The Little Prince: Buku Wajib Orang Tua

19.06 ipeh the pooh 0 Comments

Bulan September lalu, saya mengunjungi rumah WWF di Rimbang Baling. Sambil menunggu waktu, saya melihat-lihat rumah itu. Ketika sampai di lantai dua, mata saya tertuju pada sebuah majalah tentang lingkungan. Sayangnya, saya lupa nama majalahnya, cuma ada satu paragraf yang saya ingat dan berhasil menarik perhatian saya. Paragraf itu menceritakan tentang konsep belajar anak-anak yang seharusnya kembali ke alam, seperti dalam buku The Little Prince karya Antonie de Saint Exupery. Nah, masalahnya cerita buku itu hanya sebatas itu, dan akhirnya membuat saya bertanya-tanya tentang isi buku itu. Ternyata, buku The Little Prince termasuk buku lama dan sudah termasuk langka, jadi untuk mendapatkannya di toko buku ternyata cukup sulit.

Karena penasaran dengan buku itu, maka saya mencari buku elektroniknya (e-book) yang bisa diakses melalui jaringan internet, tapi kelemahan saya adalah gak suka baca dari layar. hehe! Jadi, satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa penasaran itu adalah mengunjungi perpustakaan!. Bagi saya, perpustakaan itu adalah arena 'bermain' yang menyenangkan, karena saya bisa pergi bermain ke dunia dalam buku selama yang saya mau, tanpa harus menunggu membeli buku itu.

Suasana Perpusatakaan Wilayah Soeman HS Pekanbaru.
Iya! seperti yang saya lakukan dengan buku fabel  The Littel Prince itu. Saya mengunjungi perpustakaan Soeman HS yang terletak di jalan Cut Nyak Dien, Kota Pekanbaru. Dan ternyata, bahagia itu sesederhana menemukan buku yang dicari di deretan buku-buku yang ada. Sempat mau nyerah juga sih, karena sudah satu jam mencari dalam deratan buku-buku fiksi tapi belum menemukannya. Ternyata, dari tujuh buah buku yang tersedia hanya tinggal satu, dan tersembunyi dibalik buku-buku yang lain. Tapi, yataaa! akhirnya, saya bisa berpetualang bersama pangeran kecil ini di dalam dunia The Little Prince.

Buku The Little Prince

Buku The Little Prince menceritakan tentang seorang tokoh "aku" yang bertemu dengan pangeran kecil di sebuah gurun yang jauh dari tempat tinggal si "aku" dan pangeran kecil. "Aku" terdampar di sebuah gurun pasir ketika sedang terbang bersama pesawatnya menuju planet lain.  Akhirnya, tokoh "aku" dan pangeran kecil berteman. "Aku " dengan setia mendengar cerita dan pengalaman pengeran kecil selama ia bertualang mengunjungi planet-planet lain.   Dan pangeran kecil menceritakan bahwa perjalanan terpanjangnya adalah ketika ia menjelajahi bumi.
Seru membaca buku The Little Prince
Mengikuti cerita tokoh-tokoh tersebut, berhasil membawa saya kembali  ke dunia anak yang hampir tidak kita temukan saat ini. Anak-anak yang bebas berimajinasi dan memiliki keingintahuan yang kuat. Orang-orang dewasa secara tidak sengaja membunuh karakter, imajinasi dan keingintahuannya. Orang-orang dewasa mulai mendikte anak-anak agar bisa ini dan bisa itu tanpa berkompromi dengan si anak. Seperti yang tertulis dalam buku itu dalam bab awal :

"Para orang dewasa kemudian menasihatiku agar aku menyerah dan tak menggambar ular boa lagi, baik tampak luar maupun tampak dalam, dan alih-alih menggambar aku sebaiknya menggunakan waktuku untuk belajar geografi, sejarah, aritmatika dan tata bahasa"

Percaya atau tidak, ternyata hal sederhana yang tidak sengaja yang dilakukan oleh orang dewasa itu benar-benar berhasil membunuh daya imajinasi dan kreatif anak-anak. pada akhirnya, saat dewasa terjadi penyamarataan akan sesuatu. Iya, seperti yang terjadi pada tokoh "aku" mimpi menjadi seorang pelukis hilang hanya karena orang dewasa tidak mengerti dengan apa yang dia gambar.

Beruntungnya, tokoh "aku" dapat bertemu dengan pangeran kecil yang mengerti dengan keadaan tokoh "aku. Ketika pertama kali bertemu, pangeran kecil meminta tokoh aku untuk membuat gambar biri-biri. Dan ternyata, bukan gambar biri-biri sebagaimana biri-biri pada umumnya, tapi hanya gambar sebuah kotak kecil yang kemudian menjadi gambar yang mengawali persahabatan antara "aku" dan pangeran kecil. Dari gambar kotak kecil itulah, pangeran kecil mulai bercerita pada tokoh "aku" tentang petualangannya, dan betapa besar rasa ingintahunya.

Pangeran kecil, benar-benar menggambarkan seseorang yang terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika bertemu dengan sesuatu. Petualangan pangeran kecil juga berhasil mendekatkan kita kembali pada alam, seperti mengenal kembali bagaimana tanaman dapat tumbuh atau hanya sekedar mengingat lagi fungsi duri pada tanaman, yang kadang kita sebagai orang dewasa tidak peduli dengan hal-hal kecil seperti itu.

Tidak hanya itu, tapi petualangan pangeran kecil menjelajahi planet-planet lain itu juga mengajarkan tentang kebijaksanaan dalam menghadapi sesuatu, seperti kekuasaan dan kekayaan. 

"Kekuasaan yang utama bersandar pada sesuatu yang masuk akal"

Atau pertanyaan sederhana pangeran kecil yang berhasil membuat kita kembali bertanya hal yang serupa,

"Dan apa gunanya bagimu memiliki bintang-bintang itu? 
            Gunanya untuk membuatku kaya. 
Dan Apa gunanya jadi kaya?
           Untuk membeli lebih banyak bintang"

Jujur saja, membaca pertanyaan dari pangeran kecil itu, benar-benar membuat saya kembali bertanya pada diri sendiri? Apa gunanya kaya? Toh, ternyata harta kekayaan tidak memberikan kita apa-apa selain kepuasan yang tidak pernah puas. Apakah kita sudi menjadi manusia yang terus menerus mencari kekayaan tanpa tau gunanya apa?

Pangeran kecil, dengan petualangannya masih mengingatkan saya untuk menjadi manusia, menjadi seorang dewasa yang bijaksana. Karena manusia yang suka lupa. Manusia selalu menuntut atas apa yang dilihatnya. padahal ada sesuatu yang lebih berharga yang tidak hanya bisa dilihat dengan mata.

"Manusia tak lagi punya waktu untuk memahami segala hal. Mereka membeli segala barang yang sudah jadi di toko. tetapi tak ada toko yang menjual teman. Maka manusia tak lagi punya teman"

Kalimat itu berhasil memukul telak kita sebagai manusia yang terlalu sibuk dengan dunia, kekuasaan dan kekayaan. Padahal ada sesuatu yag tidak bisa kita beli dengan uang, ada sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan dengan kekuasaan, yaitu hubungan tulus seorang teman. Zaman yang semakin modern dengan teknologi yang canggih sering membuat kita lupa bahwa kita masih butuh teman. Kita lupa caranya bersosialisasi. Kita hanya fokus pada apa yang kita cari, sayangnya sebagai orang dewasa kita juga tidak taua apa yang kita cari.

"Hanya anak-anak yang tahu apa yang mereka cari. 
Beruntunglah anak-anak"

Ternyata sikap orang dewasa yang dengan tidak sengaja itu, yang pelan-pelan tapi pasti membunuh karakter anak-anak ternyata berhasil membuat anak-anak tumbuh dewasa dengan hal yang tidak mereka ketahui. Mereka kehilangan arah, mereka buta. mereka hanya bisa melihat dengan mata. kadang, mata kita buta, tidak melihat apa yang tidak terlihat.

"Tetapi mata memang buta. Orang harus melihat dengan hati"

Parahnya, melihat dengan hati itu mulai terkikis sejak kita anak-anak.

Buku The Little Prince memang bernuansa anak-anak, tetapi sesungguhnya buku ini ditujukan untuk seorang dewasa yang pernah menjadi anak-anak, agar tidak melakukan kesalahan yang sama untuk mendidik anak-anak.  Buku ini memang buku yang ditulis sejak tahun 1943, tetapi sesungguhnya buku ini sangat memberikan informasi untuk kita, sebagai orang dewasa untuk masa depan, agar tidak melakukan kesalahan yang sama membunuh karakter pada anak-anak. Buku ini memang ditulis oleh seorang penulis asal Prancis, tetapi sesungguhnya cerita dan latar belakang yang diangkat hampir mewakili hubungan yang terjadi di dunia anak-anak dan orang dewasa, agar nanti kita benar-benar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Hanya dengan membaca buku, kita mendapatkan informasi apa yang terjadi dimasa lalu, masa sekarang dan bagaimana dengan masa depan. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi dengan membaca buku kita bisa mendapatkan informasi yang menjadi pelajaran berharga agar kita dapat memperbaiki masa depan.

Membaca buku, tidak harus membeli. Tapi membacanya di perpustakaan terdekat di kotamu juga bisa. Hehe!

Selamat membaca!

Pekanbaru,
15 desember 2016

You Might Also Like

0 komentar: