "qahwa", atau bahasa Turkinya "kahveh" yang merujuk pada minuman yang diseduh dan memberikan efek yang kuat. Dari awal kata itu barulah muncul bahasa dari negara lain seperti bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “café”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, bahasa melayu “kawa” dan bahasa Indonesia menjadi "kopi". 
Peta penyebaran kopi
 Ternyata pada abad-abad awal, kopi ini sudah menjadi minuman legendaris di negara jazirah arab dan menjadi komuditas penting dalam perdagangan di dunia Islam. Hal ini tertulis dalam catatan Al Razi (850-922) seorang ilmuwan muslim yang juga ahli kedokteran dan diperkuat oleh catatan Ibnu Sina ((980-1037) yang menyebutkan ciri-ciri sebuah biji yang mirip dengan kopi yang kita kenal. Kopi mulai sampai ke Eropa pada masa kekhalifahan Utsmani, dimana kopi menjadi sajian utama setiap perayaan. dan pada akhirnya pada tahun 1600, pedagang Venesia membawanya dan menyebarlah sampai negara-negara di Eropa, termasuk Belanda.

Sebelumnya, negara yang menguasai komoditas kopi ini adalah Arab. Karena negara-negara Arab mengetahui bahwa kopi menjadi komuditas yang banyak disukai negara-negara, maka negara-negara Arab berniat untuk memonopolinya dengan cara setiap biji kopi yang akan di ekspor ke negara-negara Eropa adalah biji-biji infertil atau biji-biji yang udah dimasak dan gak bakal bisa tumbuh lagi. Barulah pada tahun 1695 seorang peziarah dari India, Baba Budan berhasil membawa biji fertil keluar Arab dan menanamnya di India Selatan, dan berhasil..berhasil! Kopi dapat tumbuh dengan baik. Dari sanalah awal mulanya, si kopi bisa masuk ke Indonesia.

Kopi masuk ke Indonesia pada tahun 1696 dari India ke Jawa. Kopi yang masuk itu jenis kopi arabica yang memang memiliki kualitas super dengan rasa asam dan wanginya yag harum. Saat itu, kopi ditanam di daerah Kedawung, Cirebon. Tapi gagal, karena banjir. Ternyata Belanda gak mau nyerah, tiga tahun kemudian Belanda kembali membawa stek batang kopi untuk di tanam di Indonesia, kali ini mennyebar di daerah-daerah Jawa, dan hasilnya? Voila! berhasil. Bahkan hasilnya dapat menggeser hasil dari Yaman, yang pada waktu itu adalah negara ekspor terbesar. gvak cuma itu, ternyata kopi yang dihasilkan juga berkualitas baik. Tapi apakah yang dikenal nama Indonesia? tentu! tentu tidak, karena saat itu kita berada di bawah Belanda, maka meskipun kopi yang disekpor itu berasal dari tanah Indonesia, tapi yang  mendapat nama dan kekayaan adalah Belanda! Bayangkan aja, hasil kopi dari tanah Indonesia dapat menjadi negara pengekspor terbesar di dunia saat itu, tapi parahnya negara Indonesia tetap menjerit. Ironis!

Karena prestasi yang luar biasa itu, maka kopi yang ditanam di Jawa itu diperluas ke Sumatera, Sulawesi, Bali dan daerah timur lainnya. Tetapi, gak selamanya kita berada diatas, begitu juga dengan nasib tanaman kopi di Indonesia. Pada tahun 1878, terjadi kerusakan pada tanaman kopi, terutama kopi-kopi yang ditanam di dataran rendah. Tanaman kopi itu terserang penyakit Hemileia vastatrix (HV) atau karat daun yang menyebabkan si daun kopi mengalami kerusakan parah sehingga hasilnya jatuh merosot. Untuk mengatasi itu, Belanda kembali mendatangkan kopi jenis liberika yang tahan terhadap penyakit karat daun. tapi, ternyata nasibnya sama, pada akhirnya kopi liberika juga terserang karat daun dan habis. Dengan melakukan penelitian-penelitian, muncullah kopi robusta, kopi yang lebih tahan terhada penyakit karat dan dapat tumbuh di dataran rendah. Dan ternyata itu terbukti, bahwa sampai saat ini kopi robusta dapat bertahan.
Biji Kopi [Sumber gambar: Anggaraeni.com]

Sejak kopi masuk ke Indonesia dan tumbuh dengan baik pada tahun 1699, tanah Indonesia atas nama Belanda memegang predikat sebagai negara ekspor terbesar di dunia. Tetapi predikat itu bergeser pada tahun 1830 ke negara Brazil hingga saat ini. Yoi bro, menurut data yang dilansir oleh Worlddatlas.com atau data dari International Coffee Organization, Brazil masih memegang predikat sebagai negara terbesar dalam ekspor kopi hingga tahun 2015. Sedangkan negara India, negara dimana asal usulnya kopi bisa dibawa keluar dari arab dan ditanam hanya menempati posisi ke-6. Senasib dengan Indonesia, kopi yang awalnya adalah kopi arabika berubah menjadi  kopi robusta karena serangan penyakit karat daun itu. Dan 80% hasil kopi di India itu diekspor ke Eropa dan Rusia, karena penduduk India yang tidak terlalu candu pada kopi. Mereka lebih menikmati teh daripada kopi.

Sedangkan Ethiopia, sebagai negara asal kopi hanya menduduki posisi ke-5. Dan pada tahun 2015 produksi kopi Ethiopia menurun 384ribu ton biji kopi, padahal tahun sebelumnya produksi biji kopi mencapai 397.5ribu ton biji.

Dan Indonesia? berada di posisi ke-4! padahal semasa zaman saya kuliah sekitar 2009-2011 saat belajar tentang tanaman kopi ini, produksi kopi Indonesia masih menduduki posisi ke-3 setelah Brazil dan Vietnam. Tetapi pada tahun 2015, posisi ke-3 ini direbut oleh negara Kolumbia dan menggeser posisi Indonesia ke urutan ke-4. Wow! perlu dipertanyakan, why? kenapa toh? Kemungkinannya ada dua, yang pertama negara  Kolumbia terus meningkatkan produksi kopinya sehingga melejit dan mengalahkan Indonesia meskipun produksi kopi Indonesia juga meningkat atau produksi kopi Indonesia memang menurun yang bisa jadi dipengaruhi oleh alih fungsi lahan atau serangan penyakit. Saya belum mencari informasi ini lebih rinci. FYI, menurut GAEKI (Gabungan Eksportik Kopi Indonesia), kopi di Indonesia 83% jenis kopi robusta dan 17% jenis arabika.

Kopi. Punya deretan sejarah. Tidak hanya bagaimana kopi bisa sampai di negara Indonesia dan menjadi komoditas dan gaya hidup masyarakatnya, tetapi kopi juga menyimpan deretan sejarah antara aku dan kamu. Iya, kamu!

Selamat menikmati secangkir kopi, selamat membuat sejarah!

Pekanbaru, 18 Desember 2016
Ipehthepooh.






Petani dalam list cita-cita anak-anak

"Pada suatu siang, di ujung pematang, terduduk dengan bimbang, sang caping usang
Datang menghampiri, sesosok bocah kecil, tangan dengan kendi dan juga baki
Wahai nak, sang bocah kecil duduklah dekat kakekmu
Mari makan bersama kakekmu ingin menatap bening cahaya matamu
Jika suatu nanti, kakekmu tlah pergi, siapa yang akan menanam padi
Jika suatu nanti engaku telah dewasa, hijau kah tanah ini?"
[Akar Bambu]

Mendengar penggalan lirik dari akar bambu ini cukup membuat saya bertanya lagi, akankah tanah negeri ini bisa memberikan kita sepiring nasi di masa esok ketika generasi kakek nenek kita telah pergi? Petani? Siapa yang mau jadi petani? Saya pernah nulis disini Sarjana Pertanian Kemana?, ketika menjadi lulusan pertanian itu sebuah dilema yang klasik.


Ternyata memang menjadi petani tidak begitu menarik untuk diperbincangkan. Petani bukan pilihan profesi yang menggiurkan. Bukan cerita lama bahwa profesi ini terancam punah. Selama tahun berganti, selama itu pula  profesi ini akan terus berganti dan mengalami penurunan. Mungkin saja profesi ini akan menjadi sejarah dan hanya tinggal cerita dongeng sebelum tidur untuk anak dan cucu kita dimasa depan. Bisa jadi!

Dari data-data yang saya baca, BPS mencatat bahwa jumlah petani terus menurun. Pada tahun 2013 jumlah petani 39.22 juta, menurun menjadi 38.97 juta pada tahun 2014 dan hanya tinggal 37.75 juta pada tahun 2015. Artinya setiap tahun hampir kita kehilangan sejuta petani entah karena apa. Bisa jadi karena lahan yang alih fungsi, meninggal, atau bangkrut. Mirisnya, data itu mencatat bahwa usia rata-rata petani adalah 50 tahun keatas. Dan parahnya, baru-baru ini saya juga membaca berita, di Bogor dimana kampus pertanian terbaik berdiri justru digarap oleh warga negara asing. [Bisa baca disini: http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2016/11/16/ketika-wn-asing-keruk-hasil-bumi-ke-mana-para-sarjana-pertanian-di-bogor/]. Saya percaya banyak berita-berita yang serupa di daerah-daerah sana, tapi gak muncul dipermukaan.

Dan hari ini saya juga menemukan artikel yang cukup membuat saya bertanya-tanya apakah ini sudah pagi? atau saya masih bermimpi. Iya! gimana gak, ketika ada judul dari berita online yang mengatakan bahwa tidak menjadi masalah jika anak muda sekarang ini meninggalkan dunia pertanian, karena bisa digantikan dengan mesin [Baca : http://kabarkampus.com/2016/11/staf-khusus-mentan-sambut-positif-berkurangnya-jumlah-petani-indonesia/ ]. Jadi, apakah memang profesi petani memang bukan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan?

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa jumlah petani terus menurun setiap tahun?

Banyak faktor, itu pasti. Tapi, dalam tulisan ini saya ingin menyoroti satu hal, kenapa petani tidak begitu menggiurkan. Menjadi petani hampir tidak pernah masuk dalam list cita dan mimpi anak-anak, terutama anak-anak yang tinggal di tengah kota yang cuma bisa melihat beton dimana-mana. Petani identik dengan hidup susah dan serba kekurangan, jadi siapa pula yang  mau hidup susah seperti petani pada umumnya yang terlihat hampir merata di penjuru negeri. Iya kan?

Tapi ternyata, sebanyak petani yang mengenakan pakaian lusuh berumah sederhana dan hidup "susah", masih banyak juga petani-petani yang dapat menginspirasi dan bisa membantu orang-orang disekitarnya. Iya! banyak cerita petani-petani yang kece badai. Seperti petani cabe di Kediri yang mulai bertani dengan pinjaman uang dari bank, ada lagi petani asal Jember karena lelah menjadi TKI, terus masih ada kok anak petani yang kembali menjadi petani, atau lulusan sekolah pertanian yang benar-benar menjadi petani juga ada. Sayangnya ya itu, kisah-kisah petani ini masih belum begitu menarik untuk diulas. Lebih seru mengulas film utaran atau sidang jesica.

Senin lalu, saya mengikuti kegiatan yang menyenangkan dan menginspirasi, Kelas Inspirasi. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk memberikan inspirasi dan gambaran pada anak-anak bahwa banyak profesi-profesi yang bisa dijadikan cita-cita selain dokter, polisi, dan guru. Kegiatan itu keren! Secara anak-anak akan mendapatkan inspirasi dan gambaran secara nyata tentang profesi-profesi yang ada diluar sana, seperti engineer, jaksa, hakim, dosen, translator, orang-orang yang bekerja di kantor pajak, dan menjadi tau bahwa orang-orang yang bekerja di bandara tidak hanya pilot. Tapi, satu hal yang membuat saya sedih, tercenung, dan merenung. Kemana profesi petani pergi? Apakah petani tidak dapat menginspirasi? Jika iya, jangan salahkan anak-anak jika tidak ada yang mau jadi petani. Karena memang, mereka tidak tau siapa petani. Jika terus begitu, bukan hal yang gak mungkin kan petani memang benar-benar punah?

Sebagai lulusan pertanian, sebenarnya saya malu karena sampai saat ini saya belum bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan profesi itu dan belum bisa ikut turun tangan memberikan inspirasi pada anak-anak bahwa petani itu keren. Iya! sesunguhnya petani itu keren!. Hanya saja kekerenan petani itu  tertutupi kabut pesimistis dan dibalut dengan baju lusuh tangan kotor kulit hitam legam.
 
Profesi petani, berbeda dengan profesi lainnya seperti dokter, guru, polisi, pengacara atau pilot yang menjadi idola bagi anak-anak. Pertanyaan selanjutnya, mengapa dokter, guru, polisi, pengacara atau pilot menjadi begitu populer di kalangan anak-anak? jawabannya simpel dan sederhana. Karena mereka menemukan contoh dan tokoh yang keren berada di dekat mereka. Iya, mereka dapat melihat kerja dokter, guru, polisi, pengacara, atau pilot secara "nyata". Melihat dokter dengan seragam putih, membawa stetoskop, memeriksa pasien akan menjadi hal yang luar biasa bagi anak-anak. Melihat laki-laki gagah tegap berdiri dengan seragamnya di jalanan untuk mengatur lalu lintas jalan, bagi anak-anak itu sesuatu hal yang keren. Melihat seorang yang bisa menjawab semua pertanyaan orang lain seperti guru menjadi sesuatu yang mengagumkan bagi anak-anak. Melihat bapak-bapak di depan tv dalam persidangan jesica pun menjadi inspirasi anak-anak. Apalagi melihat pesawat dil langit yang bisa terbang, anak-anak juga ingin menerbangkan pesawat itu. Tetapi jika melihat orang yang kerja panas-panasan di lapangan memegang cangkul, tangan kotor, siapa yang mau? kamu mau? mungkin bisa dikatakan gak ada yang mau.  Karena itu kan gak keren. Dan ketika anak-anak melihat pekerjaan petani seperti itu, capek, panas, hitam, sepertinya mereka juga akan urung diri untuk menulis petani menjadi list cita-cita mereka. Padahal, ada sesuatu yang sangat menarik dalam prosesnya. Melihat tanaman tumbuh sampai panen. Iya, itu keren kan? Sayangnya, anak-anak tidak melihat kekerenan itu, cuma  mentok sampai panas-panasan di lapangan.

Terus, kenapa anak-anak gak dikasih tau aja kekerenan petani itu? Atau kenapa petani-petani gak unjuk gigi aja pas kelas inspirasi? Nah itu, itu dia pertanyaan yang sama dan baru ngeh pas saya gabung di Kelas Inspirasi Pekanbaru kemarin. Kemana petani-petani keren itu? Kok mereka gak ikut berpartisipasi menginspirasi anak-anak negeri ini dengan menjadi petani? dan asumsi saya adalah petani-petani itu belum tau kalau ada kelas inspirasi. huehehe!

Sebenarnya ini menjadi PR besar bagi petani-petani sukses, petani-petani yang sedang melakoni bidangnya, dan bagi saya sebagai orang yang sudah dicap sebagai lulusan pertanian untuk memberikan informasi bahwa petani itu gak cuma sekedar panas-panas dan kotor di lapangan, tetapi lebih dari itu. Petani adalah profesi yang sama pentingnya dengan profesi-profesi lain. Petani adalah masalah hidup mati bangsa. Petani bukan profesi khusus untuk orang-orang yang hidup susah. dan ini benar-benar menjadi PR bagi saya sebagai lulusan pertania dan petani-petani hebat untuk dapat membuktikan pada dunia dan anak-anak bahwa petani adalah profesi yang juga cukup menjanjikan.

Tapi bagaimana kalau faktanya petani itu tidak sekeren yang dijabarkan diatas? Lahan alih fungsi, petani ditangkap, harga jual panen jauh dibawah modal. Dan pada akhirnya, petani memang ditakdirkan untuk hidup susah. So? masih mau jadi petani?

Gaes, bukankah itu dia tugas kita generasi muda yang tau, pernah dan tertarik dengan dunia pertanian? Untuk menjadi petani yang cerdas. Petani yang bisa memanfaatkan lahan yang ada, mengurangi laju alih fungsi lahan dengan menanam dan menghasilkan "duit". Petani yang cerdas dan jujur. Bukankah itu cita-cita Soekarno ketika beliau meletakkan batu pertama institut pertanian? menciptakan petani-petani yang tidak hanya mengerti dunia cocok tanam, tetapi sampai hitung-hitungan untung rugi dan pasar. Iya, ini tugas besar saya, kamu dan kita, generasi muda untuk menyelamatkan profesi petani.

Berhenti mengutuk kegelapan. Berhenti menyalahkan profesi petani. Berhenti mengkambinghitamkan faktor-faktor yang antah berantah.

Nyalakan lampu, dan jadilah petani yang setidaknya bisa memberi makan keluarga sendiri. Selanjutnya ceritakan pada adik-adik, keluarga, tetangga, anak dan cucu kita nanti bahwa menjadi petani itu keren karena dapat memberi makan dan membantu orang lain.

Just do it!

Anak-anak butuh inspirasi dan contoh nyata untuk membantu mereka memutuskan bagaimana jalan yang akan mereka pilih. Petani berhak memberikan inspirasi itu dan membuktikan pada anak-anak bahwa menjadi petani bukanlah jalan yang suram.

Semoga Kelas Inspirasi Pekanbaru selanjutnya saya dapat menemukan ada petani yang berdiri di depan anak-anak itu dan dengan bangga menceritak profesinya.

Semoga!

Pekanbaru,
27 November 2016

Rahasia Si Tauge!

Ini kisah tauge. Sayuran yang cuma butuh waktu 3 hari untuk dapat dipanen, sayuran yang hampir tiap sekolah melakukan percobaan untuk menumbuhkan tauge. Tauge, sayuran putih bersih yang memiliki segudang rahasia.

Taraaanngg! mari kita kumpas tuntas tentang tauge. Sejarah awal mula tauge darimana? Siapa sebenarnya tauge, mengapa tauge menjadi sayuran yang banyak dikonsumsi orang, termasuk di Indonesia? Apa sih hebatnya tauge? Penasaran gak sih? kalo aye mah penasaran! huehe.

Berterimaksihlah pada om gugel yang hampir selalu menyediakan jawaban untuk setiap pertanyaan, termasuk tentang tauge. Iya! melalui om gugel ini saya menemukan fakta-fakta unik tentang tauge. Cekibrot!

Fakta pertama, ternyata tauge sudah menjadi bahan obat-obatan sejak 5000 tahun yang lalu. Fakta itu ditulis oleh para dokter jaman dulu di Cina. Tauge termasuk makanan utama untuk diet para orang Amerika keturunan Cina. Beberapa sejarah mengatakan bahwa tauge ini berasal dari Timur Tengah (kawasan Balkan dan Barat Daya Asia) dan dataran mediterania timur, kemudian masuk ke wilayah Cina dan Asia Timur lainnya dan berkembang ke Indonesia.

Sejarah lain mengatakan bahwa penyebaran tauge ke negara-negara lain karena para pelaut. Iya, jadi pada tahun 1700 itu teridentifikasi bahwa banyak pelaut yang terserang penyakit kudis karena kekurangan vitamin karena pasokan sayur dan buah yang terbatas. Secara mereka berlayar berbulan-bulan bahkan sampai tahunan, sedangkan sayuran dan buahan tidak dapat disimpan lama. Nah, pada tahun 1772-1775, kapten James Hook menemukan cara agar tentaranya sehat selama pelayaran. Iyes, mereka mengonsumsi tauge. selama pelayaran mereka hanya membawa kacang-kacangan, kemudian sebelum dimasak disimpan beberapa hari di tempat yang agak lembab, dan voila! jadilah tauge. Penemuan ini ternyata menarik perhatian para ilmuawan, salah satunya Dr. McKay profesor bidang nutrisi dari Universitas Cornell. Dr. McKay melakukan penelitian tentang tauge ini dan menemukan fakta bahwa tauge mengandung vitamn B Kompleks, Vitamin A, vitamin C dan mengubah pati pada biji menjadi zero pati. Setelah diteliti lebih lanjut, tauge yang dimaksud Dr. McKay ini berasal dari kedelai. So, tauge itu apa sih? mari lanjut ke fakta selanjutnya.

Fakta kedua, ternyata tauge itu berasal dari dialek Hokkian dari kata Douya. Douya sendiri berasal dari bahasa mandarin yang artinya kecambah kacang-kacangan, salah satunya adalah kacang hijau. Tetapi, tidak cuma kacang hijau, ada juga kecambah kacang kedelai atau kacang alfalfa. Cuma di Indonesia lebih banyak kecambah dari kacang hijau, makanya tauge identik dengan kecambah kacang hijau.

Beberapa daerah di Indonesia mengenal tauge dengan nama kecambah, bahkan di Jawa Timur tauge dikenal dengan "ganteng". Iya! ganteng pengganti tauge. huehe! Sedangkan di Jepang, tauge lebih dikenal dengan Moyashi sebagai bahan obat-obatan sejak era Heian.

Karena namanya yang berarti kecambah, makanya tauge bisa dipanen cuma dalam waktu 3 hari. Emang sebenarnya kecambah itu apa sih?

Menurut Taiz dan Zeiger (1998) kecambah dapat diartikan sebagai dimulainya pertumbuhan embrio dari benih yang sudah matang. Yuhuu! kecambah itu merupakan tahap awal dari pertumbuhan dan perkembangan. Nah, tauge berasal dari itu. Ketika kacang hijau yang kita tanam sudah mulai berkecambah (tumbuh) maka udah bisa dipanen. Makanya gak butuh waktu yang lama untuk menghasilkan tauge.

FYI, kacang hijau yang biasa kita lihat itu dalam bahasa agronominya adalah benih. Benih suatu tanaman pada umumnya terdiri dari embrio (bakal tanaman), endosperm (cadangan makanan) dan kulit biji (pembungkus bijinya). Dalam embrio itu ada yang namanya plumula (pucuk lembaga yang akan menjadi pucuk tanaman), radikula (akar lembaga yang akan menjadi akar tanaman) dan kotiledon (daun lembaga yang membedakan biji itu dikotil atau monokotil. Tanaman monokotil terdiri dari satu helai daun lembaga kayak jagung, sedangkan dikotil memiliki dua helai daun lembaga kayak kacang hijau). Terjadinya perkecambahan itu karena adanya proses imbibisi (absorbsi air) yang kemudian mengaktifkan semua bagian-bagain yang ada pada biji dan pada akhirnya berkecambah. Kemudian jadilah tauge. Keren ya! Biji yang kecil itu ternyata punya segudang rahasia untuk menghasilkan tauge.
poto dari klinik fotografi kompas

Oia, fakta menarik lainnya mengenai si tauge ini. Dr. McKay pernah bertanya menulis "Dicari! sayuran yang dapat tumbuh dengan kondisi iklim bagaimanapun, yang mengandung nutrisi hampir sama dengan daging, mengandung vitamin C melebihi tomat, yang bisa dipanen dalam waktu 3-5 hari, bisa ditanam sepanjang tahun, ditanam tanpa tanah dan tanpa matahari, tidak memiliki sisa sampah, dan dapat dimasak dengan bahan bakar terbatas dan bisa masak secepat kilat" (Ini udah saya alihkan ke bahasa ya guys, bahasa aslinya nanti bisa dicari dari catatan referensi yang saya tulis dibawah). dan kamu tau jawabannya? yongkru! cuma Tauge!

Tauge, tanaman yang ditanam gak perlu tanah dan gak perlu matahari. Dan hebatnya lagi, tauge juga tidak memerlukan pupuk apalagi pestisda. Beuh! jarang-jarang kan ada tanaman yang kayak gini nih. iya, soalnya balik lagi ke sejarahnya, karena si tauge ini adalah kecambah, tanaman yang baru akan memulai kehidupannya tapi udah dipanen duluan.

Masih ingatkan, untuk menjadi kecambah biji membutuhkan proses imbibisi yaitu penyerapan air. Iya! jdi biji cuma butuh air untuk memulai kehidupannya. Ketika air masuk kedalam biji, maka bagian-bagian yang ada didalam biji tersebut akan aktif. Ketika makhluk hidup aktif, pasti butuh makanan dong ya? terus darimana asal makanannya kalau bukan tanah yang punya nutrisi? Apa iya cuma pakai air aja cukup? jawabannya cukup!. Yoi, untuk perkecambahan itu, biji cuma butuh air karena biji masih menyimpan cadangan makanan (endoseperm). jadi, ketika bagian-bagian tanaman aktif, dan butuh makanan maka diambil dari cadangan makanan itu sampai muncul plumula dan radikula ke permukaan. setelah itu, tauge siap panen.

Satu lagi, si tauge juga gak butuh matahari. Loh kok? padahal semua tanaman butuh matahari untuk fotosintesis. kenapa tauge gak pakai matahari? karena tauge gak butuh fotosintesis. kalau tauge kena matahari, maka yang tumbuh adalah tanaman kacang hijau bukan tauge. huehehe! Dalam tanaman, ada yang namanya hormon. Salah satunya adalah hormon auksin. Hormon ini akan aktif tanpa matahari dan berfungsi untuk  perpanjangan sel-sel (baik akar atau pucuk). So, jika kacang hijau sama-sama ditanam tapi yang satu diberi matahari yang satu lagi gak, maka bisa dipastikan kecambah yang lebih baik dan layak dipanen adalah kecambah yang ditanam tanpa matahari. Hal ini karena hormon auksin yang aktif, sehingga kecambah menjadi lebih panjang dan putih bersih, sedangkan kecambah yang kena matahari menjadi lebih pendek dan berwarna hijau, karena klorofilnya (zat hijau daun) akan aktif. Kalau untuk tauge, itu gak berlaku, gak bakal laku dijual dipasaran dengan warna kecambah hijau. makanya, untuk menghasilkan tauge yang baik itu adalah tanpa matahari sama sekali. Sesentipun jangan biarkan matahari masuk karena bakal merusak si tauge. Canggih gak tuh si tauge?

Selain rahasia dalam pertumbuhannya, tauge masih punya rahasia dibalik tubuhnya yang mungil. Iyes! tauge memiliki segudang manfaat untuk tubuh. Kandungan gizi pada biji kacang hijau berada dalam bentuk terikat, atau tidak aktif. Setelah perkecambahan, bentuk tersebut diaktifkan sehingga meningkatkan daya cerna bagi manusia. Karena pada saat perkecambahan, terjadi hidrolisis karbohidrat, protein dan lemak menjadi senyawa-senayawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna dan mudah diserap oleh tubuh (Anggrahaini, 2009) dan menurut USDA (2009) tauge juga mengandung banyak vitamin dan mineral.

Pernah dengar mitos bahwa tauge salah satu sayuran yang bisa buat awet muda? Ternyata itu bukan mitos. tapi fakta! karena tauge juga mengandung banyak vitamin E (Astawan, 2005). FYI, vitamin E adalah salah satu fitonutrien yang bekerja sebagai antioksidan yang dapat mempertahankan integritas membaran sel dan penangkal radikal bebas didalam tubuh. Menurut Winarsi (2007), kandungan vitamin E dalam kecambah kacang hijau adalah 1.53 mg per 10 gr, termasuk cukup tinggi untuk sayuran. So? ternyata untuk awet muda gak mahal, cukup rutin mengonsumsi tauge, minimal 3 kali seminggu deh biar kebutuhan vitamin E dalam tubuh terpenuhi. huehehe!

Galau karena kadang malas ke pasar cuma buat beli tauge? atau kadang lupa udah ke pasar buat beli tauge? atau bingung karena tauge yang dibeli mudah busuk dan gak bagus? sekarang gak perlu bimbang, gak perlu ragu dan gak perlu bingung. Tanam dan panen sendiri aja taugenya. Murah, simpel dan kebersihannya terjamin, karena menanam sendiri. Iya kan?

Caranya? Gampang banget! beli kacang hijau di pasar, trus cuci bersih, rendam paling lama satu malam. besok paginya, biji yang udah mulai gendut karena proses imbibisi (penyerapan air) dimulai langsung pindah ke tempat lain, bisa nampan, bisa kotak kue, bisa apa aja deh buat naro si biji gendut itu. sebelumnya, lapisi dulu sama kapas, gak ada kapas bisa ganti dengan kain flanel, kalau kemahalan bisa ganti dengan kain yang ada, kalau gak ada juga yaudah deh pake kertas koran atau kertas bekas juga boleh asalkan bisa menyimpan air untuk sehari. Kenapa? karena untuk proses perkecambahan itu kita hanya perlu menyediakan air untuk si biji. nah, kapas dkk itu berfungsi untuk penyediaan air itu. jangan kelebihan air ya apalagi bijinya sampai kerendam. nanti bukan jadi tauge, tapi jadi bubur kacang hijau. hehe! Setelah semua redi, simpan ditempat yang gelap, dimana cahaya matahari gak bisa masuk. biasanya ditutupi sama kain hitam. kalau gak ada kain hitam bisa pake kresek hitam, tapi ya itu, usahakan semuanya tertutup jangan kasih celah matahari untuk masuk. and then? dua hari selanjutnya, selamat panen! oia, selama menunggu, sesekali dicek ya, mana tau airnya habis, jadi diisi lagi. kan kasihan kalau calon kecambah kekeringan, nanti dia kehausan dan bisa jadi mati. Simpel kan? iya dong, anak kosan wajib coba deh. Murah bersih dan sehat. pas udah dipanen, bisa dicampur ke mie rebus atau nasi goreng. huehehe!

Setelah mengupas cerita dan rahasi si tauge ini, saya mendapat kesimpulan bahwa sekecil apapun kita, sesederhana apapun kita berasal pastikan bahwa kita dapat memberikan manfaat dan kebaikan untuk orang lain. Iya, seperti si tauge ini. Tauge sayuran yang paling kecil, umurnya paling singkat, sayuran paling sederhana dan kadang banyak orang yang menyepelekan dan melupakan tauge berasal darimana, tapi tauge tetap memberikan manfaat untuk siapa saja manusia dan hewan yang memakannya. [hewan makan tauge? gitu deh, ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa tauge juga jadi bahan pakan mamalia]. Dan hebatnya lagi, tauge tetap tumbuh tanpa tanah, tanpa nutrisi dan ditempat yang gelap. Hm, kalau kita berada di kondisi yang seperti itu, apakah kita masih mampu untuk memberikan manfaat untuk orang lain seperti tauge? *selfreminder*


Salam petani!

Pekanbaru,
13 Oktober 2016

Catatan Referensi :
1. Vegetable factory in the 21st Century; http://www.ueharaen.co.jp/english/history.html
2. Sprout History, International Sprout Growers Association (ISGA); http://www.isga-sprouts.org/about-sprouts/sprout-history/
3. Anggrahini S. 2009. Pengaruh Lama Pengecambahan terhadap Kandungan α-Tokoferol dan Senyawa Proksimat Kecambah Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.).
4. Astawan M. 2005. Kacang Hijau, Antioksidan yang Membantu Kesuburan Pria
5. USDA. 2009. Proteins and Nutrients from Other Beneficial Legumes (Beans): Mung Beans, Mature Seeds, Raw. http://www.nal.usda.gov/fnic/foodcomp/cgi-bin/list_nut_edit.pl.
6. Taiz and Zeiger. 1999. Plant Physiology.

Alay!

Alay. Kata itu terlontar dari salah seorang teman di grup whatsapp yang membuat saya kembali bertanya, Alay, emang alay itu apa sih sebenarnya?

Alay, kata itu rasa-rasanya sudah mengIndonesia. Hampir semua remaja, dewasa bahkan anak-anak usia SD tahu apa itu alay. Meskipun menurut saya kata "tahu" disini masih dipertanyakan, apakah benar-benar tahu apa itu alay, atau hanya ikut-ikutan menggunakan kata alay untuk menggambarkan tingkah seseorang atau tahu bulat yang digoreng dadakan cuma lima ratusan.

Iya, karena sesungguhnya saya masih gagal paham dengan alay itu apa. Mengapa banyak orang yang menggunakan kata alay untuk menggambarkan tingkah orang lain yang mungkin biasa saja tapi sedikit berlebihan. Malah, seorang teman itu memberikan gambaran bahwa tumbuh kembang manusia itu sekarang menjadi bayi-anak-remaja-(alay)-dewasa muda-(alay)-dewasa. Baca? ada kata alay disana. kok bisa ya? Katanya, alay sudah itu termasuk perkembangan psikologi yang dipengaruhi oleh lingkungan. Bukankah semua tingkah laku kita memang dipengaruhi lingkungan?

Kok saya jadi serius gini ya menanggapi kata alay? padahal bisa dibilang gak penting. wkwkwkwkk!

Hm, gitu deh. Menurut saya menarik aja membahas alay ini. Karena itu tadi, apakah kita menilai ke-alay-an seseorang karena memang tahu apa itu alay, atau hanya sekedar ikut-ikutan biar gak dibilang alay karena gak tahu apa itu kata alay.

Setelah berlayar di beberapa artikel dan penelitian orang lain tentang ke-alay-an, maka ternyata sejarah alay ini muncul pada era 80-an akhir. Selanjutnya anak-anak 90-an lah yang menjadi penerus ke-alay-an dan semakin berkembang sekarang. Jadi, wahai anak 90-an, alay ini muncul di generasi kamu! Mengakulah. wkwkwkwkk!


Alay itu singkatan dari kata Anak Layangan, Anak Lebay, Anak Layu, Anak Kelayapan. Sebenarnya saya jadi bingung sendiri apa itu anak layangan, anak lebay, anak layu. Kalau anak kelayapan saya ngerti, anak yang suka main kesana kemari jarang pulang ke rumah. Katanya anak layangan itu anak kampungan, meskipun saya juga bingung lagi emang anak kampungan itu yang gimana. apakah anak dari kampung, anak yang tinggal di kampung atau anak yang bertingkah kampung, atau anak yang emang gak tau apa-apa terus cengok dengan hal-hal baru. Sedangkan anak lebay itu identik dengan tingkah laku yang super berlebihan. Nah, kalau anak layu itu apa? *serius nanya. Oke, lupakan sejenak tentang anak-anak itu, kita kembali ke alay.

Jadi alay ini dikategorikan dalam suatu komunitas yang memiliki bahasa dan gayanya sendiri. Sama seperti komunitas-komunitas lain, yang memiliki ciri khas tersendiri. Nah, Alay ini lebih berfokus pada bahasa, fashion dan tingkah laku. Kerennya, komunitas alay ini merupakan komunitas yang tidak pernah hadir dan menampilkan diri secara terang-terangan di dunia nyata. Alay memiliki eksistensi di dunia maya. Menurut Anderson dalamm tulisan Hadi yang berjudul Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis MARK SLOUKA Terhadap Jagat Maya (2005) alay merupakan sebuah komunitas bayangan tentang kebersamaan yang terdeteksi lewat generalisasi perilaku yang berkaitan dengan pola bahasa alay itu sendiri. Entah bagaimana caranya dan apa batasannya, kita bisa tau bahwa itu adalah bahasa alay atau bukan. Iyalah, bahasa aneh yang bukan bahasa Indonesia dengan sendirinya menjadi bahasa alay, seperti ciyus miapah? boljug nih blog.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, ke-alay-an ini muncul pada tahun 80-an akhir dengan bahasa gaulnya. Kalau zaman dulu bahasa gaul itu istilahnya prokem. Silahkan tanya emak bapak. Mereka bakal gak ngerti apa itu bahasa gaul tapi kalau prokem mereka bakal ngerti. Alay mulai berkembang di zaman 90-an karena telepon genggam sudah mulai banyak meskipun belum seperti kayak kacang goreng seperti sekarang, tapi bisa dipukul rata untuk anak-anak yang tinggal di kota hampir memiliki telepon genggam, setidaknya mereka tau dan pernah megang meskipun kadang telepon genggam itu punya emak, babe, kakak, atau teman. Melalui segenggam telepon itulah bahasa ke-alay-an itu muncul. Iyes! bahasa alay muncul melalui pesan singkat. Mungkin gak sengaja kali ya, masih grogi nulis jadinya s3p3rt1 1ni. d4n j4d1 tReN di z4maNnya s4mpa1 S3kar4ng. Eh, kok tulisan saya jadi alay. Maklum, saya anak 90-an. wkwkwkwkkk!

Dan zaman sekarang alay menjadi begitu terkenal bahkan bisa jadi sebagai trend hidup anak muda karena ke-alay-an itu menyebar bagai virus yang terus tumbuh dan berkembang karena kecanggihan tekonologi. Yoi, selain telepon genggam udah kayak kacang goreng karena seorang pemulung juga punya telepon genggam, ditambah media sosial yang seabrek-abrek plus sinetron-sinetron aneh bin ajaib yang menunjukkan ke-alay-an. Gimana gak jadi tren coba. Karena bagi anak muda alay itu adalah keren!.

kok bisa?

Alay itu keren! karena dengan alay anak muda merasa terakui. Eksistensi. Iya, sebagai remaja yang dianggap masih kecil padahal udah merasa dewasa membutuhkan eksistensi. Keakuan diri. Pengakuan bahwa mereka ada. Dan alay salah satu caranya. Karena alay itu gaul. Gaul itu keren. Remaja butuh keren untuk diakui keberadaannya. Jadi, banyak remaja yang memilih alay. Karena alay adalah ekspresi pengungkapan diri. Menurut Subandy (2007) penguasaan bahasa gaul dianggap sebagai modal utama untuk bisa masuk dalam dunia yang diyakini membutuhkan orang-orang yang gaul. So? mau jadi anak gaul? mari bergabung dalam komunitas alay. huehehe!

Kalau dari sejarahnya, pada zaman 80-an bahasa gaul atau prokem atau bahasa alay ini muncul untuk mengakrabkan diri sesama teman agar suasana gak terlalu canggung dan tidak melulu serius. Bisa jadi sih, mengingat aturan zaman dulu yang begitu ketat dimana ada aturan-aturan tertentu yang melarang ini dan itu, kaku. Ada gap antara atasan dan bawahan, ada batasan antara orang berada dan kurang, ada spasi antara wanita dan laki-laki. Muncullah geng alay itu yang mengeluarkan bahasa-bahasa gaul agar diantara mereka menjadi lebih dekat, meleburkan pembatas. Tapi ternyata kebablasan, karena alay yang berkembang sekarang terlalu lebay, berlebihan dan bebas tersebar disemua kalangan. Anak-anak yang polos yang butuh inspirasi dan panutan akan melihat pola tingkah laku dan bahasa kakak pendahulunya maka secara sadar atau tidak, anak-anak polos itu jadi ikut-ikutan, karena  bagi mereka kakak-kakak pendahulunya itu adalah inspirasi dan keren. Sedangkan orang tua sebangsa nenek-kakek cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku cucunya dengan ke-alay-an ini sembari berkomentar zaman sekarang udah beda dengan zaman dulu. He-eh! Tujuan awal dari bahasa alay yang hanya untuk menghibur serta lawakan semata, kini mulai berubah arah haluannya menjadi sebuah trend atau gaya tersendiri.

Tapi ternyata yang awalnya alay itu hanya seputar bahasa, menjadi berkembang sampai pada gaya berpakaian dan kenarsisan. Kalau gaya anak 80-an saya kurang tau gimana, mungkin celana jubray, rok selutut kaos dan rambut a la demimore mungkin ya, *emang demimore anak 80-an ya?*, style anak 90-an beda lagi. Masih ingat film kuch-kuch hota hei atau film india lainnya dizaman itu atau film amigos? atau film bidadari, jin dan jun? atau film sejenisnya? Maka anak-anak akan dikatakan gaul dengan style yang seperti itu, pakai jaket dipinggang kayak rahul dan anjali atau gaya rambutnya kayak rahul atau tina, atau gayanya pedro dan ana di film amigos. ya, kira-kira seperti itulah ya. Sedangkan era 2000-an? hm, saya juga bingung gaya sekarang berasal darimana? tapi gak bisa dipungkiri bahwa film dan media sosial sangat mempengaruhi perkembangan ke-alay-an ini. Semakin berbeda dan menemukan gaya baru maka akan semakin alay. Semakin alay maka semakin keren *menurut orang alay, bukan kata saya ya. eh, jangan-janga saya termasuk alay?*. wkwkwkwk!.
 
Ke-alay-an sekarang lebih dikenal dengan istilah kekinian yang entahlah, yang jelas bagi saya semakin gak masuk akal, seperti setiap mau makan di sebuah tempat makan, foto dulu, mau apa aja foto dulu, update status dulu atau apalah, yang penting melapor dulu ke media sosial. Masalah buat lu? Gak juga sih, tapi rada terganggu aja. Dan ternyata dalam tulisan Fenomena Bahasa Alay : Simbol Generasi Muda Masa Kini menyebutkan bahwa tingkah laku (gaya dan cara berpakaian) yang membuat mata risih melihatnya dan bahasa yang tidak enak didengar dan tidak biasa bagi masyarakat adalah salah satu ciri ke-alay-an.

Pola tingkah laku alay terlahir dari bahasa alay yang membentuk komunitas bayangan yang melahirkan pola pikir komunitas itu menjadi aneh bin lebay, menemukan gaya baru atau menjadi pengikut orang-orang terkenal dengan gaya dan pola tingkah laku yang berlebihan itu keren. Tapi kalau dipikir-pikir, alasannya simpel sih, eksistensi!. Ingin pengakuan diri. Iya gak sih? Makanya jadi alay biar semua mata tertuju padamu.

Sedikit cerita kekinian atau ke-alay-an yang sudah menyimpang itu yang pernah saya temui adalah ketika para pejantan tangguh dengan bangganya berfoto a la wanita cantik. Entah apa maksudnya. Kalau dibilang transgender juga bukan sih. Atau sedang berteater ria juga gak. Iseng saya nanyain alasannya berfoto dan mengunggah pose foto-foto itu, dan alasannya sederhana. mereka bilang "ih, kakak gak gaul. biar kekinian atuh kak". seketika saya cuma bisa tersenyum miris garuk-garuk kepala.

Alay, seperti menjadi identitas remaja saat ini. Karena ya begitu, ketika mereka mencari jati diri, yang mereka temukan adalah panutan-panutan alay hampir disemua jaringan yang mereka temui. Acara di televisi, media sosial yang ada, bahkan di lingkungan terdekat semuanya sudah termakan dengan ke-alay-an yang ada. Meskipun alay yang sekarang udah beda banget dengan alay zaman 80-an dan 90-an. ke-alay-an sekarang terlalu berlebihan melewati batas logika saya, menurut saya. Emang sih, gak ada batasan yang kongkrit terhadap ke-alay-an seseorang. karena memang alay memiliki definisi yang tak hingga. Siapapun bisa saja masuk dan sedang berada dalam komunitas ini. atau jangan-jangan saya juga sedang alay? ah, entahlah.

Dari sepanjang tulisan dan beberapa bacaan yang sudah saya baca itu, saya cuma bisa menyimpulkan dan setuju bahwa semua hal yang berlebihan itu tidak baik. karena menurut saya sendiri, jika awalnya bahasa alay itu bertujuan untuk mempereat hubungan antar individu dalam kelompok, maka alay gak masalah. Tapi menjadi masalah adalah ketika bahasa alay yang berlebihan dan berbau negatif yang kemudian ditunjukkan oleh tingkah laku dan gaya berpakaian. Iya, alay yang terlalu alay itu sungguh mengganggu umat manusia lainnya, maka alay itu menjadi tidak baik. jadi harus dimusnahkan! *eh

Yah, apaun itulah. mau alay atau gak, alay yang terlalu alay atau apalah, yang jelas siapapun pernah menjadi alay. Iya! Siapapun pernah bergabung dalam komunitas alay. Karena alay adalah komunitas umum yang selalu terbuka untuk siapa aja yang pernah menghadapi segala sesuata dan bertingkah laku secara lebay. Jadi, misalkan kamu pernah galau secara berlebihan atau menulis tetapi tidak semua orang mengerti, welcome to the Alay Grup. Huehehe!

Semoga alay kembali kepada tujuan awalnya untuk mempererat hubungan antar teman. Bukan alay yang lebay yang membuat "enek" sebagian orang yang mulai kembali normal.

Ipehthepooh
Pekanbaru, 2 Oktober 2016


Catatan referensi:

Ibrahim, Idi Subandy. 2007. Budaya Populer Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Penerbit Jalasutra
Hadi, Astar. (2005). Matinya Dunia Cyberspace: Kritik Humanis MARK SLOUKA Terhadap Jagat Maya. Yogyakarta, LkiS.
Fenomena Bahasa Alay : Simbol Generasi Muda Masa Kini dalam Jurnal unair.ac.id


Bloom and Grow Forever!

Lihatlah bunga disana bersemi
Mekar, meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari, badai menghampiri
Kau cari kemana, dia masih disana
Walau tak semua tanya datang beserta jawaban
Dan tak semua harapan terpenuhi
Ketika bicara sesulit diam,
Utarakan, utarakan, utarakan!
[Banda Neira-Utarakan]

Penggalan lirik ini mengingatkan gue pada serumpun bunga yang tumbuh di atas ketinggian sana. Meski hujan badai, dia masih disana. Tetap tumbuh dan memberikan keindahan. Bunga apalagi selain bunga abadi, Edelweis!
Edelweis di tegal alun, papandayan 2014
Eh, udah ada belum ya yang meneliti tentang budidaya bunga ini, secara bunga edelweis ini sudah masuk kategori terancam dalam data Red List IUCN (IUCN RedList, 2008). *IUCN [International Union for Conservation of Nature] atau biasa dikenal World Conservation Union merupakan lembaga konservasi sumber daya alam dunia yang berdidiri pada tahun 1948 dan berpusat di Switzerland.

Ya iyalah bunga ini masuk dalam kategori terancam, pada tahun 1990 aja udah tercatat 636 tangkai dicuri setiap tahun di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Pada tahun 2012 dilakukan pengukuran ulang oleh Pengendali Ekosistem Hutan TNGP, ternyata terjadi degradasi luas areal edelweis di alun-alun kencana yang tadinya 51 ha menjadi 30 ha.

Penasaran gak sih siapa yang pertama kali menemukan bunga edelweis. Kenapa edelweis itu disebut bunga abadi? Emang bedanya dengan bunga-bunga yang lain apa? Bisa gak ya edelweis ini di tanam di halaman rumah? Kan kalau bisa, gak perlu harus mendaki gunung lewati lembah dulu biar bisa menikmati mekarnya si bunga, tinggal nongkrong aja di halaman rumah sambil minum segelas kopi susu dan ngemil pisang goreng. Huehehe!

Setelah berguru pada om wiki dan membaca beberapa jurnal orang via om gugel, gue menemukan fakta bahwa di Indonesia orang yang pertama kali menemukan bunga edelweis adalah  Prof. Caspar Georg Karl Reindwart pada tahun 1819 di tebing gunung Gede. Tapi edelweis yang ditemukan itu berbeda dengan edelweis di pegunungan alpen dan wilayah Eropa lainnya. Kok bisa? Ternyata eh ternyata memang ada dua jenis edelweiss yang terkenal yaitu Leontopodium alpin dan Anaphalis javanica. Kedua bunga itu berasal dari keluarga yang sama yaitu Asteraceae tapi genus yang berbeda. Jadi meskipun sama-sama Edelweis, tapi penampakannya berbeda. Nah, edelweis yang sering ditemui di gunung-gunung Indonesia itu ternyata jenis Anaphalis javanica yang berada di ketinggian 2000-3000 mdpl, sedangkan Leontopodium alpin merupakan edelweis yang berjejer rapi di pegunungan Alpen  (Eropa), Asia (Himalaya, Jepang dan China) yadan Amerika Latin yang tingginya lebih dari 3400 mdpl. Kata Edelweis sendiri berasal dari bahasa Jerman, Edel dan Weis. Edel berarti mulia sedangkan Weis berarti putih.

Edelweis sering dibilang sebagai bunga abadi atau yang lebih kece dikit everlasting flower karena konon ceritanya bisa bertahan sampai 100 tahun dalam keadaan kering dan bentuknya gak berubah. Ingat! dalam keadaan kering, bukan dalam keadaan segar.  Berbeda dengan bunga-bunga lain yang juga bisa dikeringkan tetapi masih bisa rontok dalam hitungan bulan atau bentuknya udah jadi dua dimensi.  Itu loh, seni oshibana dari Jepang kan pake bunga kering juga yang dibentuk dalam dua dimensi dan bisa bertahan lebih lama juga. Tau gak, fakta lain yang guet temukan ternyata bunga yang bisa bertahan lama itu cuma kelopaknya aja karena serbuk sari yang berwarna kuning yang berada ditengah-tengah bunga akan rontok tiga hari setelah mekar. Loh kok bisa kelopaknya bisa gak rontok gitu? Usut punya usut, edelweis ini punya hormon etilen yang lebih banyak dari bunga lainnya yang dapat menghambat hormon lain untuk mengugurkan bunga. Edelweis mulai berbunga antara April dan Agustus. Makanya bulan Agustus itu menjadi bulan yang sakral bagi para pendaki, selain untuk mengibarkan kain berwarna merah putih juga sebagai moment untuk dapat menikmati harumnya wangi bunga edelweis yang sedang mekar.

Kenapa harus edelweis yang menjadi primadona? Padahal masih banyak tanaman-tanaman yang gak kalah kece di deretan gunung Indonesia. Kenapa orang-orang melambangkan keabadian cinta pake bunga ini. Kenapa? hayo, kenapa? *hidup gue penuh dengan pertanyaan kenapa ye? wkwkwwkwkkkk!

Ternyata karena edelweis memang bunga yang spesial. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor di tanah vulkanik muda di daerah pegunungan yang tandus, banyak batu, miskin unsur hara, suhu yang ekstrim, dengan kondisi lingkungan yang banyak sulfur, angin badai bahkan ketika hujan es sekalipun edelweis masih bisa bertahan untuk hidup memberikan bunga-bunga yang ciamik yang suka dipetikin sembarangan oleh para yang suka ngaku pecinta alam. Canggih gak tuh, edelweis masih bisa tumbuh di lingkungan yang ekstrim dan mencekam gitu. Menurut Brundrett dan teman-temannya (1996) edelweis ini tumbuh dengan cara bersimbiosis mutualisme dengan mikoriza. Mikoriza itu sejenis jamur non patogen yang berfungsi untuk mengikat nitrogen dan fosfor yang berguna sebagai agen pupuk biologi yang dapat memperbaiki struktur tanah. Mikoriza mendapatkan makanan dari edelweis dan edelweis mendapatkan nutrisi dan hara dari mikoriza. Seperti hubungan aku dan kamu. iya kamu! *kamu yang masih entah dimana. huahahaha!

Edelweis tidak hidup sendiri tapi berumpun, tingginya bisa mencapai 4 m dan punya banyak cabang. Kata Van Leeuwen (1993) batang edelweis sering ditumbuhi lumut karena sifat batang edelweis yang berongga dan ditutupi kulit tebal yang membuat batangnya sedikit lembab. Tujuannya memang untuk menyimpan air pada batang karena kondisi lingkungan yang ekstrim yang cuma mengandalkan air hujan dan kabut.
Alun-alun surya kencana, 2013
Tidak hanya batang yang beradaptasi dengan keadaan ekstrim itu, tapi daun-daun edelweis juga melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan tumbuhnya. Daun edelweis diselimuti oleh bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan dan berbentuk lancip hampir mirip jarum. Fungsi bulu-bulu tersebut untuk menangkap cahaya matahari secara optimal sehingga dapat digunakan untuk kegiatan fotosintesis. Hal ini karena di puncak gunung tersebut sering datang kabut tipis yang turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin *eh, kenapa jadi berpuisi? Plaaakkkk!
Rumpunan edelweis di lembah mandalawangi 2014
Bentuk daun yang lancip berfungsi untuk mengurangi transpirasi atau penguapan air dari daun yang berlebihan sehingga kebutuhan air tetap dapat dipenuhi meskipun ketersediaannya terbatas. Satu lagi, daun yang imut-imut gitu juga berfungsi untuk menahan terjangan angin badai yang sering menyapa gunung sehingga edelweis masih bisa berdiri dengan kokoh dan tak tergoyahkan. Warna daun edelweis hijau muda keabu-abuan dan akan menjadi lebih gelap seiring bertambahnya umur tumbuhan karena adanya degradasi sel mesofil akibat terkena paparan sinar matahari yang lebih lama.

Kenapa edelweis termasuk kedalam kategori tanaman langka yang masuk dalam daftar terancam dan harus di lindungi? Padahal di gunung Gede aja luas lahan yang penuh dengan edelweis ini mencapai 51 ha dan tinggal 30 ha di tahun 2012. 30 ha loh! itu bukan luas yang sedikit untuk kategori kebun bunga. dan itu juga baru satu gunung. Indonesia kan punya banyak gunung. Jadi kenapa edelweis masih temasuk tanaman langka?

Luasnya sih memang masih cukup luas, tapi kemampuannya untuk berbunga dan tumbuh itu loh yang rada lama. Dari data penelitian Van Leeuwen ternyata edelweis membutuhkan waktu paling cepat 5 tahun untuk dapat berbunga dan untuk mencapai ketinggian 20 cm edelweis membutuhkan waktu tidak kurang dari 13 tahun. Edelweis berkembang biak melalui biji yang jatuh dibawa angin. Jika lokasinya pas dengan kebutuhan si biji maka tumbuhan edelweis akan tumbuh, dan 5 tahun kemudian baru akan berbunga dengan ketinggian yang gak bakal lebih dari 20 cm. Biji itu gak bisa tumbuh kalau tempatnya banyak naungan pohon-pohon. Nah, bayangkan gimana ceritanya kalau bunga-bunga itu dipetikin dan dibawa pulang? Ya biji gak bakal terbentuk dong! kan bunganya dibawa turun. Gak ada biji jadi jangan harap edelweis bakal terus ada. Emang sih, sekarang sudah mulai ada yang melakukan penelitian melalui stek batang edelweis. dan hasilnya tetap aja belum ketemu yang pas. Daya tumbuh dari stek batang itu gak lebih dari 40% dalam waktu 16 minggu! Itu baru sampai berakar dan belum stabil. Jadi memang gak ada cara sih untuk melindungi edelweis selain terus mencari cara budidaya yang pas agar edelweis bisa tumbuh dengan baik dan menjaga edelweis yang sudah ada.

Percaya atau gak, edelweis adalah contoh tumbuhan yang baik. Karena edelweis memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem. Edelweis merupakan tanaman pionir untuk suksesi lahan. Ingat kan ya, kalau edelweis ini adalah tumbuhan yang dapat tumbuh di kondisi unsur hara yang miskin banget. Nah, edelweis ini sebagai tumbuhan pembuka di lahan-lahan yang ekstrim itu. Maksudnya setelah edelweis tumbuh, maka tumbuhan lain juga dapat tumbuh karena unsur hara yang sudah tersedia karena kerjasama edelweis dan mikoriza, dan selanjutnya tumbuhan edelweis akan hilang karena perkembangannya terhambat. Edelweis suka dengan paparan matahari yang full, jadi kalau udah banyak pohon, maka edelweis akan mati. Selain sebagai suksesi, edelweis juga sangat membantu dalm mencegah erosi di lereng-lereng gunung karena sifat tanamannya yang perdu sehingga dapat membatu menutupi tanah. Makanya edelweis itu cuma bisa ditemui di tempat-tempat yang udah gak ada tumbuhan lagi selain edelweis, seperti di tebing-tebing jurang atau di hamparan luas sebelum puncak-puncak gunung. FYI, bunga edelweis ini menjadi lambang kesucian di Switzerland karena latar belakangnya.


Jadi, keliatan kan ya kenapa edelweis itu begitu spesial, seperti kamu, *eh, laper!.

Iya! Edelweis itu mengajarkan banyak arti hidup. Kesederhanaan! Edelweis hidup dengan sederhana tanpa harus mengeluh ini dan itu. Edelweis itu gak manja. Edelweis hidup dengan menerima dan terus tumbuh memberikan keindahan. Edelweis  gak pernah ambil pusing dan mengutuk takdir yang menempatkannya pada kondisi yang parah gak menduknung gitu, miskin unsur hara, berbatu, dingin, hujan badai, atau panas terik sekalipun, yang gue tau edelweis tetap disana berbunga. Edelweis gak pernah marah dengan tangan-tangan jail yang ngakunya cinta tapi malah merusak. Edelweis masih tetap kalem, dan lagi-lagi masih terus berbunga.  Edelweis mengajarkan gue untuk melakukan usaha yang sangat keras dan terus beradaptasi untuk dapat bertahan hidup meskipun lingkungan tumbuhnya tidak mendukung. Ah, edelweis! gue malu sebagai manusia hidup kok manja banget. Padahal kalau dipikir-pikir lingkungan hidup gue gak separah lingkungan edelweis. Kalau edelweis bisa ngomong, mungkin edelweis bakal bilang ini kali ya, "Bloom and Grow Forever!".

Cuma itu kok.
"Bloom and Grow Forever!"

Sederhanakan?

Pekanbaru,
31 Agustus 2016


*catatan referensi:
1. Aliadi, A., et al., 1990. Kemungkinan penangkaran edelweis (Anaphalis javanica) dengan stek batang. Media Konservasi. 3(1):37
2. IUCN Red List. 2008
3. Van Leeuwen W.M.D., 1993. Biologyof plants and animals occuring in the higher parts of mount Pangrango-Gede in West Java. Uitgave van de N.V. Noord Hollandsche. Amsterdam
4. Brundrett, M., Bougher, N., Dell, B., Grove, T. and Malajczuk, N., 1996, Working with Mycorrhizas in Forestry and Agriculture. ACIAR, Canberra.

Marble Mountain, si Gunung marmer yang Menakjubkan..!!



ini penampakan 2 dari 5 marble mountain.
pinjam punya orang

Ketika di ajak oleh si kawan untuk mengunjungi Marble Mountain, yang ada dibayangan hanya sebuah kesejukan di bawah pohon-pohon hijau yang menjulang tinggi, suasana yang tentram dan angin yang bisa meninabobokan. Karena ini adalah mountain. Tapi, eng..ing..ong..!! bayangan itu segera terbantahkan ketika dengan kaki sendiri menginjak si Marble Mountain. Oke, saya kira itu hanya sebuah nama, dimana dulunya banyak Marble atau marmer disana. Tapi kawan, ini benar-benar Marble Mountain..!! ini bukan konon, tapi nyata benar-benar si gunung marmer..!!


Yoi, batu-batu yang menyusun si gunung ini adalah marmer. Antara asli atau bukan, saya tidak jago membedakan. Tapi ketika sampai puncak ada batu marmer seabrek-abreknya, yang tersusun menjadi tangga yang luicin kalo gak hati-hati, saya jadi mikir beberapa kali untuk meragukannya. 

menuju goa yang kesekian, masih gersang
Marble Mountain ini gak sendiri. Tapi ada lima. Yup, mereka lima bersaudara, yang menggambarkan lima elemen yang menyusun alam. Yaitu Kim Son (Metal-Logam), Thuy Son (Water-air), Moc Son (Wood-kayu), Hoa Son (Fire-api) dan Tho Son (Earth-tanah). Dan gunung yang bisa dikunjungi adalah Thuy Son, dan bisa sampai puncak. Karena udah ada tangga yang tersusun rapi dan licin. Bahaya kalau gak hati-hati. 

cahaya yang  masuk menembus
dinding batu, dan itu marmer











Di Thuy Son ini banyak goa-goa tempat patung-patung Budha yang menjulang tinggi berdiam diri. Ceritanya, Marble Mountain ini menjadi pusat penyebaran agama Budha, makanya banyak patung-patung Budha yang bersemedi sepanjang abad. Hampir di sepanjang perjalanan menuju puncak gunung, akan kita temui goa-goa yang wangi semerbak kemenyan. Yoi, rata-rata wisatawan yang datang tidak hanya sekedar datang dan menikmati ukiran si patung, tapi sekaligus beribadah dan berdoa. Gunung ini antara gersang dan rindang. Ada sudut-sudut yang sama sekali botak, gak ada pohon. Dan ada beberapa sudut yang ada pohon, tapi gak banyak. Jadi kalau kamu membayangkan gunung-gunung ini layaknya gunung-gunung di Indonesia yang punya banyak pohon, segera lupakan. 

ini sebelum puncak, disana lautan lepas..!!
Pada zaman perang Vietnam, Marble Mountain ini menjadi benteng dan rumah sakit bagi orang-orang Vietkong. Kata William Broyles Jr’s dalam Brothers in Arms, Marble Mountain ini adalah tempat pertahanan yang tidak di ketahui oleh penjajah karena Marble Mountain yang di kelilingi oleh pegunungan batu di sisi barat dan laut di sisi timur sehingga menjadi kekuatan bagi orang Vietkong. Bahkan dalam sejarahnya, melalui puncak gunung ini pesawat-pesawat tempur Amerika berhasil di tembak oleh para pejuang wanitanya. 

Terik matahari yang bersinar, membakar kulit akan menemani perjalanan hingga puncak gunung. ada yang istimewa di atas puncak sana. Yoi, susunan batu-batu marmer yang berantakan, dan sudut 3600 penuh dengan pemandangan kota Da Nang dan pantai yang menyatu membentuk garis cakrawala  di tambah dengan si Matahari yang bersinar terik, meskipun awan setia menutupinya dan angin yang berhembus sesekali. *seandainya ada Hammock dan pohon, mungkin ini menjadi tempat yang paling menarik untuk menikmati secangkir kopi, hehe..*

*Sumber dari cerita ini dari gugel dan melihat sendiri selama perjalanan, yang saya bahasakan melalui cara saya. ^^v*

Hoi An, Kota Romantis di Vietnam



Yap..!! kota yang disinggahi setelah Da Nang, adalah kota Hoi An. Kota Tua yang masuk dalam daftar UNESCO karena masih mempertahankan bangunan-bangunan tua meskipun udah berabad-abad yang lalu. Jadi, kota Hoi An adalah kota tua-nya Vietnam. Ciri khas dari Hoi An adalah berjuta-juta lampion memenuhi langitnya *oke, saya lebay, tapi itu benar,  meskipun gak sampai berjuta-juta*. Iya..!! ini serius. Setiap kamu memandang langit kota ini, maka kamu akan melihat lampion berjejer dengan warna warni dan bentuk yang beragam. Ah..!! romantis sekali. >.<
ini masih sore, lampion belum menyala. ^^
Hoi An terletak 30 km dari kota Danang, tepatnya di Propinsi Quang Nam. Sebenarnya gak ada yang menarik dari kota ini, kecuali lampion dan tempat nongkrong. Di Hoi An juga banyak orang-orang dari kerajaan Champa. Ya iyalah ya, 30 km masih bisa terhitung dekat. Kata Wikipedia, Hoi An itu pada abad ke 17 di jajah sama Jepang dan China, abad ke 18 di jajah oleh Belanda dan Spanyol. Hebatnya, budaya hasil dari jajahan itu melekat kuat dan mempengaruhi gaya dan arsitektur dari bangunan-bangunannya. Makanya, Hoi An dibilang Kota Tua Vietnam.
narsis dikit sama lampion-lampion cantik, boleh lah ya..
bagus kan? ^^v

karena romantisnya, ada yang prewed disini..
Sungai Hoi An menjadi lebih romantis dengan temaram si lampion
 Awalnya, Hoi An ini namanya Faifoo yang artinya peaceful meeting place. Katanya tempat pertemuan China dan Jepang gitu, kayak bagi-bagi daerah jajahan mungkin ya. Makanya di Hoi An kita bisa nemuin yang namanya “Jembatan Jepang – Japanesse Bridge” yang dibuat oleh Jepang. Jembatan kayu yang ada patung Budhanya. Dulu, jembatan itu pake sistem buka tutup, ada waktunya buka, dan ada waktunya tutup. Biasanya akan dibuka kalau mau barter barang. Sekarang, si Jembatan itu jadi tempat yang menarik di kunjungi-katanya. Ya, okelah, buat kamu anak arsitek atau sejarah. Dari jembatan ini, kamu bisa liat kota Hoi An yang kecil, dan dipenuhi sama lampion-lampion. 


ini dia, Hoi An dari kejauhan, terang. karena lampion di setiap sudut.

Bingung gak sih, kok ada kota yang langitnya penuh dengan lampion. Jadi gini ceritanya, setelah saya bertanya dan bercerita dengan orang Vietnam, yang bernama Lan, ternyata eh ternyata, itu emang udah menjadi budaya dan kebiasaan orang-orang Hoi An. Kenapa? Ya karena di zaman penjajahan dulu, gak ada listrik, jadi untuk menerangi kota, maka mereka buatlah lampion yang buanyak, sehingga si Hoi An tetap terang dan tentu saja menarik. Hm, makanya Hoi An ini kota yang damai. Yoyoi..!! damai bersama lampion-lampionnya. Dari semua kota yang saya kunjungi, Hoi An memang kota yang tenang ditengah keramaian dan oke buat ngedate. Seandainya kamu ada disini. Wakakakakkkk...!! 

Oia, di Hoi An juga (mungkin) gudangnya fashion. Banyak model-model baju yang (menurut saya) oke punya, simpel, sederhana tapi elegan. Untung bawa duit pas-pasan, jadi meski lapar mata, masih bisa nahan diri buat gak belanja. Dan katanya, kalau mau buat baju disana juga bisa. Banyak para bule yang sengaja datang ke Hoi An buat baju, jas atau celana buat acara-acara resmi, satu-dua hari kemudian selesai.  Hebat ya.. Hoi An bisa jadi kota wisata hanya menjual bangunan tua, budaya, sejarah dan keahlian mereka-menjahit.