Bloom and Grow Forever!

00.13 ipeh the pooh 0 Comments

Lihatlah bunga disana bersemi
Mekar, meski tak sempat kau semai
Dan suatu hari, badai menghampiri
Kau cari kemana, dia masih disana
Walau tak semua tanya datang beserta jawaban
Dan tak semua harapan terpenuhi
Ketika bicara sesulit diam,
Utarakan, utarakan, utarakan!
[Banda Neira-Utarakan]

Penggalan lirik ini mengingatkan gue pada serumpun bunga yang tumbuh di atas ketinggian sana. Meski hujan badai, dia masih disana. Tetap tumbuh dan memberikan keindahan. Bunga apalagi selain bunga abadi, Edelweis!
Edelweis di tegal alun, papandayan 2014
Eh, udah ada belum ya yang meneliti tentang budidaya bunga ini, secara bunga edelweis ini sudah masuk kategori terancam dalam data Red List IUCN (IUCN RedList, 2008). *IUCN [International Union for Conservation of Nature] atau biasa dikenal World Conservation Union merupakan lembaga konservasi sumber daya alam dunia yang berdidiri pada tahun 1948 dan berpusat di Switzerland.

Ya iyalah bunga ini masuk dalam kategori terancam, pada tahun 1990 aja udah tercatat 636 tangkai dicuri setiap tahun di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Pada tahun 2012 dilakukan pengukuran ulang oleh Pengendali Ekosistem Hutan TNGP, ternyata terjadi degradasi luas areal edelweis di alun-alun kencana yang tadinya 51 ha menjadi 30 ha.

Penasaran gak sih siapa yang pertama kali menemukan bunga edelweis. Kenapa edelweis itu disebut bunga abadi? Emang bedanya dengan bunga-bunga yang lain apa? Bisa gak ya edelweis ini di tanam di halaman rumah? Kan kalau bisa, gak perlu harus mendaki gunung lewati lembah dulu biar bisa menikmati mekarnya si bunga, tinggal nongkrong aja di halaman rumah sambil minum segelas kopi susu dan ngemil pisang goreng. Huehehe!

Setelah berguru pada om wiki dan membaca beberapa jurnal orang via om gugel, gue menemukan fakta bahwa di Indonesia orang yang pertama kali menemukan bunga edelweis adalah  Prof. Caspar Georg Karl Reindwart pada tahun 1819 di tebing gunung Gede. Tapi edelweis yang ditemukan itu berbeda dengan edelweis di pegunungan alpen dan wilayah Eropa lainnya. Kok bisa? Ternyata eh ternyata memang ada dua jenis edelweiss yang terkenal yaitu Leontopodium alpin dan Anaphalis javanica. Kedua bunga itu berasal dari keluarga yang sama yaitu Asteraceae tapi genus yang berbeda. Jadi meskipun sama-sama Edelweis, tapi penampakannya berbeda. Nah, edelweis yang sering ditemui di gunung-gunung Indonesia itu ternyata jenis Anaphalis javanica yang berada di ketinggian 2000-3000 mdpl, sedangkan Leontopodium alpin merupakan edelweis yang berjejer rapi di pegunungan Alpen  (Eropa), Asia (Himalaya, Jepang dan China) yadan Amerika Latin yang tingginya lebih dari 3400 mdpl. Kata Edelweis sendiri berasal dari bahasa Jerman, Edel dan Weis. Edel berarti mulia sedangkan Weis berarti putih.

Edelweis sering dibilang sebagai bunga abadi atau yang lebih kece dikit everlasting flower karena konon ceritanya bisa bertahan sampai 100 tahun dalam keadaan kering dan bentuknya gak berubah. Ingat! dalam keadaan kering, bukan dalam keadaan segar.  Berbeda dengan bunga-bunga lain yang juga bisa dikeringkan tetapi masih bisa rontok dalam hitungan bulan atau bentuknya udah jadi dua dimensi.  Itu loh, seni oshibana dari Jepang kan pake bunga kering juga yang dibentuk dalam dua dimensi dan bisa bertahan lebih lama juga. Tau gak, fakta lain yang guet temukan ternyata bunga yang bisa bertahan lama itu cuma kelopaknya aja karena serbuk sari yang berwarna kuning yang berada ditengah-tengah bunga akan rontok tiga hari setelah mekar. Loh kok bisa kelopaknya bisa gak rontok gitu? Usut punya usut, edelweis ini punya hormon etilen yang lebih banyak dari bunga lainnya yang dapat menghambat hormon lain untuk mengugurkan bunga. Edelweis mulai berbunga antara April dan Agustus. Makanya bulan Agustus itu menjadi bulan yang sakral bagi para pendaki, selain untuk mengibarkan kain berwarna merah putih juga sebagai moment untuk dapat menikmati harumnya wangi bunga edelweis yang sedang mekar.

Kenapa harus edelweis yang menjadi primadona? Padahal masih banyak tanaman-tanaman yang gak kalah kece di deretan gunung Indonesia. Kenapa orang-orang melambangkan keabadian cinta pake bunga ini. Kenapa? hayo, kenapa? *hidup gue penuh dengan pertanyaan kenapa ye? wkwkwwkwkkkk!

Ternyata karena edelweis memang bunga yang spesial. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor di tanah vulkanik muda di daerah pegunungan yang tandus, banyak batu, miskin unsur hara, suhu yang ekstrim, dengan kondisi lingkungan yang banyak sulfur, angin badai bahkan ketika hujan es sekalipun edelweis masih bisa bertahan untuk hidup memberikan bunga-bunga yang ciamik yang suka dipetikin sembarangan oleh para yang suka ngaku pecinta alam. Canggih gak tuh, edelweis masih bisa tumbuh di lingkungan yang ekstrim dan mencekam gitu. Menurut Brundrett dan teman-temannya (1996) edelweis ini tumbuh dengan cara bersimbiosis mutualisme dengan mikoriza. Mikoriza itu sejenis jamur non patogen yang berfungsi untuk mengikat nitrogen dan fosfor yang berguna sebagai agen pupuk biologi yang dapat memperbaiki struktur tanah. Mikoriza mendapatkan makanan dari edelweis dan edelweis mendapatkan nutrisi dan hara dari mikoriza. Seperti hubungan aku dan kamu. iya kamu! *kamu yang masih entah dimana. huahahaha!

Edelweis tidak hidup sendiri tapi berumpun, tingginya bisa mencapai 4 m dan punya banyak cabang. Kata Van Leeuwen (1993) batang edelweis sering ditumbuhi lumut karena sifat batang edelweis yang berongga dan ditutupi kulit tebal yang membuat batangnya sedikit lembab. Tujuannya memang untuk menyimpan air pada batang karena kondisi lingkungan yang ekstrim yang cuma mengandalkan air hujan dan kabut.
Alun-alun surya kencana, 2013
Tidak hanya batang yang beradaptasi dengan keadaan ekstrim itu, tapi daun-daun edelweis juga melakukan adaptasi dengan kondisi lingkungan tumbuhnya. Daun edelweis diselimuti oleh bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan dan berbentuk lancip hampir mirip jarum. Fungsi bulu-bulu tersebut untuk menangkap cahaya matahari secara optimal sehingga dapat digunakan untuk kegiatan fotosintesis. Hal ini karena di puncak gunung tersebut sering datang kabut tipis yang turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi, kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin *eh, kenapa jadi berpuisi? Plaaakkkk!
Rumpunan edelweis di lembah mandalawangi 2014
Bentuk daun yang lancip berfungsi untuk mengurangi transpirasi atau penguapan air dari daun yang berlebihan sehingga kebutuhan air tetap dapat dipenuhi meskipun ketersediaannya terbatas. Satu lagi, daun yang imut-imut gitu juga berfungsi untuk menahan terjangan angin badai yang sering menyapa gunung sehingga edelweis masih bisa berdiri dengan kokoh dan tak tergoyahkan. Warna daun edelweis hijau muda keabu-abuan dan akan menjadi lebih gelap seiring bertambahnya umur tumbuhan karena adanya degradasi sel mesofil akibat terkena paparan sinar matahari yang lebih lama.

Kenapa edelweis termasuk kedalam kategori tanaman langka yang masuk dalam daftar terancam dan harus di lindungi? Padahal di gunung Gede aja luas lahan yang penuh dengan edelweis ini mencapai 51 ha dan tinggal 30 ha di tahun 2012. 30 ha loh! itu bukan luas yang sedikit untuk kategori kebun bunga. dan itu juga baru satu gunung. Indonesia kan punya banyak gunung. Jadi kenapa edelweis masih temasuk tanaman langka?

Luasnya sih memang masih cukup luas, tapi kemampuannya untuk berbunga dan tumbuh itu loh yang rada lama. Dari data penelitian Van Leeuwen ternyata edelweis membutuhkan waktu paling cepat 5 tahun untuk dapat berbunga dan untuk mencapai ketinggian 20 cm edelweis membutuhkan waktu tidak kurang dari 13 tahun. Edelweis berkembang biak melalui biji yang jatuh dibawa angin. Jika lokasinya pas dengan kebutuhan si biji maka tumbuhan edelweis akan tumbuh, dan 5 tahun kemudian baru akan berbunga dengan ketinggian yang gak bakal lebih dari 20 cm. Biji itu gak bisa tumbuh kalau tempatnya banyak naungan pohon-pohon. Nah, bayangkan gimana ceritanya kalau bunga-bunga itu dipetikin dan dibawa pulang? Ya biji gak bakal terbentuk dong! kan bunganya dibawa turun. Gak ada biji jadi jangan harap edelweis bakal terus ada. Emang sih, sekarang sudah mulai ada yang melakukan penelitian melalui stek batang edelweis. dan hasilnya tetap aja belum ketemu yang pas. Daya tumbuh dari stek batang itu gak lebih dari 40% dalam waktu 16 minggu! Itu baru sampai berakar dan belum stabil. Jadi memang gak ada cara sih untuk melindungi edelweis selain terus mencari cara budidaya yang pas agar edelweis bisa tumbuh dengan baik dan menjaga edelweis yang sudah ada.

Percaya atau gak, edelweis adalah contoh tumbuhan yang baik. Karena edelweis memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem. Edelweis merupakan tanaman pionir untuk suksesi lahan. Ingat kan ya, kalau edelweis ini adalah tumbuhan yang dapat tumbuh di kondisi unsur hara yang miskin banget. Nah, edelweis ini sebagai tumbuhan pembuka di lahan-lahan yang ekstrim itu. Maksudnya setelah edelweis tumbuh, maka tumbuhan lain juga dapat tumbuh karena unsur hara yang sudah tersedia karena kerjasama edelweis dan mikoriza, dan selanjutnya tumbuhan edelweis akan hilang karena perkembangannya terhambat. Edelweis suka dengan paparan matahari yang full, jadi kalau udah banyak pohon, maka edelweis akan mati. Selain sebagai suksesi, edelweis juga sangat membantu dalm mencegah erosi di lereng-lereng gunung karena sifat tanamannya yang perdu sehingga dapat membatu menutupi tanah. Makanya edelweis itu cuma bisa ditemui di tempat-tempat yang udah gak ada tumbuhan lagi selain edelweis, seperti di tebing-tebing jurang atau di hamparan luas sebelum puncak-puncak gunung. FYI, bunga edelweis ini menjadi lambang kesucian di Switzerland karena latar belakangnya.


Jadi, keliatan kan ya kenapa edelweis itu begitu spesial, seperti kamu, *eh, laper!.

Iya! Edelweis itu mengajarkan banyak arti hidup. Kesederhanaan! Edelweis hidup dengan sederhana tanpa harus mengeluh ini dan itu. Edelweis itu gak manja. Edelweis hidup dengan menerima dan terus tumbuh memberikan keindahan. Edelweis  gak pernah ambil pusing dan mengutuk takdir yang menempatkannya pada kondisi yang parah gak menduknung gitu, miskin unsur hara, berbatu, dingin, hujan badai, atau panas terik sekalipun, yang gue tau edelweis tetap disana berbunga. Edelweis gak pernah marah dengan tangan-tangan jail yang ngakunya cinta tapi malah merusak. Edelweis masih tetap kalem, dan lagi-lagi masih terus berbunga.  Edelweis mengajarkan gue untuk melakukan usaha yang sangat keras dan terus beradaptasi untuk dapat bertahan hidup meskipun lingkungan tumbuhnya tidak mendukung. Ah, edelweis! gue malu sebagai manusia hidup kok manja banget. Padahal kalau dipikir-pikir lingkungan hidup gue gak separah lingkungan edelweis. Kalau edelweis bisa ngomong, mungkin edelweis bakal bilang ini kali ya, "Bloom and Grow Forever!".

Cuma itu kok.
"Bloom and Grow Forever!"

Sederhanakan?

Pekanbaru,
31 Agustus 2016


*catatan referensi:
1. Aliadi, A., et al., 1990. Kemungkinan penangkaran edelweis (Anaphalis javanica) dengan stek batang. Media Konservasi. 3(1):37
2. IUCN Red List. 2008
3. Van Leeuwen W.M.D., 1993. Biologyof plants and animals occuring in the higher parts of mount Pangrango-Gede in West Java. Uitgave van de N.V. Noord Hollandsche. Amsterdam
4. Brundrett, M., Bougher, N., Dell, B., Grove, T. and Malajczuk, N., 1996, Working with Mycorrhizas in Forestry and Agriculture. ACIAR, Canberra.

You Might Also Like

0 komentar: