Langkah #11 Susur jalanan, sungai dan hutan..!!

15.37 ipeh the pooh 0 Comments



25 Maret 2015

Setelah pingsan dari kemarin malam, akhirnya saya dan si kawan terbangun dengan semangat 2015. Entah kenapa, semakin mendekati waktu pulang, semangat untuk bangun pagi bertambah. Berharap waktu semakin segera berlalu. Seperti hari itu. Saya dan si kawan adalah orang-orang yang udah buat kehebohan di pagi hari, cekikikan gk jelas, seru diskusi tentang tanaman dan hewan. Mengelilingi kebun, melihat matahari dengan anggun dan perlahan mulai menduduki singgasananya. Em, memang, saya dan si kawan juga orang yang pertama pingsan di tempat tidur kemarin. Hehe...
narsis bersama Mr. Vieng
Puas melihat kebun kopi, menerka-nerka apa yang terjadi dengan tanaman itu ketika krisis air dan ketika musim basah. Waktunya untuk bersiap-siap menyusuri jalanan. Yoshh..!! si kuda besi akan segera kembali bekerja membawa saya dan si kawan ke tempat pemberhentian selanjutnya. Kawasan curug. Disini lebih di kenal dengan kata Tad. Yup, Tad Lo, bagian dari provinsi Champasak yang terkenal dengan air terjunnya.
Selama perjalanan menuju Tad Lo, tetiba si kawan memberhentikan si kuda besi. Otomatis saya bertanya, ternyata si kawan sedang memperkuat keseimbangan, karena angin yang Subhanallah, kencang menerjang. Si kawan bilang, kan gak lucu kalo jatuh karena angin. Huehehe.. okelah, kawan. ^^

Melawan kencangnya angin yang luar biasa itu, memang butuh perjuangan. Apalagi dikendarai oleh wanita bertubuh kecil. Saya saja sebagai penumpang, deg-degan karena motor yang terkadang goyah, apalagi si pengemudi. Satu setengah jam perjalanan, akhirnya kita nyampe di kawasan Tad Lo. Langsung cari penginapan, dan mencuci baju. ^^v. 
ini bentuk-bentuk penginapan di sekitar Tad Lo



pemandangan di depan penginapan

Penginapan di sekitar Tad Lo ini unik. Yoi, ada hammock di setiap kamarnya. Ada teras yang menghadap ke sungai dan air terjun. Indah, bayangan saya. Tapi kawan, pemandangan ini mengingatkan saya pada kawasan belakang kampus, tempat saya pernah menanam dulu. Warna air yang coklat, penduduk yang melakukan aktivitas pagi-mencuci, mandi, atau hanya sekedar melakukan ritual pagi berlomba dengan kerbau yang sedang berendam.  Hehe..*garuk-garuk kepala* di sisi sebelah kiri, ada air terjun yang jatuh dengan malu-malu, dengan warna yang sama buteknya. Pertanyaan saya, apakah ini karena musim kering? Tapi, bukankah kalau musim hujan jadi lebih butek? *garuk-garuk kepala gak ngerti*
ini Tad Han
Menunggu si kawan mencuci baju, saya sambil merenung menikmati hammock yang bergerak pelan, seolah-olah meninabobokan si bayi. Dan jika si kawan tidak heboh, mungkin saya sudah tertidur, tidak peduli dengan banyak Tad disini, apalagi harus berjalan kaki dengan cuaca yang mulai terik menggigit. Tapi, si kawan berkomentar, kalau mau tidur ya di rumah aja. Oke, kawan, akhirnya kita cus pas jam 10 pagi. 
Tad yang kering
Melihat Tad yang pertama, Tad Han mereka menyebutnya. Saya hampir tidak percaya jika para bule barat begitu takjub melihat tetesan-tetesan air coklat yang jatuh berirama rendah, perlahan, tanpa angin. Hanya batu-batu coklat besar yang menyusun ruang. Karena ini mengingatkan saya pada air terjun di daerah Ciampea sana yang hampir tidak ada pengunjung, karena masih ada air terjun yang lebih indah dari itu. 

Menyusuri sungai. Menapak pada batu-batu besar yang kering tanpa air untuk melanjutkan perjalan menuju Tad selanjutnya. Tad yang terkenal, Tad Lo. Tad yang tinggi, dimana kata para bule kita bisa berenang di sekitarnya. Dan ini membuat saya bertanya, apakah dengan warna yang sama atau lebih jernih? Dan tarraaaanngg..!! pertanyaan terjawab. Yup. Warna yang sama, butek coklat. =.=a. Oke, jika saja berwarna bening dan jernih, bisa jadi saya betah berlama-lama disana hanya sekedar menikmati musik yang dimainkan air berkolaborasi dengan angin yang mulai menyapa. Konon katanya, setiap sore ada 13 gajah yang akan mandi disana. Eng..ing..ong..!! sayang, saya berada disana, siang hari, jadi? Lupakan tentang gajah yang memang berserakan di sekitar Tad Lo. 
ini sungai yang dilewati menuju Tad selanjutnya
ini Tad Lo
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Sayang jika hanya dua Tad ini yang di telusuri. Masih ada satu Tad lagi yang menarik para bule. Tad Son. Kata para bule, itu Tad paling tinggi yang pernah mereka lihat. Sejujurnya, saya tidak terlalu banyak berharap, bisa jadi butek lagi. Tapi, saya tidak akan tau jika tidak melihatnya. Jadi, saya dan si kawan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Tad Son. Mendengar referensi dari para bule yang mampir di Kopi Mr. Vieng, perjalanan menuju Tad Son lebih kurang 2 jam, menyusuri sungai dan desa-desa. Dan ini menarik. Karena kita hanya berjalan berdua tanpa guide, hanya bermodal peta, dan sungai di tengah siang bolong, dan kiri kanan gak ada pohon untuk bernaung dari gigitan matahari yang semakin sengit. 

Selama perjalan menyusuri sungai ada kejadian yang sukses buat terapi jantung dagi dig dug seer..!! memang dasar saya dan si kawan ini rada eror, udah jelas-jelas ada jalan setapak yang bisa kita lewati, tapi kita lebih memilih menuyusuri batu-batu yang air sungainya mulai mengering. Dan mendengar suara bocah-bocah bahagia bermain dengan air yang tersisa, melihat aktivitas pagi para ibu-ibu, membuat kita mantap untuk menyusuri sungai itu, loncat dari batu satu ke batu yang lain. Tapi, belum jauh kaki beranjak, hampir segerombolan ibu-ibu meneriaki saya dan si kawan. Karena di teriaki begitu, antara sadar atau tidak, apakah yang di teriaki itu benar-benar kita atau para bocah kecil yang main di ujung sana. Lalu, kita lanjutkan lagi, lau teriak lagi. Dan kita bingung. Tiba-tiba, air sungai menjadi begitu deras, lalu? Ayo segera minggir ke pinggir sungai. Airnya mulai meluap..!!, setelah bengong beberapa detik di tengah-tengah sungai, maka kita melewati batu-batu itu dengan kecepatan penuh, dan fiuuhhh....!!! hampir saja. Sedetik kemudian, sungai kering itu penuh dengan air dan berarus kencang. Gk bisa mikir, kalau tadi gak menghiraukan teriakan-teriakan para ibu itu. Pertanyaan kembali muncul, darimanakah si air itu muncul? Seperti air bah yang tiba-tiba menyerbu. *mikir keras*. Dan setelah kita telususri, ternyata di atas sana ada sebuah perusahaan yang berhubungan dengan air gitu. Kata gugel, ada perusahaan yang membuat bendungan air, yang sesekali bendungannya di buka dengan jadwal yang tidak jelas. Hm, pantas saja di setiap Tad itu ada peringatan, bahwa kalau mau mandi di sana harus hati-hati dan memperhatikan arus sungai. Pertanyaan selanjutnya, itu bendungan buat apa ya? Apa ada hubungannya dengan perusahaan raksasan yang bertuliskan “Hidropower Plant” *mikir sambil searching lagi*
tanah yang gersang menuju Tad yang terakhir
 Puas dengan terapi jantung dadakan, saya dan si kawan melanjutkan perjalan melalu jalan yang sebenernya. Dan itu hanya sebentar, karena jiwa “salah arah” kembali. Dan si kawan hampir saja menyerah, karena kita kehilangan jalan utama. Kita tersesat ke kebun singkong, lanjut kebun semangka yang baru di tanam, dan lahan yang gersang. Di tengah-tengah pencarian jalan utama, kita melihat air terjun tinggi. Yuhuu..!! itu dia Tad Son. Tapi gan, ternyata perjalanan masih jauh. Butuh waktu setengah jam perjalanan lagi untuk mencapai Tad Son, melewati sungai, dan gongongan anjing dan melihat babi berkeliaran kayak kucing. 

Desa terakhir sebelum Tad Son, babi-babi semakin banyak berkeliaran. Dan tetiba ada bapak-bapak yang menemani perjalanan kita dan ngajak bicara pakai bahasa Laos. Kita? Hanya bisa cengok tak berdaya. Hanya bisa menggelengkan kepala dan menggarukkan kepala tidak mengerti dan berharap si bapak mengerti bahwa saya dan si kawan bukan orang Laos dan tidak mengerti. tapi, si bapak keukeuh, tetap ngajak bicara. Gaya bicara orang Laos ini seolah-olah mereka ngomel ini dan itu, marah-marah. Tapi saya yakin bukan begitu maksudnya. Hehe..meskipun gak ngerti mereka berbicara tentang apa. 

Sampai di Tad Son, saya kembali menggarukkan kepala. Yoi, masih sama dengan Tad sebelumnya. Hanya saja si bule barat yang ditemukan kemarin itu benar. Yoi, Tad ini tad tertinggi dari 2 tad sebelumnya. Meskipun masih sama buteknya, tapi kita berhasil di buat terdiam, duduk manis di atas batu besar menikmati jatuhan air itu dan mengamati kegiatan para bocah-bocah lokal yang dengan riang mencari ikan meskipun seringkali hanya menangkap udara. 
ini Tad Son

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Waktunya beranjak, kembali ke tempat penginapan. Dan kali ini kita benar-benar menyerah. Kembali ke jalan yang benar, jalan utama *niatnya*. Karena takut kesasar lagi, sambil berharap ada kendaraan yang bisa kita tumpangi menuju penginapan. Berjalan di aspal dengan matahari yang sedang bergembira, membuat fatamorgana yang waww..!! dan harapan kendaraan lewat, memang sekedar harapan. Mulai lelah dengan panasnya jalanan tanpa manusia itu, di satu persimpangan, jalan lurus yang telah kita ambil kembali berbelok, memasuki hutan. Dan lagi-lagi tersesat, kehilangan jalan setapak dan arah. Hahaiiii...!! tapi boy, sekali melangkah, pantang mundur. Dengan keyakinan, terus berjalan, dan eng ing ong..!! akhirnya kita bisa keluar dari hutan bambu itu, dan kamu tau apa yang terjadi? Kita hanya menambah jarak. Karena kita keluar di jalan raya yang gak jauh dari jalan raya tempat kita masuk hutan. Wkakakkkk... tapi syukurlah, kita kembali menemukan jalan yang benar. Lalu dengan kecepatan yang mulai gontai, akhirnya, selamat datang di penginapan, dan hei kasur..!! aku sungguh merindukanmu. 

senja di depan kamar
Next!
langkah 12

You Might Also Like

0 komentar: