Tampilkan postingan dengan label IPB. Tampilkan semua postingan

Perjalanan Cinta Tesis (eps.3)


Tulisan lama yang sembunyi di draft tulisan. Baru diposting sampai episode tiga. Berhubung lagi gak ada ide buat nulis apa, jadi lanjutkan saja nulis cerita ini. hehe! Monggo dibaca dulu yang eps.2 disini.
 
Kertas putih!
Okesip! Data selesai diolah. Hasil keluar. Sesuai dugaan. Tidak ada yang berbeda nyata dengan data-data dan perlakuan ini. Maka yang terjadi adalah, fuyeng ini masih terus berlanjut. Terpaku dan termangu menatap angka-angka itu. Apa dan bagaimana saya harus menuliskannya. Apakah saya harus menulis “ perlakuan a, b dan c menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan dan produksi si cabai karena si cabai memang dapat hidup hampir di semua ketinggian, dan ketika itu bogor dilanda hujan sehingga ketersediaan air tercukupi dan tingkat ketutupan awan yang tinggi sehingga si tanaman tidak kegerahan, jadi gak perlu pake selimut”. tetapi itu tidak mungkin saya lakukan, karena saya masih waras dan tentu saja itu sangat tidak ilmiah. Ada jawaban dibalik pertanyaan kenapa. Maka yang perlu saya lakukan adalah mencari kenapa ada pertanyaan “kenapa”. *eh*.

Yoyoi! Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mencari referensi dan pustaka. Dan kamu tau apa yang terjadi? Apakah saya menemukan titik terangnya? Kamu benar! Saya semakin menemukan titik kepuyengan atas penelitian yang saya lakukan. Mengapa dan kok bisa? Wkakakakkkk! Apalagi dengan referensi yang ada berbahasa planet, butuh waktu yang panjang untuk memahami apa sebenarnya yang dibicarakan dan ini berkolaborasi dengan dua mata kuliah ajaib yang secara sengaja saya ambil. Lengkap sudah. Apa coba? Binggo! Apalagi selain menyisihkan dan melupakan sebentar apa dan siapa itu si tugas akhir.

Dan yang terjadi adalah kertas putih selama 6 bulan sejak penelitian kelar, masih tetap menjadi kertas putih tanpa noda sama sekali. Selain sesekali dibuka untuk direnungi, dan setelah bosan menatap kertas putih bersih itu maka dengan senang hati menutupnya kembali dan berpindah ke layar yang bisa bergerak, bicara dan mengeluarkan musik yang bisa menghibur hati. Terhitung 3 bulan setelah data selesai di olah, progressnya hanya kertas putih! 

Just start!
Pernah mendengar dua kata itu? Just start! so simple, but so hard to do it! need full time to find the “klick” and taraanngg! Start..!!

Setelah merenungi si kertas putih itu berminggu-minggu, dan menyadari bahwa kertas itu tidak akan berbuat apa-apa tanpa memulai mencoretnya. Maka semangat itu datang. Yuhuu! Mari coret-coret sebentar. Hanya menyisihkan waktu setiap hari untuk membuka dan mencoretnya. Meski hanya sebaris dua baris. Untuk apa? Untuk menumbuhkan semangat yang hampir mati karena kelakuan yang tidak jelas. Lupa akan arti dari kebutuhan dan keinginan. Ini kalimat ngelindur,tapi benar. Keinginan nongkrong yang berlebihan mulai membunuh waktu secara sia-sia yang seharusnya efisien, dan tentu saja itu bukan suatu kebutuhan. *Sowise*

And, here I am! Kembali menulis. Dan kembali bersemangat. Meskipun puyeng terus berlanjut dengan referensi dan data-data ini. Tapi kepuyengan ini memang harus segera di selesaikan. Caranya? Kerjakan! Karena si data masih termasuk benda mati yang gak bisa berbuat apa-apa tanpa ada tangan-tangan yang menuliskannya. Semangat menyongsong 2015! Yosh!

Memasuki 2015

Antara si cabai, tanah atau patogen..!!
Ketika semangat membabi buta untuk mulai merangkai kata dari angka-angka yang sedang menari, tetiba tugas-tugas dari dua mata kuliah ajaib itu menyerang tanpa ampun. Ditambah dengan jadwal ujian yang sudah mengantri dengan materi-materi ajaib yang butuh kekhidmatan khusus untuk mengerti siklus penyakit, patogen dan proses analisis tanah. Parahnya, saya manusia dari planet (prodi:red) lain yang mengenal mereka hanya sepintas lalu. Niatnya, semester ini ingin mengenal mereka lebih jauh. Dan selanjutnya, ternyata oh ternyata, keinginan untuk mengenal mereka lebih jauh berdampak pada rambut menjadi semakin keriting, mata semakin sayu, otak mulai ngebul dan berat badan bertambah naik. Wakakakakk!

And so? What? Lagi-lagi semangat yang mulai muncul itu segera teralihkan ke tulisan-tulisan seputar tanah dan patogen. Kegalauan lagi-lagi melanda. Memilih antara menyelesaikan si cabai, atau menuntaskan secara totalitas si tanah dan patogen ini. Akhirnya,  saya cuma bisa bergumam “Hai cabai, maaf..!! saya kembali menduakanmu. Dunia patogen dan tanah untuk saat ini lebih penting, karena menyangkut hidup dan mati saya semester ini” 

Deadliner..!!
Kamu mahasiswa? Pernah dengar kata deadliner? Atau sks? ituloh, sistem kebut semalam. Baguslah kalau kamu sudah tidak asing dengan kata-kata itu. Karena episode ini kita akan membahas yang namanya deadline dan deadliner. Hehe! Tanggal 9 Januari 2015 adalah hari terakhir saya bermain dengan si tanah dan patogen. Ujian selesai, entah apa dan bagaimana hasilnya, yang jelas sudah melakukan yang terbaik, totalitas selama kuliah. Ini adalah semester terajin saya selama kuliah, dimana absen full satu semester tanpa celah buat bolos. Haha!

Tapi, kebahagiaan UAS berakhir hanya sekejap mata, jam 4 sore, niat hati mw berleha-leha tapi duarrr! sang dosen memanggil. Huakakakakkkk! Mau menghilang lagi? Sepertinya sudah cukup jika ingin selesai di semester ini. Dan dengang langkah gontai tanpa progres memberanikan diri ketemu sang dosen.

Dooorrr..!! benar saja, sang dosen minta progres, dan saya hanya bisa cengar-cengir garuk-garuk kepala gak jelas dan bilang si data masih dalam tahap interpretasi. Dan dengan blak-blakan sang dosen nyeletuk “lama amat, mungkin belum kamu kerjakan?. Kalau kamu kerjakan paling lama seminggu juga udah kelar”. Rasanya itu ingin sembunyi di kolong meja, gak bisa berdalih, karena memang benar itu yang saya lakukan, menutup data dan bermain dengan hal lain. Tetiba sang dosen nyeletuk lagi “oke, 2 minggu dari sekarang draft pertama untuk jurnal kamu harus masuk ke meja saya”. Dan whattt????? Cuma bisa tersenyum getir mengangguk-mengiyakan. Dan taraaannnggg..!! selamat menikmati profesi baru, deadliner..!! 

Terkadang, tekanan itu membuka jalan.
15 hari menjelang tanggal yang ditentukan sang dosen untuk draft pertama. Kalang kabut. Tentu saja! Apalagi jurnal-jurnal yang berserakan di file antah berantah, data yang nyelip sini nyelip sana, dan kamar yang super abstrak dengan slide-slide berjejer memenuhi isi kamar *jangan percaya sepenuh dengan yang kau baca*. So? What can i do? What else, boy..!! buka laptop, buka buku, buka file, lalu kerjakan! yup, Cuma itu satu-satunya cara agar hidup bisa kembali tenang.

Okelah, sepertinya memang cukup sampai disini lari dan berpaling dari si tugas akhir. Sudah tidak ada alasan lagi untuk menolak bermain dengannya. Dan begitulah, 15 hari itu benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk merangkai kata, membuka mata, dan menyelesaikan draft pertama.

Mungkin memang begitu, terkadang kita memang butuh tekanan untuk mengerjakan sesuatu, membuka jalan, dan menyelesaikan masalah. Voillaaa! tepat 2 minggu, draft pertama jadi, siap bertemu dosen. Dan itu rasanya plong! and then? Finish? Not yet bro, perjuangan masih panjang 

Ketika si malas menyapa, dan si rajin memanggil..!!
Hahaiii! Setiap mahasiswa tingkat akhir pasti akan mengalaminya. Ketika permintaan dosen bolak balik. Ketika kita tulis ini, minta itu. kita tulis itu, minta ini. Hm, mungkin efek dari sang dosen banyak kegiatan dan mahasiswa yang dibimbing. Jadi suka lupa dengan apa yang pernah terlontar ke mahasiswa ini. Yoi, ngedraft memperbaiki makalah, jurnal dan tesis, 3 serangkai yang harus segera diselesaikan.

Dan menjadi sesuatu yang wow, ketika sang dosen meminta jurnal itu di tulis dalam bahasa inggris! gimana gak kliyengan coba? membaca jurnal pake bahasa planet (inggris:red) aja udah puyeng, apalagi merubah bahasa ibu menjadi bahasa planet itu. dan akhirnya, si malas itu menghampiri, memanggil untuk melanjutkan bermain dengannya setelah 2 minggu ditinggal asik bermain dengan si rajin. Dan hup..!! terjebak bermain dengan si malas. Terbukti dengan rela menghabiskan hari di depan layar ini, bukan untuk menyalin teks menjadi bahasa inggris, tapi terjaga untuk nonton drama yang bikin klepek-klepek.

Melupakan sejenak makalah, jurnal dan segala temannya, ternyata tidak membuat hidup lebih nyaman. Apalagi, sang dosen yang baik hati, rela dan sengaja terus setiap minggu bertanya kabar, tulisan sudah dimana. Ah, Pak, kehadiranmu kadang membuat saya galau, antara leyeh-leyeh dan menulis. Haghag...!!
Beruntung itu memang punya dosen yang super pengertian dan selalu menyuport anak bimbingannya untuk segera lulus. Dan saya termasuk orang beruntung itu. Dengan adanya sang dosen ini, maka si malas tidak bisa berlama-lama bertahta, karena memang ada si rajin yang harus menuntaskan si tulisan-tulisan itu.

Bersambung!

Pekanbaru,
24 Desember 2016

Kopi dan Mie Rebus

"Setiap saat, setiap waktu
Kamu selalu menemani aku,
Meskipun hitam, tapi banyak yang suka
Bersama teman-teman, ku menikmatimu
hu lalala..kopimu kopiku, hulalala join join kopi
hu lalala arti sahabat, hu lalala tak ternilai harganya!",
[Blackout-Join Kopi]

Sekian lama gak ngedenger deretan lagu di playlist favorit, akhirnya beberapa hari terakhir ini gue kembali memutar lagu-lagu itu. Damn! ternyata masing lagu-lagu itu punya cerita tersendiri dan berhasil ngebuat gue ngeluarin lagi kata "rindu Bogor!". Seperti penggalan lagu diatas, yang kembali memutar ulang cerita tentang kopi dan mie rebus hampir di setiap malam.

Kopi, gue mengenal kopi sejak kecil, belajar menyeduh dan menghirup aroma kopi yang wangi bukan hal yang baru. Tapi menjadi hal baru ketika gue mulai nyoba minum kopi, kopi item, pahit pula.

Dulu, ketika menjadi mahasiswa baru, bagi gue kopi hanyalah sebuah kata yang disukai oleh mahasiswa-mahasiswa yang suka nongkrong gak jelas di warkop sambil negbul (baca: ngerokok). Di kampus gue, ada beberapa warkop yang penuh dengan mahasiswa-mahasiswa gondrong yang suka ngebul pulang malam, kadang sampai tumpah ruah di jalanan. Dulu, gue rada bingung sih mereka ini betah amat di warkop yang kecil itu. Makan juga jarang, kadang kopi segelas buat ramean, ngebul sepanjang nongkrong, pulang larut malam, dan bakal kesiangan kalau kuliah pagi. Apa coba manfaatnya. itu pemikiran gue yang dulu, yang masih menjadi mahasiswa baru, yang kerjaannya cuma kuliah-organisasi kampus-kuliah. Tapi, gue gak pernah nyangka, ternyata gue menoreh cerita panjang bersama kopi dan mie rebus.

Tahun 2009 saat gue tingkat 3 di dunia perkuliahan, gue mulai mencari hal baru dan mencoba keluar dari kampus yang mulai ngebosenin, ceritanya mulai basi karena cuma beredar di kuliah dan rapat. akhirnya gue menemukan teman-teman baru yang hobi ngebandrek atau minum jasu (jahe susu) di ujunng jalan menghabisi malam. waktu itu, teman-teman yang gue temui itu masih kinclong dari ngebul, artinya kita cuma suka ngebandrek ketawa haha hihi merencanakan petualangan-petualangan gokil ke tempat-tempat baru. seiring waktu berjalan, ternyata kumpulan ini membawa gue ke segerombolan anak gondrong yang suka ngebul dan kopi. Nah, dari situlah candu kopi susu mulai gue alami. sebenernya sih gak candu-candu amat, cuma pas lagi nongkrong aja mesennya kopi susu, bisa yang murni atau yang sachetan tergantung suasana hati, yang jelas bukan kopi item. hehe! satru lagi, mie rebus! menurut gue, kopi susu dan mie rebus adalah padanan yang nikmat.

Sejak itu, pendapat gue yang dulu tentang segerombolan manusia hobi nongkrong gak jelas itu berubah hampir 180 derajat. ternyata nongkrong di warung kopi gak cuma sekedar nongkrong. tapi nongkrong yang berisi. gak cuma ngobrol ngalor ngidul tentang kuliah dan masalah cinta, tapi lebih dari itu.

Jujur aja, pikiran gue mulai terbuka sejak gue hobi ikut nongkrong di warung kopi dengan segerombolan teman gondrong ini. gue baru ngeh dan sadar bahwa mahasiswa itu ada untuk rakyat, bukan cuma masalah IPK dan tugas. ada kalimat yang dulu gue denger, katanya "rakyat tunduk pada pemerintah tetapi pemerintah dapat tunduk pada mahasiswa. maka dari itu seharusnya mahasiswa dekat dengan rakyat! bukan sengaja dijauhkan dari rakyat lalu disibukkan dengan tugas-tugas yang cuma "menuh-menuhin" perpustakaan dan buang-buang kertas". Faktanya, yang gue temuin dan alami adalah posisi di kalimat terakhir. Yoi, mahasiswa sekarang disibukkan dengan tugas yang beuruntun, memperbaiki IPK dan ikut simposium ini dan itu disana dan disini. Trus apa mahasiswa itu salah jika memilih jalan itu? wajar toh? biaya kuliah mahal, jadi memang harus ikut jalurnya kan? iya, emang gak salah, itu harus! sebenernya gak ada alasan sih buat menomorduakan tugas, IPK jelek atau gak bisa ikut simposium ini dan itu karena dekat dengan rakyat. tapi ya itu tadi, gue merasa jadi mahasiswa kok manja banget, mencari alasan ini dan itu untuk jauh dari rakyat. haha!

Nah, dari ngongkrong di warkop ini gue jadi nemuin hal yang luar biasa. kesempatan untuk dekat dengan rakyat! dekat dengan rakyat sebenernya bukan berarti kita harus tinggal dan selalu ada di sisi rakyat. maksudnya adalah kita tau apa dan bagaimana perkembangan rakyat, politik, ekonomi dan apa saja tentang NKRI. dan gue jadi tau itu semua dari warkop! ketika minum kopi dan makan mie rebus. yoi! warkop, selain tempat minum kopi dan makan mie rebus juga tempat paling tepat untuk diskusi, gak cuma masalah cinta, kadang masalah pertanian (secara gue kuliah di pertanian, jadi gak bakal jauh-jauh dari petani, dan pertanian), masalah politik, ekonomi bahkan sampai sejarah NKRI. dan lo tau ? gue baru tau kalau ternyata bapak Republik kita ini bukan Soekarno tapi Tan Malaka di warkop ketika menikmati kopi susu dan mie rebus! Gue baru tau kalau hampir semua hutan Pulau Aru mau ditebang cuma untuk bikin pabrik gula, dan saat itu teman-teman ngewarkop gue sedang berusaha untuk membantu penduduk Aru membela tanahnya, sedangkan gue baru ngeh saat itu, ketika minum kopi dan mie rebus!. ah, masih banyak hal yang gue temuin di warkop ketika menikmati kopi dan mie rebus. Nasionaslis dan cinta pada petani dan kaum marginal ini muncul ketika gue di warkop!


Mulai saat itu, ngewarkop menjadi agenda untuk menghilangkan kegalauan gundah gulana dan mencari inspirasi. bertemu dengan teman-teman yang sama-sama ngopi sambil nonton bola atau kontes dangdut yang diputar di warkop, atau hanya sekedar menghitung jumlah mobil yang lewat di jalanan. Kopi dan mie rebus, menjadi saksi hampir setiap malam atas kegalauan-kegalauan yang ada, tentang cinta, menikah, tugas akhir, dan NKRI!

Ternyata, nongkrong di warkop gak seburuk apa yang gue bayangin dulu. dan kopi gak sepahit yang gue rasain pertama kali, toh ternyata kopi dikasih susu juga bisa dinikmati bersama semangkuk mie rebus. huehehe!

Oia, penggalan lirik diatas itu udah saya buktikan.
bahwa arti sahabat itu emang gak ternilai harganya! saya melihat dan menemukan itu juga di warkop.
dan minum kopi yang paling nikmat itu adalah ketika kita join. kopimu kopiku, dan kopiku kopimu.
hehe!

Huwaaaa!
gue  jadi pengen segelas kopi dan semangkuk mie rebus di pinggir jalan,  menikmatinya sambil berdiskusi tentang apa saja. bukan tentang ego siapa aku, tapi tentang NKRI dan cinta!

Pekanbaru,
2 Desember 2016




Kampusku dulu dan sekarang, Eps. Asrama.

Baru ngeh, ternyata perubahan itu pasti terjadi. Pelan sih, tapi begitulah. Seperti kampusku. Kampusku dulu bukanlah kampusku yang sekarang. He-em, ada perubahan-perubahan kecil setiap tahunnya yang hampir menelan wajah lama si kampus. Sayangnya, aku baru menyadari perubahan itu sekarang. Hm, kalau saja aku tau kampus ini akan di permak sedemikian rupa, seharusnya aku mengabadikan setiap sudut kampus ini. Jadi, terbukti memang, perubahan itu kadang pelan, tapi pasti. Huehehehe..

No problemo lah, masih ada cara lain untuk mengantisipasi pengabadian cerita dari perubahan-perubahan yang udah dilakukan. Yaaaa..jika tidak bisa dibingkai dalam foto, maka tidak ada salahnya aku mencoba membingkainya dalam aksara. *wuuussss....*

Aku menginjakkan kaki di kampus itu Juli 2007, dan sekarang sudah 2016, artinya hampir 9 tahun aku hidup dalam kampus, *ssttt...ternyata waktu itu cepat berlalu loh* hei..hei..kamu gak perlu bertanya-tanya berapa umurku sekarang, oke? Dan ternyata, banyak hal yang berubah, dan aku rindukan.

Hm, mari kita flashback sejenak menembus lorong waktu menuju masa lalu.

Yang paling istimewa dari kampusku adalah setiap mahasiswa tingkat pertama wajib untuk tinggal di asrama. Dan bagiku ini sangat menarik dan punya cerita sendiri, apalagi ketika kamu bosan dengan aturan-aturan asrama. Namanya anak baru jadi mahasiswa yang ingin bebas dari aturan, eh masuk asrama dengan aturan yang sama kayak di rumah, harus begini dan begitu, pulang jam segini bangun jam segitu, gimana gak bosan coba, jadilah hal-hal konyol dilakukan. Dari ngumpet, kabur, joinan alasan buat kabur atau apalah dilakukan.

Hal lain yang berkesan ketika kamu mendengar kata molen *bukan molen bangunan, tapi makanan*, maka bayangannya adalah molen segede gaban yang nampol banget buat sarapan pagi, apalagi harganya masih 1000-1500 rupiah. Beuhh..! itu kan mahasiswa banget, apalagi pas di tanggal tua. Yasud, penjual molen akan menjadi orang yang akan ditunggu-tunggu dan di serbu oleh anak seasrama. Secara si penjual molen keliling dari lorong ke lorong, maka silahkan pasang kuping kalau gak mau kehabisan, apalagi kalau posisi kamu berada di lorong terakhir kamar paling belakang, wassalam sajalah. Hueheheh...

Em, apakah penjual molen  masih berjaya? Dapa referensi dari mahasiswi tahun 2011, katanya sih gak ada. Ah, sayang sekali mereka tidak mencicipi molen yang melegenda itu. hehe.. *tapi gak tau deh kalau untuk asrama putra*. 

Ketika aku baru masuk, memang sudah ada pembangunan asrama baru. Kita lebih mengenalnya Rusunawa-rumah susun mahasiswa. Karena asrama itu sampai lantai 4 dan gak ada lift. Dan kamu tau tempat menjemur pakaiannya ada di lantai berapa? Di lantai 5..!! *seingetku sih begitu*. yes, jadi kalau hujan, kamu berada di lantai satu, mau ngambil jemuran ya pasrahkan saja. Wkwwkwkwkkk...

Tempat tongkrongan favorit mahasiswa baru-mahasiswa yang masih lugu-mahasiswa asrama ya gak jauh-jauh, masih berada di sekitaran asrama, kantin paguyuban. Biasanya para lelaki juga suka nongkrong dan ngambil lapak di asrama putri, alasannya sih belajar bareng. Tauh deh yang pada ngincer cewek-cewek kece. Hehe..

Dulu, kantin paguyubannya sederhana. Dan pasti full mahasiswa pada jam-jam urgent, ya kira-kira pukul 7.30 – 08.00, 09.30-10.00, dan 12.00-13.00. itu jam-jam buat isi amunisi sebelum pindah tidur ke ruang kuliah *eh*.

Sekarang, kantin paguyuban masih ada, cuma sudah di lebur antara komplek asrama 123 sama komplek rusunawa. Kebayang gak sih padatnya tuh kantin di jam-jam urgent gitu. Dan sekarang, kantinnya juga sedikit pengap-ngap. Beda deh sama yang dulu yang banyak angin sepoi-sepoi. 

Satu lagi tentang asrama, dulu itu kalau mau ke asrama dari arah bara atau gww, butuh perjuangan dan pake ngos-ngosan dulu. Iyess..!! dulu disana ada tanjakan cinta namanya. Hehe.. jalan yang nanjak, emang gak panjang sih, cuma cukup menguras tenaga. Kamu naik sepeda lewatin jalan itu? di jamin bakal turun deh, bukan kamu yang naik sepeda tapi sepeda ngerjain kamu buat di tuntun. Lari di jalanan itu? yakiinn? Hm, kalau gitu kamu perlu latihan dulu biar sukses buat lewatin jalan itu sambil berlari. Wkwkwkwkwkk..

Sekarang, tanjakan cinta itu udah rata. Menuju asrama dari bara atau gww udah gak ada tantangannya. Udah kayak jalan tol. Lancar jaya..!!


Oia, masih ada hal yang menarik lagi nih, *ternyata banyak juga ya cerita asrama*. Dulu, naik bis kampus itu gratis. Bisnya nyamperin ke asrama di jam-jam urgent itu. dan seketika bis bakal penuh dengan mahasiswa-mahasiswa yang bangun telat. Kayak ikan sarden dah dalam bis. Karena bis itu langka..!!. Nah, sekarang? Bis udah ada tarifnya, udah gak masuk asrama, dan udah gak sumpek-sumpekan. Soale banyak bis yang keliling. Dan yang bedain itu, di zaman 2007, kelas2nya tersebar ke seluruh pelosok kampus. Jadi di tahun pertama pake titel mahasiswa kamu bakal punya banyak teman dan banyak tau tempat dan jalan-jalan tikus plus betis yang “seksi” karena keseringan jalan. Iyalah, kampus luas gitu dengan kelas yang berjauhan pasti nyari jalur terpendek buat pindah dari kelas ke kelas kalau gak mau telat, apalagi gak ada bis, uang pas-pasan yang tidak memungkinkan naik ojek apalagi gojek. Dan beberapa tahun setelah 2007 sampai sekarang, mahasiswa baru itu udah punya lapak sendiri. Gak numpang lagi di ruangan fakultas-fakultas lain yang gak ada jadwal kuliah. He-em, sekarang udah ada gedung khusus kelas TPB-mahasiswa asrama. Dan gedungnya deket pula sama asrama. Jadi begitulah, bis tidak terlalu berarti bagi mahasiswa asrama, tinggal ngesot ke depan asrama, sampe dah ke ruang kuliah. 

aahh..ini mah cuma nulis doang, gak ada bukti poto. hm, soalnya dulu gak punya camdig, camdig masih barang mewah bukan kayak kacang goreng kayak sekarang. Poto pake hp? iye kalau hp canggih. aku  mah apa atuh, hpnya cuma nokia yang tahan banting. gak ada kameranya. so? ambil dari om gugel? susye ah. cari sendiri aja ya kalau mau liat perubahan-perubahannya. ^^v

2 Maret 2016
Dramaga, IPB.
Salam Asrama, 
"Together to be better". *jargonnya asrama*

Roger..!!

Timeline dan media sosial bahkan stasiun TV sedang membahas kata itu. dan saya akui, saya juga gak mau ketinggalan untuk mengabadikan cerita yang akan menjadi sejarah di kampus saya. hehe..

Roger..!!

Roger..!!
Ternyata satu kata itu menjadi kata yang melegenda dan menginspirasi hampir seluruh manusia-manusia yang pernah membuat cerita di kampus saya, IPB. Saya tidak tau, sejak kapan Roger hadir didalam kampus, yang jelas sejak saya menginjakkan kaki di kampus itu, kata Roger bukanlah sesuatu yang asing. 

Roger, entah bagaimana sejarahnya, kata itu sudah menjadi identitas seorang Bapak yang hampir setiap hari hampir kau temui di seluruh penjuru kampus. Bukan, bukan berarti Roger itu banyak, atau punya ilmu memperbanyak diri, atau ilmu kungfu lainnya yang membuat keningmu berkerut bagaimana Roger bisa ada di seluruh penjuru kampus. Tapi, Roger memang seorang Bapak pedagang asongan keliling. Dulu si Bapak menjual rokok, tapi tidak dengan sekarang. Ya, perubahan memang selalu terjadi kan? Begitu juga dengan Roger. Sekarang Roger lebih menyediakan kebutuhan mahasiswa yang lebih urgent, apalagi pas ujian gak bawa pulpen. Nah, Roger adalah penyelamatnya. Atau mau beli pulsa tapi malas jalan keluar kampus, maka tunggu saja Roger yang akan lewat dengan lagunya “cek pulsa sebelum jauh”. Atau mau beli permen sebagai bekal kuliah biar gak ngantuk, maka ada Roger yang akan menghampiri kelasmu. Begitulah Roger yang melegenda itu.

Jujur saja, dulu saya tidak terlalu peduli dengan Roger. Sama dengan penjual-penjual keliling lainnya. Cuma Roger memang sedikit istimewa, sifatnya yang ramah, menyapa siapa saja yang dia temui membuat Roger banyak di kenal dan mengenal mahasiswa. Jadi tidak heran, kalau sedang lewat ke sudut tongkrongan ada Roger disana ikut nimbrung berdiskusi. Atau melihat Roger sedang berbincang dengan mahasiswa-mahasiswa sambil lalu di koridor-koridor fakultas. Atau tiba-tiba kamu dengar suara Roger, “lebih baik mencegah daripada mengobati” dengan logat khas betawinya. Hm, begitulah Roger yang saya kenal.

Roger hanya seorang pedagang asongan keliling. Tapi ternyata Roger memberikan banyak inspirasi. Kesederhanaannya, keramahtamahannya, kebaikannya dan semangat mencari rezeki halal dengan keliling kampus menjadi hal yang istimewa bagi hampir seluruh penghuni kampus. Siapa yang tak kenal Roger?

Hm, entah bagaimana ceritanya beberapa hari terakhir, kampus, dan hampir seluruh sosial media dihebohkan oleh Roger. Bukan Roger sih yang bikin heboh, tapi orang-orang di sekitar Roger. Terlepas dari cerita hebohnya Roger, dari cerita Roger itu saya mendapatkan sesuatu yang luar biasa, menyadari dan melihat bahwa apapun yang kamu lakukan akan memberikan dampak juga padamu. Apapun yang kamu tanam, cepat atau lambat akan kamu tuai.

Mungkin sekarang Roger sedang menuai apa yang dia tanam dan sebarkan. Kebaikan kecil yang sederhana. Ramah dan tersenyum pada setiap orang yang dia temui.
seperti kalimat yang baru saja saya baca pagi ini di timeline seorang teman, 

" Jangan kalian meremehkan suatu kebaikan, meski hanya berupa keceriaan wajah ketika kalian bertemu dengan kawan kalian, (HR. Bukhari)"

Iya, begitulah cara Roger memberikan kebaikan dan mengikat silaturahmi. 
Yoiyoi..!!! Kebaikan dan kesederhanaan Roger ternyata menginspirasi dan memberikan kesan yang mendalam, bukan hanya pada saya, tetapi hampir seluruh manusia-manusia yang pernah ia temui. ^^

Bagaimana dengan kita, kebaikan apa yang sudah kita lakukan?
sudah tersenyum hari ini?
sudah menyapa teman-teman di sekitar kita?
*selfreminder*

2 Maret 2016
Dramaga, IPB.

Perjalanan Cinta Tesis (eps.2)

Kita lanjutkan ceritanya..!! Setelah menelusuri cerita Perjalanan Cinta Tesis (eps.1)

Saat Kolokium
Tepatnya tanggal 17 April jam 9 pagi di ruang sidang 3, siap gak siap harus maju..!! setelah malamnya tidur puas dan sibuk dengan kegiatan antah berantah, jam 8.30 saya bersama seorang teman, sebut saja Ucup beranjak dari kosan menuju kampus untuk menyelesaikan langkah kolokium ini. Ucup jadi seksi konsumsinya. Dan saya menunggu detik yang menunjukkan tepat jam eksekusi. 8.45 WJI (Waktu Jam Ipeh) belum ada tanda-tanda manusia. Kegelisahan mulai merajalela. Secara syarat kolokium bisa dilaksanakan minimal harus ada 10 orang di ruangan. So? Dag dig dug ser...!! mulai keringat dingin. *
08.50 WJI. Mulai datang satu orang, 2 orang, 4 orang. 7 orang. Lalu? Dosen kedua nongol. Trus? Dosen moderator datang. Mati...!!! masih kurang 3 orang jendral. Makin galau dan kacau. Plus dosen utama juga belum nongol.
08.55 WJI. Mondar mandir nyari orang. Segerombolan orang datang. Fiuhhh...!! hup. Tepat jam 9.00 dosen utama juga nongol.  Okesiip...!! waktunya bertempur..!!
09.00 WJI. Tidak menunggu bas bis bus. Dosen moderator langsung menyerahkan forum pada saya. Lalu dengan khidmat, saya mencoba menguasai forum ini. 20 menit. Berlalu. Paparan dan ngomong ini itu selesai. Waktunya menerima tembakan-tembakan dari para penonton dan sang moderator.
 
Banyak pertanyaan dan masukan-masukan untuk melengkapi si proposal. Gak sedikit juga banyak pertanyaan-pertanyaan “skak mat” yang membuat saya lebih memutar otak  untuk memainkan kata agar tidak terlihat begitu bodoh di depan umum. Karena ini tugas saya, yang seharusnya saya lebih menguasai dari siapapun. Eng..ing..ong...!! voilaaa...!! 30 menit berlalu. Tembakan-tembakan pertanyaan dihentikan. Dan bantuan datang berisi nasehat dan masukan dari sang dosen-dosen.
Yeeaaahhh...!! waktu perang selama 60 menit selesai sudah.
Dan selamat, saya telah kolokium.  ^^

*Perjalanan Panjang Penelitian*

Si Cabai itu datang tiba-tiba
Penelitian ini dimulai sudah sejak awal Februari, bulan dimana saya sedang galau akut, karena belum menemukan dosen pembimbing yang bersedia membimbing dan sejalan dengan ide dan keinginan saya. Dan memang anak rantau yang sedikit “ogah” pulang, maka bulan yang seharusnya libur dengan bahagia, maka bulan itu diisi dengan ngincer dosen-dosen yang ada di kampus. Lirik sana, lirik sini.
Dan entah bagaimana ceritanya, ketika saya memutuskan untuk menemui seorang dosen dan topik penelitian, si cabai ini datang menghampiri lewat seorang teman. Trus? Dengan lugu saya mengambil kesempatan itu. Gimana gak tergiur coba, kalau kamu dijanjikan dana penelitian ditanggung oleh orang yang baik hati, dan penelitianmu segera dimulai, pada saat itu juga. Emang dasar otak perhitungan, setelah dihitung-hitung, okelah..!! sepertinya gak rugi untuk memutuskan berkecimpung dengan dunia percabaian.
Dan minggu kedua Februari 2014, dimulailah perjalanan ini dengan langkah pertama. Merawat si bibit kecil. Mulai sering ke lahan, dan tentu saja mulai “menghitam” kembali. Hahahayyyy...

Merawat Cabai bagai merawat Anak.
Jujur saja, meski saya seorang agronom yang katanya sudah lulus “fase pertama”, tapi bisa dihitung berapa kali saya menanam dan merawat tanaman. Selebihnya 4 tahun belajar di bidang agronomi lebih sering mendengar dan membaca power point ketimbang megang cangkul. So, yeay..!! ini kali pertama saya menanam dan merawat tanaman, dag dig dug ser juga mengingat tipe saya yang cepet bosan dengan hal yang itu-itu  aja. Yoi, secara untuk mendapatkan gelar s1, saya tidak perlu menanam dan  merawat, saya hanya mengambil data yang ada di perusahaan, selanjutnya dibandingkan dengan teori-teori yang sudah diterima di bangku kuliah.
Ketakutan karena bosan tidak terbukti. Ternyata saya menikmati hari-hari dimana saya dapat bermain dengan si cabai-cabai ini. Bahagia melihat mereka tumbuh dengan begitu cepat, galau kalau hujan gak turun, dan stres ketika mereka terserang penyakit. Yoi, merawat cabe seperti merawat anak. Hahayyy...!! hari menjadi minggu, berubah menjadi bulan, dan taraaannggg...!! si cabai sudah memasuki masa panen, dan rasanya itu bahagia. Merasakan nikmat ketika ada “hasil” yang bisa kita petik di akhir. 

Tapi kawan,ehm..!! cabai-cabai mungil ini gak ada matinya. Minggu pertama panen, satu-satu berubah menjadi merah, kemudian bertambah jadi dua-dua, lanjut jadi lima-lima, gak selesai disitu, nambah terus sampe 20-30 buah per pohon menjadi merah. Alhasil, kewalahan dan ehm... ingin pingsan melihat seluruh buah berubah jadi merah. Seharusnya senang dong ya.. iya seharusnya senang, tapi kalau tiap buah harus di itungin panjang, diameter dan tebal buahnya? tidaaaakkkk...!!!!! yakin deh, itu rasanya ingin terjun ke laut.

Selamat datang Data-Data Manis
Yeaayyy...!!! rasanya itu bebas, seolah-olah bisa terbang ketika panen terakhir selesai, dan pohon si cabai pun mati. Itu artinya pengamatan di lapang berakhir, artinya lagi saya tidak perlu bangun pagi lagi, dan tentu tidak perlu panas-panasan lagi, yang artinya saya bisa kembali bersinar. Hehehe...!! *tapi itu Cuma mimpi, secara saya menerjunkan diri lagi untuk bermain dengan tanam-mananam, maka kulit akan tetap mendapat sinar matahari sampai batasnya*.
Hufftt...!!! bahagia ketika masa menghabiskan waktu di lapang itu wajar, tapi hanya sebentar. Seolah-olah di depan mata itu ada hamparan padang edelweis yang indah, tapi ketika berbalik ada jurang yang sedang menunggu kita. Yoyoi...!! selamat datang data-data manis..!!! data-data selama pengamatan di lapang yang udah numpuk sedang menunggu untuk segera di eksekusi, dan meminta perhatian yang lebih. Dan saya?

“Maaf data, saya tidak bisa menyentuhmu dengan segera, saya tidak ingin bermain denganmu saat ini. Karena saya belum bisa mencintai kamu, saya bosan melihatmu”. 

Yoi, kata-kata diatas, otomatis ada di kepala, setelah si data terkumpul di kertas-kertas yang bertumpuk memenuhin isi kamar. Alhasil, hilang selama dua bulan, melupakan mereka. Pergi bermain dan tidur sepanjang hari. Masa bodoh dengan teror dosen yang selalu  bertanya  progres data sudah dimana, atau yang mewajibkan setiap hari rabu untuk bertemu dan berdiskusi. Mengumpulkan dan mencari celah bagaimana saya bisa lebih menyukai dan mencintai si data-data manis ini.

Bersambung!

Ipehthepooh
Edelweis, 22  Oktober 2014

Perjalanan Cinta Tesis (eps.1)

Perjalanan thesis, menggapai gelar yang kedua tapi, bisa saja “tulisan” itu kembali di simpan di dalam lemari.
Sepertinya mengajar independen, menanam dan berdagang lebih oke..!! lalu kenapa secara sadar menjerumuskan diri kembali?

Cuma satu..!!

Alasannya Cuma satu..!!  untuk menambah wawasan, menjaga “cara berpikir”, mencari teman dan “jaringan”, tentu saja berkarya untuk bangsa..!! *sadaaaappp...*

Dan eng ing ong...!!

perjalanan itu dimulai, dan sudah sampai ke fase ini, penelitian...!!!

langkah singkat dari penelitian ini tentu saja di mulai dari..

mencari topik penelitian.
mencari topik penelitian bisa jadi seperti cari jodoh kali ya..!! huehehe...susye..banyak maunya, banyak kecantolnya, tapi gak ada yang oke, gak nemu “chemistry”nya. Karena gak tau visi dan misinya. *halah..!!*. yoi, soalnya sebelum menemukan dan menjalankan apa yang sedang saya jalani ini, saya keukeuh untuk mendapatkan topik yang sesuai dengan keinginan saya, dan tentu saja berharap untuk dengan segera diaplikasikan ke para petani hebat kita di desa. Tapi apa boleh buat, gak sesimpel itu bos. Butuh perjalanan panjang. Dan begitulah, setelah mencari-cari mulai dari Sulawesi, Jawa timur, Jawa tengah, akhirnya berlabuh di Jawa barat juga. Bogor tepatnya. Dari kakao, masuk pala, pindah ke kemuning, nyenggol krisan, tiba-tiba ingat tin, yah mentok-mentoknya berhenti di cabai. Huehehehe...

Mencari dosen. Mencari chemistry. Belajar jatuh cinta.
Ketika cabai begitu saja datang, tidak diundang, tidak kenal,  lagi-lagi langkah yang harus dilakukan adalah beradaptasi. Yoi..!! cari dosen yang kenal dengan si cabai. Dan bertemulah. Kali ini agak aneh memang. Dosen yang ditemukan juga agak melenceng sedikit. Dosen yang biasanya berkecimpung dengan tanaman kebun, tiba-tiba menyetujui untuk terjun ke dunia tanaman imut, percabean..!! okelah, no problemo. Banyak orang-orang terdahulu bilang dan share pengalaman kalau si dosen adalah dosen yang baik hati. Dan saya percaya.

Tapi lama-lama, jadi mikir, ini baik hati yang bias apa ya? Menganut sistem luar negeri gitu. It’s up to you..!! itu penelitian kamu, dan silahkan berkreasi dengan penelitian kamu. Dan saya? Seratus persen gigit jari dan mojok dibelakang. Huakakakakakk... he-eh..!! bingung aja, gak tau harus senang dengan sikap si dosen atau gimana. Tapi karena udah basah, kenapa gak nyebur sekalian. Oke..!! tarik maangg...!! lanjutkan..!!

Karena ini penelitian saya yang antah berantah, maka secara tidak langsung saya di tuntut untuk mengetahui apa maksud tujuan dan segala macam buntutnya. Dan kamu tau bos? Ini fisiologi habis..!! gak tau aja apa ya mereka, saya itu paling alergi ma fistum, fisiologi tumbuhan. Okelah, enjoy this game again..!!

sekarang? Sepertinya saya mulai jatuh cinta dengan penelitian ini. Dan galau, kenapa si cabai tumbuh belum sebaik yang saya bayangkan. *mikir jadi juragan cabai waktu lebaran. Jadi bisa pulang tanpa mikir harga tiket. Haha...*

Sidang komisi I.
Tidak se dag dig dug waktu S1 ketika berhadapan dengan dosen. Apa karena saya udah mulai mengenal tipikal dosennya atau entahlah, pokoknya sebodo teuing lah..!! yang penting mah maju. Gimana gak. Baru satu kali ngasih draft proposal, tanpa dilihat langsung di suruh maju untuk sidang komisi. Senang? Bingung mah iya. Takut apalagi. Ya iyalah...!!! gimana ceritanya waktu kolokium, seminar dan sidang kalau begini. Haha..

Tapi, ehm, karena punya banyak teman yang bisa bantu berdiskusi tentang metode dan rancangan penelitian, dan ngecek makalah, jadi hajar bleh..!!sidang komisi I, kemon kita bermain. Haha...

14 April 2014, 1 jam 15 menit, kelar sudah. Apa yang saya dapat? Tentu saja perbaikan. Huehehe...dan mari diperbaiki.

Kolokium
Langkah selanjutnya dan penanda bahwa mahasiswa itu udah boleh mulai penelitian. *itu teorinya, tapi buanyak banget mahasiswa yang mulai duluan, baru kolokium. Termasuk saya. Haghag...* tercetuslah tanggal 17 April 2014 jam 9 pagi di ruang sidang III agh untuk saya unjuk gigi tentang penelitian yang sedang saya lakukan. Tapi, kenapa rasa malas kuat banget memanggil. Haha..!! kita liat nanti bagaimana hasilnya. Soalnya sekarang baru tanggal 16 April. Haha..

*cerita dibalik sidkom dan kolokium*
bisa jadi orang sekretariat PS agh bosan melihat saya yang satu  minggu penuh bolak-balik sekretariat. Itu juga gak ngurus apa-apa. Cuma nanya-nanya doang, dan memastikan bahwa saya bisa sidkom dan kolokium sesegera mungkin. Jadilah nongkrong di sekretariat. Karena urusan birokrasi genks, perlu minta tandatangan si dosen ini dan itu, dan si dosen sedang tidak di tempat, jadilah pengurusan administrasi itu tertunda. Dan eng ing ong..!! baru ketemu dosen hari kamis tanggal 10, dan ajuan sidkom tanggal 14, kolokium tanggal 17. Aturannya adalah pengembalian formulir sidkom dan kolokium seminggu sebelum pelaksanaan. Pada tau lah ya masalahnya dimana . hehe.. yang bikin stres tingkat tinggi adalah hari Jumat ujian, dan dosen yang harus menandatangani surat-surat tidak di tempat. Pengen jungkir balik gak lu? Wakakakakk... tapi alhamdulillah punya wajah yang baik dan imut begini. Setelah memelas ke sekretariat dan fakultas, akhirnya di beri waktu untuk pengurusan surat hari Senin, dan taraaaanng...!!! surat sidkom hari itu juga keluar. Dan surat kolokium keluar hari selasa. Hufft...!!! lega gak sih?

Dan sekarang?
Seharusnya saya memperbaiki makalah kolokium, tapi yang terjadi adalah tulisan yang kamu baca ini mengalir begitu saja. Hehe...

oke kembali ke makalah. Kita tunggu kelanjutannya.. ^^

Bersambung!

Edelweis,16 April 2014
ipehthepooh

Petani wanna be..!! (part 4)



Catatan ini diambil dari seorang teman, disan tertulis “KONSEP BERTANI JAWA by TIMBUL SUNARNO”

dan catatan ini membuka mata, kalau para petani itu rajin dan hidupnya selaras dengan alam.
yoi...!! petani yang baik, tau kalau alam itu menyediakan semua kebutuhan tapi tidak untuk keserakahan...!!


TANI
diTrawang Abang diudaNi Ireng. Dilihat sepintas berwarna merah, tapi jika dicermati dan dikupas berwarna hitam. Pertanian memang terlihat gampang dan serba jelas akan tetapi dalam prakteknya pertanian adalah serba gelap, banyak resiko kegagalan yang harus ditanggung.
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t1.0-9/10444706_10204318026379899_7616520995878142603_n.jpg?oh=3feeb1a1c489d69657aeda97f820b912&oe=54C814F0&__gda__=1422034406_5b384afef17881e2cd7c723c2033ccd6
lukisan ini yang buat kakek Dahlan M. ^^v


Gendong Gentong, Kesandung etung, artinya gentong yang tidak punya “leher” akan sulit di gendong karena tidak ada pegangannya. Hal ini sama dengan dunia pertanian yang tidak ada patokannya ataupun panduan bagaimana melakukannya secara benar. Kondisi ekosistem pertanian yang bersifat dinamis dan spesifik menjadi pedoman abadinya.

Madu ujude, pahit rasane, artinya madu yang seharusnya berasa manis tapi kenyataannya terasa pahit. Kondisi ini seperti kondisi pertanian yang sebebanrny tumbuh baik tapi tidak bisa dipanen. Dan yang seharusnya panen baik, tapi tidak laku.

BERTANI
Ulah timbangan. Mengembangkan keseimbangan. Bertani mutlak mengikuti keseimbangan alam. Sifat alam yang terus berubah dan keanekaragaman yang tinggi menjadi rujukan petani. Usaha tani yang hanya mengelola satu komoditi akan sangat rawan.

Ngarah lor Kidul Keno. Membidik utara, selatan juga kena. Bertani harus menghasilkan banyak produk yang bertolak belakang. Selain produk utama, produk sampingan juga tidak kalah nilai ekonominya.

Angon masa kala. Memperhatikan dan peka terhadap kondisi dan situasi. Bertani diwajibkan selalu memperhatikan dan peka terhdap kondisi dan situasi. Kondisi potensi dan masalah lingkungan, situasi masyarakat dan lembaga terkait usaha, menjadi pertimbangan untuk melakukan usaha tani.

PETANI
Saguh gagah ora wegah. Jika sudah niat jangan malas. Petani adalah profesi yang membanggakan jika berhasil. Jika ingin memperoleh hasil salah satu syaratnya adalah giat dan tekun

Anetei kabisan. Memanfaatkan kemampuan. Petani yang hidup di alam perdesaan sebenarnya punya kemampuan diri dan lingkungan yang tinggi. Modal manusia, sosial, alam, fisik, finansial harus dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan.

Gambuh Ngambuh. Bersenyawa dan menyerap. Petani harus berhubungan dengan banyak pihak. Dan selama menjalin hubungan dengan pihak lain harus berpandai-pandai untuk menyerap apapun yang bersifat baik. Informasi, pengalaman, ilmu pengetahuan adalah air bernilai yang meski diserap.

USAHA TANI
Ngudi Wini. Mengelola benih. Benih adalah sumber kehidupan yang mengandung bobot, bebet, bibit yang dapat disrtikan sebagai sifat fisik kimia dan biologi

Gemi lemi. Menyimpan liat. Liat adalah salah satu partikel tanah yang berfungsi sebagi menyimpan makanan. Liat dapat dibentuk dari bahan organik yang telah terurai sempurna. Mengelola bahan organik berarti menyimpan makanan untuk sekarang dan akan datang.

Angon Banyu. Mengatur air. Setetes air mengandung jutaan kristal. Air menjadi bahan baku kehidupan. mengatur  air berarti berusaha menyediakan air secara kuantitas, kualitas dan kontinuitas.


*tobecont*