Manfaatkan waktu, kemon keliling Kediri..!!

14.31 ipeh the pooh 0 Comments

Jam 3 sore. Waktunya untuk meninggalkan si rumah bungsu menuju Kediri. Kota dimana akan bertemu dengan seorang teman yang baik hati, yang siap menemani mengelilingi kediri dengan waktu yang super mepet. Karena bersikeras untuk menginjakkan kaki di Kediri.


Yyaakk..!! perjalanan ke Kediri menggunakan bus yang istimewa, dimana supirnya memang sudah ahli dalam membawa bodi gede nyalip sana, nyalip sini. Gak ngaruh siapa yang ada didalam bus atau gimana jalanannya. Yang penting jalan terus..!! sekitar 2 jam perjalanan diiringi dengan cerita panjang lebar [cerita lagi?]. korban kali ini si kijang tiga. Yoi, kijang tiga ikut serta ke Kediri dengan alasan kerjaan dan segala yang berhubungan dengan kerjaannya. Jadi saya tidak sendiri. Kita berpisah di terminal baru Kediri. Saya menunggu seorang teman yang sudah siap menemani saya dalam menikmati malam di Kediri, sedangkan si kijang dua melanjutkan perjalanan menuju kosan entah siapa. 

Sebelum ke Kediri, sampat membaca tempat wisata dan nongkrong yang asik di Kediri. Salah satunya adalah simpang lima gumul. Penasaran kenapa simpang lima gumul menjadi icon yang wajib di datangi ketika kamu ke Kediri? Yoi..!! saya juga begitu. Jadilah, si teman dan si kijang tiga dan kijang empat yang memang kerja di Kediri menjadi korban, harus menemani saya menikmati simpang lima gumul. Hehe..!! 

simpang lima gumul
Jadi simpang lima gumul itu, batu di tengah-tengah simpang lima. Mendengar dari sejarahnya, kata si teman yang asli Kediri, gak ada sejarahnya. Mungkin lampu yang temaram, hamparan rumput yang oke buat nongkrong menjadi daya tariknya. Yoi, itu menjadi tempat menarik kalau kamu hobi nongkrong tidak jelas. Tapi menjadi tempat yang tidak jelas bagi kamu yang tidak suka menghabiskan waktu dengan hanya ngobrol mengamati lalu lalang jalanan. Hm, tapi sayang, disana gak ada yang jual kopi khas lapangan terbuka. Kopi yang di seduh di gelas aqua. Huehehe..

Hampir satu jam ngobrol sana sini, akhirnya kita bosan dan lapar. Jadilah kita mencari makan. Dan pilihan jatuh ke soto [makan soto untuk hari kedua selama di Jawa Timur]. Perut kenyang, tapi bahan obrolan masih mengalir deras, jadi kita adalah pengunjung yang paling lama menempati tempat itu. Dari kosong, ramai dan menjadi kosong lagi. *kebiasaan lama yang gak berubah*.

Jam 11 malam. Waktunya pulang ke rumah. Mungkin ini perbedaannya. Jam 11 di Kediri sudah begitu malam jika dibandingkan dengan kota bogor atau Jakarta. Bahkan tidak jarang jam 11 malam baru akan keluar mencari makan. Ckckckckckkk...

Sesampainya di rumah si teman, di suguhkan kasur dan bantal, siapa yang tak tergiur. Lalu? Selamat tidur..!! tapi itu hanya ucapan. Iya..!! berbagi bantal dengan si kijang empat hany memperpanjang cerita yang entah kenapa selalu ada. Ya begitulah kita lalui malam itu sampai jam 1 malam. Sampai saya benar-benar sudah tak menyahut lagi ketika si kijang empat masih sedikit berceloteh. 

Jam 6 pagi hari berikutnya. Saya terbangun dengan mata yang masih sayup. Masih ingin tidur. Tapi sungguh sayang sekali jika hari ini, hari terakhir perjalanan hanya dihabiskan dengan tidur. Markiap..!! mari kita siap-siap..!! jam 7 pagi, waktunya sarapan. Si ibu teman sudah menyiapkan sarapan dan taraanngg..!! kita makan soto [lagi] di hari ketiga. Wakakakkkkk...!!

Setelah sarapan, markigo..!! mari kita go..!! mengelilingi Kediri sesempatnya, karena waktu yang sangat terbatas. Yoi..!! jam 1 siang, saya harus sudah sampai di stasiun Kediri untuk kembali ke kota hujan dengan seabrek cerita. ^^v

Goa selomangleng
Setelah simpang lima Gumul dan jalan Doho, yang katanya malioboronya Kediri, tapi gak ada mirip-miripnya sama Malioboro. Si kereta kuda dari besi membawa saya ke Goa Selomangleng. Goa yang aroma menyannya sangat terasa. Katanya banyak yang nyari wangsit. Karena saya gak suka wangsit, sukanya pangsit, jadi tidak begitu tertarik dengan berlama-lama di goa itu. Si teman bercerita, kalau dahulu kala di Kediri ada si pencuri yang baik hati. Mungkin kayak Zorro gitu. Mencuri harta orang kaya, kemudian di bagi-bagi ke orang miskin. Nah, konon katanya si zorro yang bernama –saya lupa siapa- ini punya kesaktian yang gak bisa mati. Kelemahannya biar si zorro ini benar-benar mati adalah memisahkan bagian-bagian tubuhnya, sebagian di Timur, dan sebagian di Barat. Dan kepalanya? Ada di goa Selomangleng ini. Ada di bukit atas goa. Niat hati sih mau melihat kuburannya yang mungkin penuh dengan menyan dan sesajen. Tapi apa daya, kuburannya terlalu jauh untuk di gapai. Perlu berjalan beberapa jam dari si Goa. Akhirnya, kita memutuskan untuk belok arah. 

klenteng -saya lupa namanya-
Masih di kota Kediri, saya dibawa si teman untuk mengunjungi Klenteng yang ada di Kediri. Melihat si Dewi Kwan Im berdiri dengan anggun. Penasaran dengan siapa sebenarnya si Dewi Kwan Im ini, maka saya berlayar ke wikipedia. Ternyata eh ternyata, menurut wikipedia ini, Dewi Kwan Im ini adalah sesosok dewa yang sebelumnya berwujud pria. Dewa ini dewa yang Welas asih. Sangat penyayang dan tulus.  Identik dengan Buddha Avalokitesvara yang artinya “mendengarkan suara penderitaan”. Nah, wujud dari Dewi Kwan Im menjadi sesosok wanita yang anggun terlihat jelas pada dinasti Yuan. Konon katanya, ini permintaan Dewi Kwan Im sendiri, untuk dapat melindungi kaum hawa yang lembut dan penyayang.   
Dewi Kwan Im bermandikan matahari
Pantas saja, di sekitar patung Dewi Kwan Im ini berdiri, ada gambar-gambar orang-orang yang minta tolong. Tapi yang jadi pertanyaan adalah Dewi ini membawa tongkat yang berkepala ular. Untuk apa kira-kira? Saya juga tidak tau. Belum menemukan ceritanya di wikipedia.  Hal yang menarik itu ketika di Klenteng ini adalah melihat banyak lampion yang bergantungan. Entahlah, saya begitu menyenangi lampion. Apalagi bercahaya di langit yang gelap. menjadi begitu romantis..!! 

Puas dengan Dewi Kwan Im, perjalanan dilanjutkan ke gereja tertua di Jawa Timur.   Beruntunglah kamu jika jalan-jalan lengkap dengan guidenya. Apa aja dari setiap sudut kota akan di ceritakan. Begitu juga dengan cerita gereja merah ini.
Gereja Merah, langitnya keren ya? *salah fokus*
Gereja Merah ini memang berwarna merah, tapi dahulu kala si Gereja ini berwarna putih. Nah, ketika ada pemugaran, si Gereja sengaja di cat berwarna merah bata, katanya biar lebih hemat dalam pemeliharaannya dan tidak cepat kotor [sumber: guide+Wikipedia]. Katanya lagi, gereja ini dibangun oleh pastur yang didatangkan dari Belanda untuk menyebar agama Kristen Protestan, Bapak Broers pada tahun 1901. Dan disana ada kitab Injil terbitan tahun 1867. Sayang, kemarin Gerejanya di tutup. Jadi belum bisa masuk menikmati arsitektur jaman dulu yang mengkolaborasikan gaya Jawa dan Eropa. 

Jalan mengelilingi tempat-tempat itu, tidak sekali mata melihat bundaran yang di kenal dengan taman Sekartadji. Si teman mengatakan bahwa tempat itu lebih baik tidak di datangi. Pasti dong, secara reflek bertanya “kenapa?”. Si teman menjawab, karena di sana banyak hal-hal yang tidak baik. Lanjut bertanya “maksudnya apa?”. Ternyata eh ternyata, gak beda dari tempat-tempat yang ada. Yuhuu...!! taman Sekartadji adalah taman seperti taman yang biasa, yang seharusnya oke banget buat nongkrong atau hanya sekedar melepas lelah dari rutinitas,menikmati angin dan bau alam. Tapi, ya begitulah. Emang dasar manusia-manusia yang tidak tau diri, tempat yang nyaman begitu, di alihfungsikan menjadi tempat yang “aneh-aneh”. Jadi, kalau main kesana di malam hari, akan banyak hal-hal ajaib grasak grusuk yang gak sengaja kita temui. Daripada saling terganggu, jadi sang teman menyarankan untuk urungkan saja niat itu. *Cuma bisa garuk-garuk kepala*

Sebelum kaki benar-benar meninggalkan Kediri, setelah makan bakso yang nikmat. Kita ke kondangan..!! gak kebayang, ke kondangan dengan celana jins, kaos, dan tas ransel lumayan gede. Huahahah...jadi, daripada merasa seperti alien di tengah lautan manusia-manusia manis, maka saya memilih duduk manis di luar. Menemani ibu yang sedang jualan jus yang punya anak 3 sedang bersekolah. Dan paling tua kelas 2 SMA, tertarik nanya ini dan itu tentang kuliah saya dimana dan ngapain. 

Jam 1 siang. Sudah waktunya bergerak, memasuki kereta yang akan membelah jalanan menuju Jakarta. Say good bye dagh dagh dengan si teman baik hati yang sudah rela di repotkan oleh saya yang sedikit tidak tau malu. Numpang tidur, numpang makan, plus di bekali oleh-oleh yang lumayan seabrek. Gimana saya gak senang coba *eh*. 

Jadi mikir lagi, punya banyak teman itu menyenangkan, dan menjaga silaturahmi itu gak ada ruginya. Apalagi tersebar di segala penjuru daerah di Indonesia bahkan dunia. Heii...!!! bisa jalan-jalan paket hemat nih. ^^v. Teringat kata seorang teman, ada waktunya kita merepotkan orang lain. Tapi akan tiba masanya juga, kita akan menjadi si tuan rumah. So? Enjoy this journey.. ^^

perjalanan panjang menikmati hijaunya sawah dan langit biru yang bermandikan cahaya kuning matahari, akan segera dimulai. 

*tobecont*

You Might Also Like

0 komentar: